Pembangunan Berbasis Ekologis Suatu Bentuk Dialektika

oleh -316 Dilihat
World Environment Day, Reforestation, Characters Planting Seedlings and Growing Trees into Soil Working in Garden, Save World, Earth Day, Nature and Ecology Concept. Cartoon People Vector Illustration
banner 468x60

Oleh: Albertus C Berkanis dan Brilian Lobang Tang

Dalam beberapa hari terakhir ini penulis sedikit risih tentang persoalan yang dialami oleh masyarakat NTT, khususnya dalam keputusan yang diambil oleh pemerintah yaitu dengan meminjam uang di bank yang nominalnya cukup besar dengan dalih infrastruktur yaitu di Flores yakni 30 Miliar dan di TTU yaitu 120 Miliar.

Dalam benak penulis terngiang pertanyaan, infrastruktur seperti apa yang ingin dibangun? Apakah infrastruktur itu dapat meningkatkan sumber daya manusia atau hanya terbatas pada bangunan mati saja? Hal ini akan menjadi persoalan yang serius jika dalam pembangunan tidak melihat nilai etis dimana bukan saja pada nilai kemanusiaan tetapi juga nilai ekologis.

Paus Fransiskus menyerukan adanya pertobatan ekologis mulai dari diri sendiri sampai pada jenjang negara. Dalam jenjang negara, tentunya infrastruktur pun harus memerhatikan etika lingkungan hidup. Paus menyerukan adanya pergeseran paradigma dari antroposentris dimana dengan membangun suatu dialektika yakni dengan melihat entitas lain sebagai makhluk yang sama seperti manusia. Dalam pembangunan, ada banyak anggaran yang dibutuhkan meskipun di situ pemerintah melihat nilai kemanfaatannya, perlu juga ditinjau nilai filosofis yakni nilai keadilan dengan tidak ada yang dikorbankan yaitu alam.

Dialektika sudah ada semenjak zaman Plato bahkan sebelum itu dimana di dalam sebuah percakapan dua orang atau beberapa orang mencoba mencari suatu jawaban atas sebuah persoalan yang dialami. Dalam konteks saat ini, infrastruktur harus menjadi representasi dari dialektika antara manusia dan alam sehingga di dalamnya terbentuk relasi antara keduanya. Dalam beberapa dekade terakhir ini, infrastruktur menjadi agenda utama beberapa daerah di NTT.

Dalam mewujudkannya dibutuhkan dana yang besar, namun di sisi lain perlu diperhatikan bahwa negara bukanlah penyedia melainkan adalah sarana sehingga prinsip subsidiaritas tidak diabaikan sebab jika diabaikan negara akan bertindak sebagai rezim totaliter. Maka dari itu infrastruktur hanyalah sarana sehingga perlu adanya nilai di dalam pembangunan itu yang menggambarkan relasi dari manusia dan alam itu sendiri.

Dalam problem ini penulis kembali menyerukan seruan apostolik Paus Fransiskus sebagai dasar untuk infrastruktur di NTT sebab di dalamnya termaktub dialektika anatara manusia dan alam. Model yang dapat menjadi teladan dari infrastruktur berbasis ekologis dapat dilihat dalam kebudayaan tiap-tiap daerah sebagai prototipe dari pembangunan modern sehingga kehidupan kosmik tidak tergangu oleh karena kebutuhan manusia.

Relasi ini terepresentasi lewat infrastruktur daerah sebab yang harus dilihat adalah nilai yang lebih tinggi yaitu martabat manusia bukan hanya terbatas pada nilai manfaat yang kemudian menjadikan alam sebagai sarana untuk kebutuhan manusia semaunya. Dengan tidak mengabaikan alam, manusia menunjukkan martabatnya sebagai ens rationale yang mencoba membangun keharmonisanya dengan alam, yang dalam stoikisme disebut sebagai upaya untuk mencapai kesempurnaan.

Maka dari itu infrastruktur daerah NTT harus menunjukkan nilai filosofisnya bukan hanya nilai kemanfaatan yang kemudian mengorbankan alam. Alam dalam hal ini bumi adalah ibu kita maka lakukanlah yang terbaik untuk ibu kita!

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Teknik Arsitek dan Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.