Hari Pendidikan dan Kesadaran Kasta: Mencari Letak Jati Diri

oleh -1134 Dilihat
banner 468x60

Hari itu, saya bukan hanya sedang mengajar seni budaya di sebuah kelas, tetapi juga sedang berhadapan dengan satu dari sekian banyak pertanyaan mendasar yang terus bergema dalam dunia pendidikan: untuk apa kita bersekolah, jika pada akhirnya yang dianggap berhasil adalah mereka yang memiliki banyak harta kekayaan? Aldiano, seorang siswa saya, menyuarakan kegelisahan yang sesungguhnya dimiliki banyak anak muda hari ini. Dengan keberanian khas remaja yang belum terpolusi penuh oleh konformitas sosial, ia bertanya, mengapa guru yang ilmunya tinggi tidak hidup sekaya para selebriti dan pengusaha?

Pertanyaan itu, yang dalam struktur masyarakat modern tampak banal, sejatinya menyentuh lapisan terdalam dari persoalan nilai, identitas, dan jati diri bangsa. Di sinilah saya mulai membawa kelas ke dalam ruang kontemplasi budaya, bukan sekadar untuk menjawab keingintahuan Aldiano, tetapi untuk menggugah kesadaran tentang siapa kita dalam lanskap peradaban yang kian kehilangan arah dalam mengukur makna hidup dan keberhasilan.

Saya jelaskan kepada mereka tentang sistem kasta pada awal peradaban—brahmana, ksatria, waisya, dan sudra—bukan sebagai legitimasi diskriminasi sosial, melainkan sebagai lensa metaforis untuk membaca kesadaran manusia. Di masa ketika sistem ini lahir, kasta bukanlah warisan darah, tapi pencerminan dari tingkat kesadaran spiritual dan sosial. Seorang sudra bukan karena miskin, melainkan karena sejak bangun tidur dan tidur lagi, hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Seorang waisya bukan karena mereka berdagang, tetapi karena pikirannya hanya memikirkan kepentingan kelompok dan keluarganya. Seorang ksatria mengabdi untuk kemaslahatan masyarakat dan keadilan sosial bagi rakyatnya. Sedangkan seorang brahmana—guru, akademisi, dan pengajar, pendeta, ulama—sejatinya mereka hanya menghidupi kehidupan demi pengabdian pada ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, tanpa ambisi kekayaan, jabatan, dan kekuasaan.

Di tengah kegaduhan dunia modern yang menjadikan kekayaan sebagai tolok ukur keberhasilan tunggal, kesadaran tentang struktur batin seperti ini telah hilang. Seorang raja haruslah juga seorang filsuf sekaligus ksatria. Plato dalam Republic mengingatkan bahwa kehancuran negara dimulai ketika para pedagang (waisya) mengambil alih peran para filsuf dan penjaga (ksatria). “Jika para filsuf tidak menjadi raja, atau para raja tidak sungguh-sungguh memfilosofikan hidup, maka bencana adalah kepastian.” Kini, kita hidup dalam masyarakat yang pemimpinnya tidak berjiwa ksatria dan para pendidik dipaksa bermental pedagang.

Betapa ironis. Seorang guru kini tidak cukup hanya bijaksana. Ia juga dituntut pandai menjual jasa, membranding dirinya, dan ikut serta dalam pasar bebas pendidikan. Padahal, seperti diungkapkan Ivan Illich dalam Deschooling Society, ketika pendidikan menjadi komoditas, maka guru kehilangan martabat sebagai penjaga nurani masyarakat dan hanya menjadi pelayan dari sistem produksi manusia terstandar. Pendidikan pun kehilangan rohnya, menjadi pabrik penghasil “tenaga kerja” dan bukan “manusia seutuhnya”.

Saya katakan kepada Aldiano, bahwa menjadi guru bukan jalan untuk kaya raya, tetapi jalan untuk memperkaya jiwa. Bahwa hidup seorang guru—dan seharusnya juga dokter, seniman, ilmuwan, dan pendeta—bukanlah hidup dalam logika akumulasi materi, tapi pengabdian. Seorang guru yang terobsesi dengan kekayaan akan membawa pendidikan menuju jurang komersialisasi yang menindas, sebagaimana seorang dokter yang haus materi akan menjadikan kesehatan sebagai hak eksklusif kaum kaya. Ketika brahmana menjadi waisya, sistem akan runtuh.

Namun, siapa yang bisa disalahkan ketika masyarakat menilai keberhasilan dari jumlah mobil dan rumah mewah? Masyarakat yang kehilangan kesadaran ini tidak hanya salah memilih pemimpin, tetapi juga salah menakar tentang keberadaan guru. Mereka memandang guru yang sederhana sebagai gagal, dan memuliakan selebritas Instagram yang kaya dari konten-konten kosong. Dalam struktur sosial seperti ini, pertanyaan Aldiano adalah cermin: apakah kita benar-benar memahami siapa yang seharusnya kita hormati?

Sayangnya, kita hidup di zaman di mana setiap orang ingin menjadi apa saja, kecuali dirinya sendiri. Yang bukan pemikir, bicara seolah bijak. Yang tidak pernah membaca, menghakimi seolah ahli. Yang seharusnya berdagang, malah ingin menjadi pejabat. Yang seharusnya mendidik, sibuk jadi pedagang. Dunia menjadi terbalik. Thomas Eliot pernah menulis, “We had the experience but missed the meaning.” Kita mengalami kemajuan ekonomi dan teknologi, tapi kehilangan arah moral dan kebijaksanaan. Maka, bukan hanya sistem sosial yang kacau, tapi juga pendidikan yang kehilangan tujuan esensialnya.

Pendidikan nasional, dalam refleksi Hari Pendidikan Nasional ini, seharusnya tidak hanya diukur dari hasil ujian, akreditasi, atau indeks literasi. Pendidikan harus berani bertanya: Apakah murid-murid kita sedang tumbuh menjadi manusia? Apakah mereka sedang disiapkan untuk mengenal jati diri mereka, dan bukan sekadar dipaksa menghafal daftar profesi berpenghasilan tinggi?

Jika demikian, maka pertanyaan Aldiano tidak perlu dijawab dengan marah. Ia justru perlu dirayakan sebagai momen pencerahan. Sebab, seperti kata Nietzsche, “Semua kebenaran yang agung dimulai sebagai penghujatan.” Pertanyaan Aldiano mungkin tampak sinis, tapi ia membuka ruang kesadaran baru: bahwa tidak semua orang harus menjadi kaya, dan tidak semua yang tidak kaya adalah gagal. Yang gagal adalah mereka yang tidak tahu siapa dirinya, yang menempati posisi yang bukan tempatnya, dan akhirnya merusak sistem harmoni semesta.

Kita butuh lebih banyak kesadaran kasta, bukan sebagai sistem sosial, tetapi sebagai sistem spiritual. Agar para brahmana tetap menjaga cahaya pengetahuan. Para ksatria tetap menjaga keadilan. Para waisya menggerakkan roda ekonomi. Dan para sudra diberdayakan agar naik ke tingkatan kesadaran yang lebih tinggi. Semua berada pada tempatnya. Semua tahu siapa dirinya.

Namun kini, kita patut bertanya kembali: dalam dunia yang semakin mencampuradukkan identitas dan peran sosial ini, dimanakah posisi kita sesungguhnya berada? Dan lebih penting lagi: apakah kita cukup jujur kepada diri sendiri untuk mengakui, pada kasta apa kesadaran kita seharusnya berada.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga pendidikan tak hanya menjadi jalan menuju pekerjaan, tapi jalan menuju pencerahan. (*)

Oleh: Fileski Walidha Tanjung adalah seorang pendidik, penulis, penyair, kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, puisi, cerpen di berbagai media nasional.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.