Top Ranger Kupang Uji Pelaporan Cepat Bencana, Usulkan Panduan Bahasa Isyarat

oleh -114 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Kupang – Bagaimana relawan menyampaikan arah evakuasi kepada warga Tuli ketika bencana terjadi? Pertanyaan tentang kebutuhan komunikasi di lapangan mengemuka ketika pengemudi transportasi online di Kota Kupang menguji Modul Pembelajaran Top Ranger, Senin (26/10/2026). Mereka mengusulkan agar panduan tersebut dilengkapi bahasa isyarat dasar sehingga peringatan dini dan arahan keselamatan dapat menjangkau lebih banyak warga.

Masukan itu disampaikan dalam pelatihan uji coba modul yang diselenggarakan BPBD Kota Kupang bersama Program SIAP SIAGA dan Forum Pengurangan Risiko Bencana Kota Kupang pada 26–27 Oktober 2026. Sebanyak 20 relawan mitra pengemudi Grab mengikuti pembelajaran hari pertama tentang peringatan dini inklusif dan pelaporan cepat melalui aplikasi SIRONDA.

TOP Rangers, singkatan dari Transportasi Online Peduli Relawan Penanggulangan Bencana, merupakan komunitas pengemudi ojek online yang dilatih untuk mendukung penanggulangan bencana di Kota Kupang. Melalui inisiatif BPBD Kota Kupang bersama Grab dengan dukungan Program SIAP SIAGA, para pengemudi dibekali keterampilan menyampaikan peringatan dini, melaporkan kejadian bencana, serta membantu evakuasi dan pelayanan darurat sesuai kapasitas mereka sebagai relawan.

Salah seorang peserta, Elvyliana Daton, menekankan perlunya latihan bahasa isyarat dasar agar relawan dapat membantu menunjukkan rute dan titik evakuasi kepada warga Tuli. Peserta lainnya, Dianne Penjaha, mengusulkan agar modul memuat kosakata isyarat kebencanaan yang dapat digunakan dalam interaksi sehari-hari.

Perhatian peserta juga menjangkau kebutuhan warga lanjut usia yang kurang memahami bahasa Indonesia formal. Mereka mengusulkan penyampaian pesan yang ringkas, mudah dimengerti, dan didukung gestur sederhana agar informasi keselamatan dapat dipahami oleh penerimanya.

Fasilitator Elsje Sjioen, mencatat usulan tersebut sebagai bahan penyempurnaan modul. Dalam diskusi, peserta diingatkan bahwa penyampaian informasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan warga sambil tetap menjaga substansi peringatan resmi dari instansi berwenang.

Uji coba ini merupakan kelanjutan dari penyusunan modul dan penguatan kapasitas Top Ranger, inisiatif yang melibatkan pengemudi transportasi online sebagai relawan penanggulangan bencana di Kota Kupang. Mobilitas pengemudi di berbagai lingkungan permukiman menjadi potensi untuk membantu menyebarkan peringatan dini dan menyampaikan informasi kejadian dari lapangan kepada BPBD.

“BPBD dan pemerintah menganggap relawan Top Ranger sebagai mitra sejajar yang menjadi perpanjangan tangan dan mata kami di lapangan guna mendeteksi kejadian bencana sedini mungkin,” kata Kepala Bidang

Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kota Kupang, Miki Natun. Dalam sesi peringatan dini, peserta berlatih memeriksa sumber, waktu kejadian, dan relevansi informasi sebelum meneruskannya kepada warga. Salah satu latihan menggunakan informasi bertanggal sehari sebelumnya untuk menguji ketelitian peserta dalam membedakan kabar lama dengan kejadian terkini. Relawan juga diarahkan melakukan konfirmasi melalui saluran komunikasi resmi apabila menerima informasi yang meragukan.

Pada sesi berikutnya, peserta menguji Sistem Informasi Ronda Kebencanaan atau SIRONDA, sarana pelaporan cepat berbasis web yang dikembangkan Miki Natun. Sistem tersebut dirancang untuk menghubungkan laporan warga dan relawan dengan petugas BPBD Kota Kupang.

Laporan mencakup jenis kejadian, lokasi, waktu, warga terdampak, kondisi lapangan, serta dugaan pemicu apabila diketahui. Peserta juga diminta mencatat kebutuhan bantuan khusus bagi penyandang disabilitas, lansia, dan kelompok lain yang memerlukan dukungan, sehingga petugas memperoleh gambaran kebutuhan di lokasi.

Untuk memudahkan akses, formulir pelaporan dapat dibuka melalui pemindaian kode pada stiker yang ditempatkan di sepeda motor atau perlengkapan relawan. Pelapor diminta menyertakan identitas, nomor telepon aktif, foto, dan titik lokasi sebagai bahan verifikasi dan tindak lanjut petugas.

Dalam simulasi hari pertama, 20 pengemudi mencoba mengirimkan laporan secara serentak. Berdasarkan catatan uji coba yang dipaparkan dalam sesi tersebut, pengisian laporan berlangsung sekitar 40–60 detik, sedangkan laporan diterima pada dasbor admin sekitar 10–15 detik setelah dikirim. Catatan waktu ini menggambarkan proses pengiriman informasi dalam simulasi, sementara tindak lanjut penanganan disesuaikan dengan verifikasi dan kebutuhan kejadian.

Praktik tersebut juga membuka pembahasan tentang kendala yang mungkin dihadapi relawan. Peserta mendiskusikan cara melapor ketika baterai ponsel habis, penggunaan ponsel warga sekitar, dan pencantuman narahubung lokal yang dapat dihubungi petugas. Usulan penambahan video singkat dan rekaman suara turut dicatat sebagai bahan pengembangan sistem.

Melalui rangkaian praktik dan diskusi ini, peserta ikut menilai apakah bahasa, instruksi, metode, dan waktu pembelajaran dalam modul sudah sesuai dengan kebutuhan mereka. Masukan relawan akan digunakan untuk memperbaiki panduan sebelum digunakan lebih luas.

Pelatihan dilanjutkan pada 27 Oktober dengan materi evakuasi taktis dan inklusif, praktik pemasangan dan pembongkaran tenda, serta perumusan rekomendasi perbaikan modul. Penyempurnaan modul dan SIRONDA selanjutnya direncanakan diikuti peluncuran resmi serta simulasi lapangan terpadu bersama Top Ranger dan pengurus Kelurahan Tangguh Bencana.

Program SIAP SIAGA merupakan kemitraan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia untuk memperkuat pengelolaan risiko bencana. Dukungan terhadap Top Ranger menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama pemerintah dan komunitas dalam kesiapsiagaan serta penanganan keadaan darurat di Kota Kupang. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.