Warga Dua Desa di Alor Timur Laut Kesulitan Air Bersih

oleh -1084 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Kalabahi – Warga dua desa, Waisika dan Nailang kecamatan Alor Timur Laut, kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur mengeluh kesulitan mendapat air bersih.

Untuk kebutuhan minum dan mencuci sekira 4000 warga dua desa yang berada di pusat kecamatan itu, mengambil air dari dua sungai terdekat yaitu sungai Siboil dan Kamangil.

Ada warga yang mengambil secara manual langsung menimba air di sungai dan ada yang sudah menggunakan mesin atau dinamo.

Sebagian warga sudah terlayani jaringan pipa air minum yang mengambil air dari sumber yang sama, walaupun masih tersendat pelayanan karena distribusi yang belum merata dan air mengalir tidak menentu jadwal kadang seminggu sekali.

Seorang warga desa Waisika menuturkan, untuk memenuhi kebutuhan air minum harus mengambil air ke sungai Siboil secara manual.

“Untuk masak dan minum kami masih ambil air di sungai Siboil dengan tenaga sendiri,” kata warga yang enggan dimediakan identitasnya.

Kian memprihatinkan kala tiba musim penghujan, terjadi banjir air keruh selama berhari-hari sehingga tidak bisa digunakan.

“Kalau hujan dan banjir kita tidak bisa gunakan air sungai yang keruh berlumpur selama berhari-hari,” tuturnya.

Begitupun saat kemarau, debit air semakin berkurang sehingga tidak bisa mengaliri leding yang sudah terpasang di rumah warga.

“Pipa sudah terpasang lengkap meteran tapi air tidak mengalir, kadang satu minggu sekali mengalir itu pun kecil sekali dan tidak bisa penuh tampungan,” ungkap salah satu warga desa Nailang.

Warga mengharapkan, agar air bisa mengalir lancar dengan membagi jadwal pelayanan setiap hari atau minimal dua hari sekali pelayanan dengan durasi jam yang cukup sehingga bisa menampung.

Diketahui, sudah ada jaringan pipa air minum terpasang sampai sambungan rumah, namun belum berfungsi optimal melayani warga karena diduga ada masalah teknis di sumber dan jaringan perpipaan.

Menurut penuturan warga, ukuran pipa yang digunakan mulai dari 3 dim sampai 1/2 dim, yang disambung langsung dari sumber tanpa reservoir atau bak penampungan sebelum didistribusikan ke jaringan sambungan rumah.

Meskipun pernah ada bak penampung tapi sudah tidak berfungsi lagi, kondisi ini berpotensi terjadi kehilangan air dalam perjalanan akibat gesekan, kebocoran pipa dan lama waktu perjalanan dari sumber sampai jaringan sambungan rumah tangga.

“Dulu pernah ada bak penampung yang dikerjakan ProAir tapi tidak berfungsi,” ungkap warga desa Nailang sembari meminta tidak disebutkan identitasnya.

Mengambil air dari sungai juga berisiko bagi kesehatan, tidak terjamin kebersihan atau higenitas, air sungai bisa terkontaminasi kotoran hewan dan limbah domestik karena sungai melintas di tengah pemukiman. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.