Pendudukan di Pantai Tanjung Lesung

oleh -120 Dilihat
banner 468x60

Pada akhir tahun lalu, satu rombongan dari pondok pesantren Gintung, Tangerang, telah menginap selama satu minggu di penginapan yang terletak di sebelah rumah orang tua saya di daerah Tanjung Lesung, Banten. Ayah membangun dua tempat penginapan beberapa tahun setelah ia menjalani masa pensiun di perusahaan Krakatau Steel, Cilegon. Pada hari-hari setelah Idul Fitri, atau hari libur nasional, biasanya salah satu dari penginapan itu diisi oleh rombongan atau keluarga yang sedang berlibur. Mereka datang pada siang hari, menempuh perjalanan selama lima jam dari daerah Jakarta. Tapi rombongan dari pesantren ini sudah datang menjelang waktu zuhur. Boleh jadi mereka berangkat dari rumah sekitar jam lima atau jam enam dinihari.

Setelah mereka memperkenalkan diri, saya mengantarkan mereka berkeliling. Kalau tidak berhalangan, biasanya Ibu yang melakukan penyambutan ini. Rombongan itu datang mengendarai bis, dan sebagiannya memakai kendaraan pribadi. Keluarga kami melengkapi penginapan itu dengan teras yang nyaman untuk bersantai dan beristirahat. Ada atap jerami yang menghalangi sinar matahari. Terdapat dua kursi panjang berlengan, sofa yang dibalut kain merah, beberapa ambin untuk berjemur, dan meja kayu besar dengan pemandangan lautan lepas di sekitar Pantai Tanjung Lesung.

Saya membuka pintu geser berkaca dan menampilkan isi ruangan. Ada ruang tamu yang nyaman dengan dua sofa lembut. Ada peralatan dapur yang lengkap, serta dua kamar tidur. Ketika rombongan itu mengeluarkan barang-barang dari bis dan mobil mereka, kami berkeliling di sekitar penginapan.

Saya memberitahu mereka meletakkan handuk dan selimut pengganti untuk berjaga-jaga dari dinginnya angin laut di malam hari. Setelah itu, saya beritahu jalan menuju minimarket dan beberapa rumah makan sederhana, melintasi kebun milik Ayah yang sedang berbuah. “Kalau Bapak dan Ibu suka di jambu atau mangga untuk dirujak, silakan ambil saja dari kebun ini,” kata saya.

Beberapa ibu berbohong-sorai kegirangan, dan salah satu kontan bertanya, “Apakah kebun itu masih menjadi milik penginapan ini?”

Saya jawab “ya”, dan beberapa pohon sengaja ditanam mendiang ayah saya, tapi sebagian lainnya tumbuh dengan sendirinya. Buah-buah jambu dan mangga itu sering jatuhan kalau musim hujan tiba. Kadang Ayah memerintahkan para tetangga untuk memetiknya sendiri. Sebab, sayang kalau tidak ada yang mengambil dan menyisihkan.

***

Saya melakukan pekerjaan menyiram tanaman di dalam kebun serta taman di sekeliling penginapan. Saya berpura-pura tidak mengamati rombongan pesantren itu berikut aktivitas mereka sehari-hari di sekitar penginapan. Kadang-kadang saya melihat mereka, setiap pagi dan sore meninggalkan tempat di persimpangan jalan menuju pantai yang jaraknya sekitar limapuluh meter saja. Saya sempat berkenalan dengan ketua rombongan, Ustaz Rauf, yang dulunya pernah menjadi santri di pesantren Gintung, dan kini menjadi tenaga pengajar di pesantren tersebut. Bersama Ustazah Lelah di sebelahnya, saya banyak mendengar tentang lika-liku kehidupan seorang santri di dunia pesantren.

Sebagai seorang pelajar SMU yang dibesarkan dengan tradisi Katolik, saya menimba banyak ilmu tentang keislaman, bahkan sempat memperkenalkan Ustazah Lelah kepada Ibu saya yang juga sedang banyak mempelajari tentang sejarah peradaban Islam.

Saya membayangkan, betapa bahagianya rombongan itu saling bersenda-gurau satu sama lain, seakan mengenang masa lalu sebagai seorang santri. Ketika sedang menyiram tanaman, saya membiarkan pintu geser terbuka, supaya bisa menguping canda-tawa mereka, sementara sebagian lainnya sedang melaksanakan solat asar dengan khusyuk. Sering saya mendengar percakapan mereka, terutama soal mendidik anak-anak agar rajin beribadah, menjauhi minuman keras dan pergaulan bebas, serta hanya mengonsumsi makanan yang dihalalkan oleh agama Islam.

Sebenarnya penginapan ini jarang ditempati oleh penyewa, kecuali pada hari Sabtu dan Minggu, ditambah hari-hari libur nasional. Kalau musim hujan tiba, jalanan yang menuju minimarket agak becek menuju, dan Ayah biasanya mengajak saya menaburi sepanjang jalan dengan pasir sungai dan batu kerikil yang dibeli dari toko material. Padahal kalau dia mau, bisa saja menghubungi Pak RW setempat agar masyarakat sekitar menghimpun patungan secara swadaya, tetapi Ayah tidak mau merepotkan masyarakat. Ia menyisihkan dana secara pribadi guna menaburi jalanan itu agar bisa dilalui motor dan mobil.

Para bapak mengenakan pakaian yang agak santai, sementara ibu-ibunya mengenakan seragam dan hijab berwarna-warni, seolah-olah mereka mirip satu sama lain. Kita mudah mengenalinya seolah-olah mereka masih kakak-beradik. Selain itu, seorang ibu dalam rombongan itu agak unik dan langka, selalu saja membawa-bawa buku catatan dan pena setiap kali berangkat ke pantai.

Namanya Ibu Ningsih. Dan teman-teman lainnya tak pernah mempersoalkan kebiasaannya mengoret-oret sesuatu di dalam buku catatannya. Sepertinya mereka sudah mafhum dan lazim adanya.

***

Pada hari kedua, jantung saya berdegup kencang ketika Ibu Ningsih memanggil saya setelah selesai dari tugas menyiram tanaman. Ia menyuruh saya duduk bersebelahan di sekitar meja kayu di teras hotel. Ia menanyakan ibu saya, dan seketika itu saya pun memanggil Ibu agar duduk bersamanya.

“Kami mendengar keluarga Ibu tertarik dengan Islam?” tanya Ibu Ningsih kepada Ibu saya.

“Saya dan anak saya ini memang sudah berbulan-bulan membaca literatur tentang Islam, khususnya melalui media sosial.”

“Yah, nama adik siapa?” tanyanya sambil menoleh ke arahku.

“Dila…Dila Alexander…”

“Baik… bolehkah saya bertanya pada Ibu terlebih dahulu?”

“Silakan, Bu.”

“Kira-kira apa yang Ibu suka mengenai Islam selama ini?”

Sambil menatap lautan lepas, Ibu saya menjawab dengan pandangan menerawang, “Selama beberapa tahun ini, saya dan anak saya ini merasa tertarik dengan perjuangan rakyat Iran yang tampaknya dapat dipercaya untuk membawa peradaban manusia yang lebih baik di masa yang akan datang.”

“Lebih spesifik lagi?”

“Terutama soal persaudaraan, ukhuwah Islamiyah, kepekaan dan kepedulian seorang muslim kepada seluruh manusia dan makhluk ciptaan Tuhan.”

“Lalu, bagaimana dengan Amerika?”

“Saya kira, Amerika sudah tidak layak diandalkan sebagai negeri adidaya lagi ke depan.”

“Kalau Inggris?”

“Justru masyarakat Inggris semakin tertarik pada Islam, bahkan di negeri itu kemajuan Islam sangat berkembang pesat.”

Seketika itu, Ibu Ningsih membaca dengan sungguh-sungguh mereka dengan berkaca-kaca, lalu berkata, “Kalau Ibu dan adik sudah beritikad dengan baik, kenapa sekarang tidak saja bersyahadah untuk memeluk Islam?”

“Apa maksudnya, bersyahadah?” tanyaku.

“Membaca dua kalimat syahadat…”

“Semacam berikrar, begitu?”

“Ya.”

“Semudah itukah?”

“Ya, semudah itu.”

“Bukankah kita harus melakukannya di dalam masjid?”

“Cukup di sini saja…”

“Di pantai ini?”

“Ya, karena setiap tempat di mana pun adalah bumi Allah.”

Seketika itu, Ibu Ningsih memanggil empat orang ustaz dan kiai dalam rombongan itu, di antaranya Kiai Eeng Nurhaeni, Kiai Muhajirin, Kiai Asja Rifai, dan Kiai Sartajaya, sekaligus dihadiri oleh puluhan sahabatnya dari pesantren Daar el-Qalam (Rumah Pena), yang semuanya menyaksikan saya dan Ibu membacakan dua kalimat syahadat yang dipandu oleh Kiai Eeng Nurhaeni.

Kini, nama ibu saya yang semua Veronica, telah ditambahkan “Adiba” di depannya, menjadi Adiba Veronica, dan saya sendiri yang semula Dila Alexander, kini diubah menjadi Supadilah Iskandar.

Pada sore hari, setelah rombongan itu berbilas dari pantai, mereka saling bercengkerama membincang soal pasir pantai hari ini yang cerah, air laut yang bening, dan ombak besar sebagai pemandangan indah, mengingatkan saya pada para pengikut Musa yang menjalani eksodus dari Mesir, sampai kemudian memuat dan membelah lautan lepas atas izin Tuhan Yang Maha Besar.

Mereka saling berfoto dan mengambil gambar, memandangi teman-teman nelayan di jarak jauh, Gunung Anak Krakatau yang tampak jelas di tengah cuaca cerah, serta dua pulau di laut Panimbang yang konon tak ada penghuninya.

Ustaz Rauf dan Ustazah Lelah bertanya pada ibu saya, tentang nama dua pulau di jarak itu.

“Barangkali pulau-pulau itu belum ada yang memberi nama,” kata ibu saya.

“Kalau begitu, sebut saja namanya Pulau Adiba,” kata Ustazah Lelah.

“Lalu, pulau di sebelah kita beri nama Pulau Iskandar, setuju?” pancing Ustaz Rauf, yang kemudian serentak disambut seluruh rombongan, “Setujuuu!”

***

Saya menyadari betapa senangnya kedatangan tamu dari rombongan orang-orang terpandang. Betapa senangnya menyaksikan keceriaan mereka saat menikmati suasana desa di sekitar Panimbang dan Tanjung Lesung ini. Mereka seperti menikmati tiap detail yang bisa membantu mereka tenang berpikir, beristirahat, dan bermimpi. Kadang-kadang saya dibuat penasaran apakah rombongan itu benar-benar tahu tentang kesenyapan yang digantung di desa kami. Terutama di kegelapan malam, saat angin bertiup kencang yang dirasakan seperti gempa dan tsunami, atau datangnya hujan deras yang membuat kami selalu terjaga dan tak bisa tidur nyenyak.

Apakah mereka paham dengan hari-hari yang diliputi ketenangan yang mencekam, yang seringkali hadir di sepanjang musim hujan dengan cuacanya yang sangat dingin? Tetapi kini, saya semakin yakin tentang kebesaran dan keagungan Allah. Segala kejadian alam kapanpun dan di manapun, besar maupun kecil, pada hakikatnya dalam kendali dan manajemen Allah. Terlebih lagi, sehelai daun yang terjatuh di kegelapan malam, tetap dalam pengaturan dan pengawasan Allah semata.

Pada hari terakhir, sebelum pamit berangkat, rombongan itu menyapa saya dan Ibu satu persatu, sambil mengatakan bahwa mereka sangat menyukai tmpat penginapan kami. Saya berharap rombongan ini baik-baik selalu, dan selamat sampai tujuan. Kami saling membalas ucapan salam dan menukar tangan, seketika kendaraan mereka hilang dari pandangan mata.

Lalu, kami pun segera beres-beres, serta membersihkan penginapan untuk rombongan atau keluarga baru yang akan datang besok siang.

Tenyata, ada beberapa barang yang mereka lupa bawa. Atau sengaja tak dibawa? Saya memegang dan mengamati barang-barang itu, di antaranya Al-Quran dan tejemahannya, satu kitab tebal berisi hadits Bukhari-Muslim.

Di meja serambi rumah saya menemukan buku catatan yang sering dibawa-bawa Ibu Ningsih. Barangkali, catatan-catatan itu sudah dipindahkan ke dalam fail tersendiri di laptopnya. Seketika saya membuka-buka sepintas. Ternyata isinya adalah cerita-cerita tentang kehidupan saya dan Ibu sebagai muallaf yang akhirnya berhasil membaca dua kalimat syahadat di Pantai Tanjung Lesung. (*)

Oleh: Supadilah Iskandar

Penulis adalah Peneliti dan penikmat sastra milenial, aktif menulis cerpen dan esai di berbagai media nasional, cetak dan online

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.