Semua orang bertanya-tanya tentang rahasia kecantikan Poppy Irawaty, seorang artis pendatang baru kelahiran desa Nameng, Rangkasbitung, Banten. Ia punya rahasia tersendiri, yang tak mungkin diberitahu pada siapapun. Termasuk kepada Anda.
Ibunya meninggal dunia sewaktu dia masih berumur lima tahun, kemudian dia pun dibesarkan oleh ayahnya, yang di kemudian hari ayahnya membangun keluarga baru.
Ayahnya menikah lagi ketika Poppy sudah berusia enambelas tahun. Ia tahu bahwa ayahnya telah menemukan wanita lain ketika ibunya masih hidup. Poppy sendiri tak pernah membenci sang ayah karena pilihan hidupnya itu.
“Tapi sekarang, saya sudah besar dan cukup mengerti. Ayah tak usah khawatir tentang saya,” ujar Poppy pada suatu hari. “Saya hanya menginginkan agar Ayah bisa hidup tenang dan bahagia.”
Keesokan harinya sang ayah pergi, meninggalkan apartemen Poppy yang kini sudah menetap di wilayah Jakarta Selatan.
Poppy tumbuh menjadi wanita cantik hingga menjadi model terpandang. Dengan mengenakan aneka macam pakaian, ia sering tersenyum dan tertawa dengan tatapan janggal seakan menerawang. Ia hidup dari satu tempat ke tempat lain, dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga Surabaya. Ia pun mulai berganti-ganti pasangan hidup. Ia tampil dari satu panggung ke panggung dangdut lainnya. Suaranya tidak bagus-bagus amat, tetapi kecantikannya yang kemudian membuatnya terkenal sebagai model iklan. Kini, wajah cantiknya terpampang jelas di berbagai macam plang dan baliho di sepanjang jalan-jalan protokol.
Orang-orang mengenali wajahnya, meski mereka kurang mengenal siapa nama sebenarnya. Berkat keglamoran profesinya, terutama kecantikannya, orang-orang berkumpul di sekelilingnya, baik pria maupun wanita. Mereka yang berduit maupun yang hutangnya seabrek datang menemui Poppy, kemudian pergi lagi seolah-olah kabur dan ingin menghindar darinya. Pada akhirnya, kecantikannya yang misterius itu, membuat semua orang merasa takut dan merinding.
Sebenarnya, wajahnya bukanlah tipikal wanita yang penuh semangat dan pintar memikat. Tetapi, ketika orang menatap matanya, ia merasa seperti diterawang. Sebagian orang merasa dirinya terhipnotis, terculik, seakan menyeretnya ke lembah malapetaka yang menggiurkan dan memabukkan.
Di antara mereka ada yang kabur dan pergi begitu saja, menghindar darinya secara sembunyi-sembunyi, tanpa ada penjelasan apapun.
Orang-orang yang masih bertahan dengannya hanyalah orang nekat yang tak peka dan tak punya perasaan. Sebenarnya, Poppy tak memiliki seorang pun yang dapat disebutnya pacar atau kekasih. Ia tidak tahu sebabnya, mengapa dikelilingi orang-orang tolol dan dungu semacam itu. Tetapi, ia menganggap dirinya baik-baik saja. Baginya, ketika dikelilingi orang-orang yang bukan teman sejati, dengan sendirinya ia justru merasa aman untuk tidak memberitahu rahasia kecantikannya.
Boleh dibilang, hanya sekali Poppy pernah merasakan jatuh cinta. Dan hanya kepada kekasihnya itu ia mencoba memberitahu rahasianya.
“Ibu saya tenggelam di Danau Padarincang ketika saya masih kecil. Saat itu, saya melihat Ibu di kejauhan, dan ia semakin jauh berjalan ke tengah danau itu. Saya memanggil-manggilnya, dan ia pun sempat menoleh. Sementara air telah mencapai lehernya, dan Ibu sempat tersenyum pada saya. Ia pun melambaikan tangannya di kejauhan, sambil mengucapkan selamat tinggal pada saya.”
“Kenapa dia semakin melangkah ke tengah danau?” tanya kekasihnya heran.
“Saya sendiri kurang tahu. Mungkin karena dia merasa kecewa, karena menganggap Ayah memiliki wanita lain.”
“Lalu, apa yang kamu lakukan saat itu?”
“Saya hanya melihat dan menatapnya dari kejauhan. Saat itu saya melihat rambut Ibu masuk pelan-pelan ke bawah permukaan air…”
“Apakah kamu merasa sedih?”
“Ya, tentu saja. Tapi waktu itu saya enggak mengerti apa yang sedanag terjadi.”
Mereka terdiam membisu, kemudian kata kekasihnya, “Sebaiknya kamu harus melupakan kejadian itu. Bagaimanapun, anak kecil tidak mengerti apa-apa ketika ibunya memutuskan untuk bunuh diri. Itu bukan berarti kamu masa bodoh dengan membiarkan dia tenggelam di tengah danau itu.”
“Tetapi saya masih terkenang pada Danau Padarincang itu sampai sekarang, terutama ketika Ibu menyuruh saya membasuh muka dari airnya yang jernih itu. Entah mengapa, keesokan harinya muka saya terlihat begitu putih bersih, dan berseri-seri.”
Itulah yang dikatakan Poppy Irawaty pada kekasihnya, tetapi tak lama kemudian lelaki itu pun meninggalkannya dan menghilang entah ke mana. Poppy merasa tak perlu untuk mencari-cari lelaki brengsek itu. Dia juga tak merasa perlu untuk menangis atau bersedih ditinggalkan lelaki manapun. Meskipun, ia sempat menyesal telah membeberkan rahasianya kepada lelaki itu. Padahal, kepada ayahnya sendiri tak pernah ia ceritakan tentang rahasia kecantikannya.
Seketika itu, perut Poppy merasa mual dan ingin muntah, lalu ia berkata pada dirinya sendiri, “Saya tak mau berbagi pengalaman hidup kepada siapapun. Sekarang saya sudah kapok, dan biarlah semuanya hanya menjadi pengalaman hidup saya pribadi!”
Setelah beranjak dewasa dan semakin terkenal di dunia selebriti, Poppy bertanya pada saya perihal ibunya yang melambaikan tangan di tengah Danau Padarincang itu. Saya adalah orang kepercayaannya sejak ia masih muda. Bagaimana mungkin saya akan tahu rahasianya, jika dia tidak menceritakannya pada saya?
Sebenarnya, pada saat kejadian itu, saya juga sedang berada tak jauh dari Poppy, karena ibunya mengajak saya sebagai saudara sepup;unya, menuju Danau Padarincang. Tak lama setelah membasuk muka dengan air danau yang jernih itu, tiba-tiba saya dikagetkan oleh teriakan suara Poppy: “Ibu… topi saya terbang! Cepat, ambilkan, Bu!”
Si ibu masuk ke danau untuk mengambilkan topi. Kakinya barangkali terpeleset sesuatu. Saat itu, si ibu bukan melambaikan tangan, melainkan meminta pertolongan. Si anak cuma berdiri menonton ibunya, sementara air danau pelan-pelan menenggelamkan tubuh wanita itu. Dan saya pun berdiri terpaku, hanya menonton dan tak bisa berbuat apa-apa.
Dengan demikian, saya memiliki rahasia yang sama dengan Poppy Irawaty. Itulah yang menjadikan saya terlihat begitu cantik dan mempesona dalam pandangan banyak orang, khususnya kaum lelaki. Rahasia kecantikan saya, memposisikan saya dan Poppy seolah-olah kakak beradik. Tidak ada yang tahu mengenai ini, termasuk Poppy. Hanya saya yang tahu. (*)
Oleh: Indah Noviariesta
Penulis adalah Aktivis Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa), menulis cerpen dan kritik sastra di berbagai media massa, daring dan luring.








