Tidak Beroperasi Diterjang Seroja, Tambak Garam Pito Molu di Alor

oleh -1332 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Kalabahi – Salah satu penunjang pemasukan terbesar Pendapatan Asli Daerah (PAD) yakni produksi garam Pito Molu di Kokar Kelurahan Adang Kecamatan Alor Barat Laut Kabupaten Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak beroperasi lagi, akibat di terpa badai Seroja pada tahun 2021 silam.

Kepala Dinas Perindustrian dan Pertambangan Kabupaten Alor Daing Duru, melalui Sekretaris Dinas Perindustrian dan Pertambangan Mahdi Goro kepada media ini di Ruang kerjanya Rabu, (30/7/2025) membenarkannya.

Mahdi Goro yang didampingi Kepala Bidang (Kabid) Perencanaan Pembangunan Industri Datheus M Bani, dan Kabid Pembangunan SDM dan Informasi Industri Abdulah Fhata, menjelaskan, produksi garam di Pito Molu merupakan bantuan dari Pemerintah Provinsi NTT yang saat itu berjalan baik selama beberapa tahun dan saat itu hasilnya dibagi antara Pemerintah dengan kelompok kerja.

Garam Pito Molu ini, lanjutnya, dapat menghasilkan PAD bagi Pemerintah Daerah yang cukup besar nilainya. Setelah berjalan kelompok kerja yang telah dibina dan dilatih oleh dinas perindustrian mau mengelola sendiri sehingga diserahkan kepada mereka untuk mengelola sendiri.

“Namun ternyata tidak berjalan sehingga semua bantuan fasilitas bantuan dari Pemerintah Propinsi sudah kena garam akhirnya hancur total. Jadi kita punya produksi garam di Pito molu sudah tidak berjalan lagi,” sebut Goro

Selain Pito Molu, dibangun juga tambak garam di kokar dan sistimnya geomembran. Dan kerja sama itu, kata Goro, berjalan selama tiga tahun dan selanjutnya diserahkan ke kelompok untuk dikelola sendiri.

Menurut Goro, mereka hanya produksi secara kristal yang artinya masih dalam bentuk besar. Setelah itu, lanjutnya, diambil dan dibawa ke Pito Molu untuk dikelola menjadi garam lalu dilakukan penjualan dan hasilnya dibagi dengan kelompok tersebut dan yang lain untuk PAD.

“Semua berjalan dengan baik tapi datang seroja, hujan angin dan gelombang semua menjadi hancur. Kita sempat perbaiki tapi tidak bisa karena hancur dan rusak berat,” ungkap Mahdi Goro

“Selain itu, ada tambak garam di Aimoli juga sama yakni berjalan tahun 2018 setelah tiga tahun berjalan hasilnya masih garam kristal tetap kita bawah ke pito molu untuk di jadikan garam halus dan pernah menghasilkan 10 ton dalam bentuk garam kasar,” kata Goro.

Hal senada disampaikan Kabid Perencanaan Pembangunan Industri Dathenus M Bani, tambak garam Pito Molu dengan luasan sekitar setengah hektar sementara yang lain nol koma dua hektar yang dalam produksi garam semuanya berjalan dengan baik.

Terkait pengelolaan tambak garam, kata Bani, selanjutnya anggota kelompok yang telah dibimbing dan dilatih tersebut meminta untuk mengelola sendri tambak garam.

“Jadi kita pikir selama pembinaan ini mereka sudah paham tentang pelaksanaan tentang pengelolaan garam. Ternyata sudah tidak berjalan lagi,” sebut Bani.

Menurut Bani, pengelolaan tambak garam Pito Molu dapat meningkatkan PAD bagi kemajuan pembangunan di Kabupaten Alor sehingga perlu untuk diaktifkan kembali untuk kegiatan garam Pito Molu.

“Produksi garam Pito Molu menyumbag PAD pernah mencapai Rp50 juta yang kami setor ke Daerah. Kalau pakai teknologi sistim membran atau diintegrasikan dengan sistim parabola atap hujan turun juga tetap aman maka PAD Rp100 juta kecil bisa lebih dari itu,” ungkapnya.

Menurut Bani, Kabupaten Alor punya potensi sangat besar untuk menghasilkan garam karena memiliki banyak lahan yang bisa digunakan untuk produksi garam seperti di Pantar Barat, Pantar Barat Laut, Air Mancur, Kiraman dan Pureman. Oleh karena itu, butuh dana yang cukup untuk membangun tambak garam untuk peningkatan PAD.

“Kita butuh dana Rp3 Miliar untuk kita bisa buat analisa kegiatan tambak garam. Berapa tahun kita pengembalian pokok dan hasilnya bisa dukung PAD,” sebutnya. (NB/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.