Pendeta GMIT Ikut Bedah Buku Romo Leo Mali dan Izin Jadikan Referensi Khotbah

oleh -998 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Kupang – Pendeta Yulian Widodo, M.Th dari Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) meminta izin ke penulis buku Ziarah Mencari Tuhan, Dr. Romo Leo Mali, Pr untuk menjadi bahan referensi khotbah di jemaat.

Pendeta Yulian menyampaikan saat menjadi salah satu pembicara dalam diskusi bedah buku Ziarah Mencari Tuhan oleh Romo Leo Mali dan Komunitas Basis Gerejawi oleh Uskup Hironimus Pakaenoni yang dikemas dalam tema “Ziarah Mencari Tuhan Dalam Kelompok Umat Basis” yang diselenggarakan Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) Keuskupan Agung Kupang pada Sabtu, 31 Januari 2026 di Aula Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAS) Kupang.

Pendeta Yulian mengatakan, kedua buku itu saling melengkapi dan wajib dimiliki oleh para pengurus gereja, menjadi referensi yang sangat inspiratif. Dia juga mengajak para pastor dan pendeta untuk memperkaya perspektif segera miliki buku-buku itu dalam meningkatkan kualitas pelayanannya.

“Setelah membaca kedua buku ini baru saya tersadar bahwa sesungguhnya harus dimiliki secara bersama-sama yang akan saling melengkapi dalam membangun hidup menggereja,” ujarnya.

Ia mengatakan, dengan membaca buku-buku ini mendapat energi positif karena dalam buku menemukan nilai-nilai inklusif dalam membangun kesegaran refleksi iman yang berpusat pada Kristus dengan refleksi filosofis.

“Romo Leo minta izin saya pasti menggunakan buku ini sebagai referensi khotbah,” kata Pendeta Yulian.

Pendeta Yulian juga memberikan refleksinya, kedua buku ini sangat teologis dokmatis dan filosofis dalam mengembangkan hidup persaudaraan melalui praktik hidup berjalan bersama sun-hodos atau sinodal.

“Kelompok Basis Gerejawi sebagai komunitas berkumpul orang beriman untuk berdoa, membaca kitab suci, pengajaran yang berakar pada Kristus,” kata Pendeta Yulian.

Ia mengatakan bahwa buku Ziarah Mencari Tuhan sangat Kristologis yang menampilkan kehidupan Kristiani yang berakar, bertumbuh dan berbuah yang menunjuk pada Kristus sebagai pusat gereja.

“Membaca buku ini, saya merasa sedang menimba hikmat, ada energi positif membangun hidup pribadi dan komunitas,” tandasnya.

Pendeta Yulian mengapresiasi kedua buku ini yang bisa dinikmati oleh siapa saja, khususnya mereka yang berwawasan oikumenis dan mencari referensi bacaan rohani yang berkualitas.

“Saya juga akan promosi di kantor Sinode, kalau pendeta-pendeta yang mau meningkatkan kualitas khotbahnya bacalah buku Romo Leo dan Bapak Uskup,” kata Pendeta Yulian.

Dia juga membagikan pengalaman GMIT membangun jemaat sebagai basis perwujudan kasih Allah dan tanggapan iman manusia atas panggilan Allah. GMIT menganut lingkup berjemaat yaitu jemaat, klasis dan Sinode.

“Jemaat bertumbuh dari pos pelayanan, mata jemaat dan jemaat. GMIT memandang jemaat sebagai basis pertumbuhan gereja,” bebernya.

Isi dari pos pelayanan, mata jemaat dan jemaat adalah rayon yang terdiri dari keluarga-keluarga kristen yang terlibat aktif dalam membangun iman bersama sebagai basis pertumbuhan gereja.

Sebelumnya Romo Dr. Herman Punda Panda dalam pemaparannya menegaskan bahwa kelompok umat basis (KUB) adalah istilah lokal di Kuskupan Agung Kupang. Dan di Keuskupan-keuskupan lain lebih dikenal dengan Komunitas Basis Gerejawi (KBG).

“Ini mungkin terjemahan literal dari Basic Ecclesial Communities. Tapi intinya sama, KUB, Umat itu adalah gereja. Jadi gerejawi dan umat itu sama. Intinya sama hanya istilah yang agak berbeda,” ujarnya.

Romo Herman mengatakan, melihat tema diskusi buku tampak ada benang merah yang menghubungkan kedua buku. Ziarah Mencari Tuhan buku dari Romo Leo, sedangkan Komunitas Basis Gerejawi buku dari Monsinyur Hironimus Pakaenoni.

“Kata Dalam, Ziarah Mencari Tuhan Dalam Komunitas Basis Gerejawi, harus dipahami tidak menutup, seakan-akan hanya di dalam Komunitas Basis. Mungkin dalam di sini, dapat kita pahami sebagai tempat umat, dalamnya umat secara bersama-sama dalam komunitas mencari Tuhan,” kata Romo Herman.

Romo memberi refleksi setelah membaca kedua buku, perkembangan gagasan KUB di Indonesia sebagai cara hidup menggereja, dengan melihat hubungan kedua buku ini, menemukan gambaran tentang perkembangan Komunitas Basis Gerejawi, baik di tingkat dunia, di Asia, dan di Indonesia.

“Dalam buku Monsinyur Hironimus Pakaenoni. Beliau memulai dari Amerika Latin, tempat pertama munculnya Komunitas Basis Gerejawi di tahun 60-an. Kemudian segera mendapat perhatian dari Gereja Universal, karena itu perlahan-lahan masuk dalam sinode-sinode para uskup dunia, melahirkan dokumen-dokumen, yang diadopsi di banyak tempat seperti di Asia melalui pernyataan dan dokumen dari FABC (Federation of Asian Bishops Conferences). Federasi konferensi para uskup di Asia,” sebut Romo Herman.

Demikian pula di Afrika dan tempat-tempat lain di seluruh dunia. Mengadopsi KBG menjadi bagian cara hidup menggereja.

“Selanjutnya, buku Romo Leo memberi inspirasi yang sangat bermakna bagaimana menghidupi Komunitas Basis Gerejawi. Perziarahan umat melalui dan dalam Komunitas Basis Gerejawi, yang ibarat pohon berakar, bertumbuh, kemudian berbuah,” kata Romo Herman.

Menurutnya, hidup menggereja berakar dalam Tuhan dan Sabdanya, segala tradisi, sakramen-sakramen. Dalam Komunitas Basis Gerejawi, umat memperkuat iman pada Tuhan sebagai akar. Kemudian bertumbuh dalam pengalaman spiritual, yang menegaskan komitmen untuk menjalankan kehendak Tuhan. Selanjutnya, setelah matang dalam tindakan sebagai buahnya, tindakan nyata menjadi buah. Ini semua bisa terjadi di dalam Komunitas Basis Gerejawi.

“Berakar, bertumbuh, dan berbuah. Buahnya adalah transformasi sosial masyarakat, itulah buah yang paling berharga. Buahnya itu seperti ditulis oleh Romo Leo Mali dalam halaman 233 bukunya, menyembuhkan dunia. Tentu tidak seluruh dunia, kita tidak sanggup. Tetapi dunia di sini dalam arti yang masih dalam jangkauan dari Komunitas Basis Gerejawi setempat, itulah dunia kita yang juga mengalami macam-macam persoalan. Bisa konflik, masalah-masalah sosial, kemiskinan, ketidakadilan, dan sebagainya. Itulah dunia kita yang harus disembuhkan di dalam Komunitas Basis Gerejawi,” jelasnya.

Romo Herman juga menguraikan sejak gereja perdana. Bagaimana Komunitas Basis itu berkembang, menginspirasi gereja sekarang yang bermula dari gereja perdana, gereja mula-mula. Dalam gereja mula-mula, cara hidup jemaat perdana pada waktu itu seperti dilukiskan dalam kisah para rasul. Terutama dalam Kisah Para Rasul 2 ayat 42-47, dan Kisah Para Rasul 4 ayat 32-35.

“Di dalamnya disajikan gambaran gereja yang sangat relevan dan sebagai inspirasi dan pedoman, bahkan menjadi pedoman bagi Komunitas Basis Gerejawi kita sekarang ini. Gereja mula-mula bukan gereja yang dibangun atas struktur besar dan institusi yang mapan. Melainkan itu komunitas iman yang hidup, komunitas kecil, di mana di dalamnya ada kebersamaan, ada relasi, ada kesetiaan pada bimbingan roh kudus. Mereka bersekutu, berdoa, memecahkan roti dari rumah ke rumah pada waktu itu yang sekarang kita sebut ekaristi,” jelas Romo Herman.

Kelompok umat perdana itu kecil, namun dari sana mereka sungguh bersekutu, hidup sehati sejiwa. Mereka juga memiliki solidaritas yang tinggi, berbagi dari yang dimiliki dengan yang miskin.

Sehingga tidak ada yang menderita, tidak ada yang berkelimpahan. Terbangun solidaritas, kebersamaan dalam memimpin jemaat, ada semangat partisipatif. Para Rasul tidak hanya mengatur dari atas, tetapi bersama-sama dengan jemaat yang baru sedang bertumbuh ketika ditinggalkan Yesus yang bangkit dan naik ke surga.

“Itu gereja perdana, mereka sunguh murid-murid Yesus yang mendapat pengajaran langsung Yesus. Karena itu semangat kebersamaan dan militansi mereka yang luar biasa,” jelasnya.

Karena itu, kata Romo Herman, pengalaman jemaat perdana menjadi prinsip dan pedoman penting bagi komunitas basis Gerejawi saat ini. Cara hidup dari gereja perdana atau gereja mula-mula. Namun demikian, tidak berarti bahwa dalam komunitas umat perdana itu tidak ada konflik.

Romo juga menjelaskan, dalam bab 2-4 Kisah Para Rasul sangat indah dilukiskan tentang kehidupan komunitas umat perdana. Tapi dalam perjalanan ada juga konflik. Ada konflik yang bersifat tidak sangat substansial, tetapi kemudian kondisi itu mengubah cara pandang gereja. Misalnya dalam pembagian harta atau pembagian karya sosial karitatif membagi makanan, bantuan, donasi kepada orang-orang miskin.

Sering terjadi ketidakadilan, orang-orang ibrani mendahulukan janda dan yatim piatu dari keluarga-keluarga mereka sendiri. Sedangkan yang bukan keluarga mereka, orang-orang yang keturunan Yunani diabaikan. Maka terjadilah sungut-sungut di kalangan orang-orang dari keturunan Yunani. Persoalan ini kemudian disikapi oleh para rasul.

“Sikapnya sangat tepat, tindakan yang diambil itu menurut saya sangat praktis. Mereka mengangkat tujuh diakon untuk bertugas melayani, melakukan pelayanan sosial karitatif. Sehingga para rasul fokus pada pewartaan sabda. Jadi disini kita lihat ada semangat partisipatif dan sejak itulah mulai berdiri di dalam gereja kita sampai sekarang jabatan diakonat yang sudah ada sejak gereja perdana,” jelas Romo Herman.

Sedangkan konflik yang lebih bersifat substansial seperti dibicarakan dalam Kisah Para Rasul bab 15. Ketika terjadi pertentangan mulai dari Antiokia, tapi di banyak tempat juga ada kebingungan pada waktu itu. Apakah menjadi Kristiani harus menjalankan semua tradisi Taurat Yahudi? Atau melepasnya? Mereka terbagi. Ada sejumlah umat yang mengatakan harus mempertahankan tradisi Yahudi. Selain di baptis, juga harus mematuhi peraturan Yahudi seperti kewajiban sunat, tidak makan makanan yang disebut haram seperti babi dan sebagainya.

“Mereka mengenal apa yang disebut najis dan tahir. Halal dan haram. Para pewarta pada waktu itu para rasul bingung mengambil keputusan. Karena itu, mereka pergi ke Yerusalem. Membawa persoalan ini kepada Petrus dan para rasul yang lain. Dan pada waktu itu diadakan pertemuan para rasul. Kalau kita baca itu ada diskusi, Yakobus berbicara, Filipus berbicara dan sebagainya. Terakhir Petrus sebagai ketuanya menyimpulkan dalam pidato penutupannya. Dan itulah yang kita kenal sebagai konsili perdana dalam gereja. Konsili Yerusalem. Kita lihat bahwa untuk hal-hal yang praktis memang kita ambil tindakan yang praktis. Tapi hal-hal yang subtansial tidak bisa secara praktis. Harus didiskusikan melalui konsili,” beber Romo Herman.

Selanjutnya, Konsili Vatikan II berbicara tentang komunitas basis gerejawi yang menetapkan gereja turun ke basis. Konsili Vatikan II mengubah cara gereja memandang dirinya. Gereja tidak lagi dipahami terutama sebagai institusi hirarkis yang piramidal.

“Kita tahu hirarkis yang piramidal itu seperti piramida. Di puncaknya ada paus, di bawahnya kardinal, selanjutnya uskup, imam-imam, biarawan-biarawati. Baru di dasar piramida itu umat. Hirarkis piramidal juga disebut gereja klerikalis, yang utama adalah klerus, para imam, kaum tertabis. Umat kurang mendapat tempat. Gereja yang hirarkis, piramidal, yang institusional, sangat institusionalis,” tegasnya.

Konsili Vatikan II menggerakan gereja turun ke basis, tidak lagi hirarkis piramidal, peranan kaum hirarkis berada di tengah-tengah umat, bukan di atas umat. Dia berada di tengah sebagai katalisator dari perubahan-perubahan sosial, perlaksanaan tugas-tugas, sama-sama mencari kehendak Tuhan bersama imam dan awam.

Selanjutnya, kata Romo Herman, ketika gagasan basic ecclesial communities dilaksanakan, komunitas basis gerejawi masuk dalam pemikiran dan pembahasan para uskup melalui sejumlah sinode.

“Kalau kita membaca buku Monsinyur Hironimus, gerakan seluruh gereja mengadopsi KBG di berbagai tempat. Di Asia FABC (Federation of Asian Bishops Conference), dalam plenary assembly tahun 2000, menegaskan komunitas basis gerejawi adalah a new way of being church. Cara baru hidup menggereja,” tandasnya.

Pada tahun yang sama, tahun 2000, SAGKI (Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia) di Jakarta, yang diselanggarakan oleh KWI, membahas komunitas basis gerejawi sebagai a new way of being church, cara baru hidup menggereja. Dalam konteks Indonesia, kemudian ada gerakan terencana, membangun komunitas-komunitas gerejawi atau membenahi komunitas yang sudah ada.

“Sebenarnya kita sudah punya sebelumnya, bukan komunitas baru cara menggereja. Di NTT, sejak tahun 1950-an, terutama di kantung-kantung Katolik seperti Flores dan Timor, sudah dikenal kelompok-kelompok, kalau istilah lama dipakai kontas gabungan. Artinya gabungan keluarga-keluarga untuk doa rosario. Tujuan semata-mata spiritual. Dan berlanjut, tahun 2000 sudah berbicara tentang cara baru hidup menggereja, tetapi kelihatan seperti diakui dengan jujur oleh Pak Herman yang Ketua KUB. Urusannya adalah masih seputar menyiapkan misa, latihan koor, membersihkan gereja, dan sebagainya. Itu boleh dikatakan masih cara lama,” kata Romo Herman.

Menurutnya, kondisi ini sejalan dengan hasil penelitiannya tahun 2023 menemukan bahwa kegiatan KUB-KUB lebih banyak berhubungan persiapan rohani, latihan koor. Tapi hal yang menarik ada persekutuan sudah cukup baik.

“Itu nilai yang saya lihat. Persekutuannya sudah cukup bagus, kekompakan diantara anggota-anggota KUB, terutama ketika mendukung keluarga-keluarga yang mengalami peristiwa syukuran, mendukung perayaan ekaristi atau peristiwa duka atau kematian, misa di rumah keluarga-keluarga, pendukung utama adalah anggota-anggota KUB,” beber Romo.

Persekutuan sudah ada, lanjutnya, walaupun belum nampak hal-hal yang merupakan kebaruan, disebut new way of being church, apa yang baru? Karena sebenarnya komunitas ini tidak baru, kalau berbicara mulai dari gereja perdana sudah ada.

“Yang baru adalah pergeseran dari kelompok doa dan pendalaman iman dan kelompok spiritual devosional beralih menjadi komunitas basis manusiawi. Di mana tidak hanya aktivitas rohani di dalam KUB, tetapi menyentuh persoalan-persoalan seperti ekonomi keluarga, pendidikan anak, relasi sosial, resolusi konflik lokal, isu keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Ini kondisi ideal dari komunitas basis gerejawi sebagai cara baru hidup menggereja. Harapan atas komunitas basis bagaimana dalam konsep idealnya itu, ternyata belum sepenuhnya mewujud. Ada beberapa komunitas basis di tempat-tempat lain sudah berjalan, tetapi kebanyakan belum. Belum move on dari spiritual devosional ke cara baru menggereja,” tegasnya.

Maka diskusi ini menurutnya sangat penting untuk melihat hidup menggereja, seperti STIPAS yang mencetak para tenaga pastoral bisa menjadi ujung tombak bagaimana menjadikan KUB benar-benar sebagai komunitas basis cara baru hidup menggereja.

“Apalagi ini sangat cocok dengan pemikiran uskup kita dan pendukung utama yaitu para katekis. Ini calon katekis, calon pelayan pastoral, juga menjadi guru agama di sekolah-sekolah. Jadi tentu saja selain para imam, biarawan biarawati,” ucapnya.

Selanjutnya, kata Romo, KBG sebagai gereja akar rumput menjadi subyek perjuangan. Komunitas perjuangan artinya peduli terhadap peristiwa-peristiwa sosial di sekitarnya misalnya ketimpangan sosial, bagaimana menyembuhkan dunia di lingkup KBG, seperti kata Romo Leo Mali dalam bukunya.

“Kita tahu bahwa banyak persoalan sosial dalam masyarakat kita yang ada di hadapan mata, misalnya human trafficking. Ada banyak orang Katolik, orang Kristiani yang terjebak dalam kasus perdagangan orang. Apabila sebuah KUB mengenal semua anggotanya, memberi perhatian penuh supaya tidak ada yang sampai terjebak dalam kasus itu. Kalau bergerak benar sebagai suatu cara gereja yang baru. Persoalan-persoalan seperti itu sekurang-kurangnya diminimalisir. Kalau bisa ditiadakan. Karena faktanya kita tetap menjadi paling tinggi kasus human trafficking di NTT,” tegasnya.

Maka cara baru menggereja selain gereja akar rumput sebagai subyek perjuangan juga gereja partisipatif dan sinodal. Dalam KBG ada semangat saling mendengarkan. Imam mendengarkan umat, umat juga mendengarkan imam. Saling mendengarkan satu sama lain, juga di antara anggota KUB saling mendengarkan. Berbagi tanggung jawab dan bersama-sama mencari kehendak Allah dan membedakan kehendak Allah secara bersama. Mana yang kehendak manusiawi, mana yang kehendak Allah.

“Pergulatan di dalam komunitas-komunitas basis bukan meninggalkan unsur-unsur yang lama spiritual devosional tetap terjaga untuk keterpautan umat pada Tuhan sebagai akar, yang bertumbuh perlahan-lahan beralih menjadi komunitas basis manusiawi yang membuahkan tindakan untuk perbaikan dunia,” pungkasnya. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.