RADARNTT, Kupang – Air adalah harga diri dan martabat orang NTT, masalah kekeringan dan kesulitan air juga memberi stigma buruk bagi daerah ini selama berabad-abad dan masyarakat belum terlepas dari belenggu lalepak pikul air di kampung-kampung.
Demikian tegas Calon Gubernur NTT nomor urut 3, Simon Petrus Kamlasi saat berkampanye di Desa Baumata Timur Kecamatan Taebenu Kabupaten Kupang, Selasa (8/10/2024) malam.
“Masalah air adalah masalah harga diri dan martabat kita orang NTT yang hidup sulit air selama berabad-abad,” tegas Simon Petrus Kamlasi.
Dia mengisahkan betapa sulitnya hidup di kampung sejak masa kecil yang selalu berpacu dengan waktu, menempuh jarak dan medan yang mencapai dua kilometer dengan kondisi curam untuk mengambil air minum dan mandi.
“Sejak dulu masih kecil sampai sekarang sudah puluhan tahun kita belum terlepas dari belenggu lalepak pikul air di kampung-kampung,” ucapnya.
Kondisi kesulitan air di kampung halaman mendorong Simon Petrus Kamlasi dan istri tercinta menyisihkan sedikit dari gajinya untuk membeli alat dan bahan, mulai memodifikasi teknologi pompa hidram untuk pertama kali dipasang di kampung kelahiran Sunu Timor Tengah Selatan pada tahun 2013.
Pompa hidram hasil modifikasi Simon Petrus Kamlasi direplikasi menjadi 400 titik di seluruh NTT dan 3000 titik di seluruh Indonesia. Prestasi yang membawa dia meraih rekor MURI sebagai pembuat pompa hidram terbanyak.
Dia berkomitmen untuk tata kelola air yang lebih baik tersistematisasi dan berkeadilan sosial untuk semua bila memangku jabatan dengan kewenangan lebih besar bila Tuhan merestui dan rakyat memberi mandat memimpin NTT.
“Kita fokus membangun tata kelola air yang lebih baik tersistematisasi dan adil untuk semua, masyarakat NTT harus bisa terpenuhi kebutuhan air bersih untuk hidup layak,” ungkapnya.
Dia sudah melakukan hal ini sejak masih aktif di TNI AD yang dimulai dengan anggaran pribadi dan mendapat dukungan program TNI Manunggal Air. Simon Petrus Kamlasi ingin mengembangkan lebih banyak untuk menjangkau seluruh masyarakat di pelosok NTT dengan memanfaatkan potensi air baku yang tersedia di masing-masing daerah.
“Kita akan memanfaatkan air permukaan berupa waduk, bendungan, sungai/kali dan air tanah dengan inovasi teknologi yang murah dan tepat guna,” sebutnya.
Sembari terus merawat alam dan air dengan gerakan menanam pohon untuk penghijauan dan gerakan menanam air, membangun embung dan jebakan-jebakan air untuk menampung dan menyimpan air hujan sebagai cadangan air. Sehingga tidak ada bencana banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.
“Kita menyediakan fasilitas sarana air bersih di setiap kecamatan minimal satu titik pompa hidram untuk menarik air permukaan dan sumur bor untuk air tanah,” tegasnya.
Menyediakan fasilitas sarana air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, karena air sebagai sumber kehidupan. Simon Petrus Kamlasi menyakini bahwa dengan air yang tersedia, masyarakat pasti sejahtera.
“Air adalah kunci untuk mencapai kesejahteraan karena semua makhluk hidup butuh air,” tegasnya.
Untuk itu, Simon Petrus Kamlasi dan Adrianus Garu atau Paket SIAGA mengusung misi utama SIAGA Air untuk NTT sebagai aksi SIAGA untuk masyarakat NTT dalam menumpas bencana kekeringan yang membelenggu masyarakat NTT selama ini.
Setidaknya ada 8 buah bendungan di NTT yaitu Tilong, Raknamo, Rotiklot, Temef, Manikin, Napun Gete, Lambo, Kambaniru. Semua dapat dimanfaatkan untuk air bersih dan air irigasi pertanian.
Ada juga beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS) seperti DAS Noelmina: Sungai besar di pulau Timor yang penting bagi warga Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Kupang. Sungai utama DAS Noelmina adalah Sungai Noelmina dengan panjang 37,40 kilometer.
DAS Benain: DAS terbesar di NTT dengan panjang 132 kilometer. DAS Talau: DAS yang terletak di Indonesia dan Timor Leste dengan luas sekitar 720 kilometer.
Kemudian beberapa DAS di Flores, yaitu: DAS Aesesa, DAS Laku Toka, DAS Nae, DAS Nangagete Nebe, DAS Nawu, DAS Reo Waepesi, DAS Wera.
Selain DAS, ada juga beberapa sungai di NTT, di antaranya: Kadahang, Kadumbul, Kambaniru, Melolo, Polapari, Wano Kaka.
Semua potensi air permukaan ini akan ditata kelola dengan sistematisasi jaringan untuk melayani masyarakat di sekitar bendungan dan DAS yang bisa menjangkau lebih dari dua kabupaten di setiap bendungan atau DAS. (TIM/RN)







