Gubernur NTT Melepas Peserta Retret Gelombang II, Mendapat Sorotan Publik

oleh -1412 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Kupang – Kegiatan retret pejabat pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menelan anggaran fantastis tengah menuai kritik publik, Gubernur Melki Laka Lena kembali melepas 347 orang peserta retret gelombang kedua mendapat sorotan tajam dari pakar pendidikan dan pengamat hukum tata negara.

Pakar Pendidikan dari Universitas Tribuana (UNTRIB) Kalabahi-Alor, Dr. Fredrik Abia Kande, S.Pd., M.Pd., menegaskan, kegiatan retret pejabat pemerintah provinsi harus memiliki muatan refleksi, pembelajaran, dan pengembangan diri. Tanpa menyentuh ketiga aspek tersebut maka retret hanya merupakan pemborosan.

Dan itu, tegas Fredi Kande, tidak sejalan dengan semangat dan paradigma efisiensi yang tengah dijalankan oleh pemerintahan Prabowo Subianto. Apalagi kalau dari semangat ini, sebenarnya kegiatan semacam ini bisa ditunda, tingkat urgensinya belum dikatakan urgen, walaupun mungkin penting.

“Harusnya yang menjadi fokus pemerintah Melki-Johni kali ini yakni mengoptimalkan setiap governance spending untuk menggerakan pertumbuhan ekonomi masyarakat yang tergerus akibat efisiensi masif tersebut,” tegas Alumnus UNY.

Senada dengan Kande, Pengamat Hukum Tata Negara, Dr. Yohanes Tuba Helan, SH., M.Hum. menekankan, tidak ada urgensinya retret karena tidak akan mengubah perilaku para pejabat yang sudah terbentuk sejak lama.

“Tidak urgen, karena retret tidak akan mengubah kelakuan para pejabat yang sudah terbentuk sejak lama. Artinya, para pejabat itu baik yang tetap baik, dan yang buruk ya tetap buruk. Tidak karena retret lalu mengubah kelakuan yang buruk menjadi baik,” tegasnya.

Saat ini, kata Tuba Helam, rakyat miskin di NTT cukup banyak (1,1 juta orang miskin), tetapi uang digunakan untuk kepentingan para pejabat, sementara rakyat tidak mendapat manfaat apa-apa dari kegiatan retret.

“Harusnya, pemda membuat program yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, agar dapat mengubah taraf hidup masyarakat. Sebelumnya diadakan tour de entete dengan biaya sekitar Rp5 miliar, sekarang kegiatan retret dengan anggaran Rp1,6 miliar yang tidak bermanfaat bagi rakyat,” ujar Tuba Helan.

Sebelumnya, Gubernur Melki Laka Lena pada Rabu, (8/10/2025) melepas 347 orang peserta retret di halaman Gedung Sasando, Kantor Gubernur NTT.

Dalam arahannya Gubernur Melki Laka Lena menegaskan, semua peserta setara tidak membedakan eselon dan golongan dalam kegiatan retret.

“Di sana tidak ada eselon dua, tiga, atau empat. Semua duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Berbaur saat makan, berbagi cerita, pengalaman, dan mimpi. Di situlah lahir solidaritas dan semangat melayani,” tegas Melki Laka Lena.

Peserta retret Gelombang II tersebut akan menjalani kegiatan retret  di Universitas Pertahanan Republik Indonesia – Politeknik Ben Mboy Atambua, Kabupaten Belu yang berlangsung pada tanggal 8–13 Oktober 2025.

Menurut Melki Laka Lena, Retret Kepemimpinan Strategis ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi NTT untuk memperkuat karakter, spiritualitas, dan profesionalisme para pejabat dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab pelayanan publik.

Dalam arahannya, Gubernur Melki Laka Lena menegaskan bahwa kegiatan retret ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum strategis untuk melakukan refleksi diri, pembenahan sikap, dan peningkatan etos kerja di kalangan pejabat pemerintah daerah.

Kepada para peserta Ret-ret ini, Gubernur Melki juga mengingatkan pentingnya membangun kebersamaan lintas Perangkat Daerah dan lintas jabatan. Beliau meminta agar para peserta tidak terjebak dalam sekat birokrasi saat mengikuti kegiatan Ret-ret di Unhan.

“Kepemimpinan yang efektif tidak hanya diukur dari jabatan atau prestasi administratif, melainkan kemampuan membangun jejaring, komunikasi, dan kolaborasi antar pejabat”, tambahnya.

Lebih lanjut, Gubernur Melki mengingatkan bahwa tantangan birokrasi ke depan semakin kompleks, oleh karena itu dibutuhkan pemimpin yang adaptif, kreatif, dan berorientasi pada hasil nyata.

“Kita ingin pemerintahan yang bersih, efisien, dan tanggap terhadap kebutuhan rakyat. Semua pejabat harus punya kesadaran bahwa posisi yang diemban adalah amanah, bukan fasilitas,” tegasnya.

Melki berharap agar kegiatan Ret-ret ini dapat menumbuhkan karakter Aparatur Sipil egara yang berintegritas, profesional, dan melayani dengan hati, sesuai visi NTT yang maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan.

“Selamat mengikuti Ret-ret. Nikmati pengalaman belajar ini dengan rendah hati, dan bawalah pulang semangat baru untuk membangun NTT,” pungkasnya.

Turut hadir mendampingi Gubernur dalam acara pelepasan tersebut, Kepala BKD NTT, Yosef Rasi selaku penanggung jawab kegiatan, serta sejumlah Pimpinan Perangkat Daerah Provinsi NTT. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.