Memanggil Rafi

oleh -704 Dilihat
banner 468x60

Saya berusaha menepi dari jalan Tendean menuju trotoar, kemudian mendangak ke atas pada bangunan kantor berlantai lima itu. Bangunan itu berdinding kaca riben pada bagian depannya, hingga tampak suasana begitu gelap dari luar. Kedua telapak tangan saya katupkan pada mulut, seakan membentuk corong, kemudian berteriak sekeras-kerasnya: “Rafiii!”

Bayangan tubuh saya terlihat jelas dari pantulan sinar matahari yang amat terik di siang itu. Saya semakin menepi ke trotoar, membiarkan orang-orang berjalan lalu-lalang di sekitar saya. Sampai kemudian seseorang berhenti persis di samping saya, ikut mendangak sambil menegur, “Teman Mbak ada di lantai berapa? Kalau dia menempati lantai lima, Mbak enggak akan kedengaran, karena terlalu tinggi.”

Tanpa menghiraukan omongannya, kembali saya berteriak sekali lagi: “Rafiii!”

Sekarang sekitar empat orang berhenti di sekitar saya. Salah seorang berteriak, mencoba membantu saya, “Rafiii…”

“Enggak mungkin kedengaran, suara Bapak kurang keras,” kata seorang pemuda mencoba membantu kami, “Rafiii!!!”

Tak ada aba-aba sama sekali, juga tak ada tanda-tanda seseorang menyahut dari atas. Bapak yang tadi, mengajak kami bertiga untuk teriak bareng-bareng, “Rafiiiii!”

“Kita kurang kompak, Pak, ayo kita ulang sekali lagi, “Rafiiiii!”

“Ah, masih kurang serempak, ayo, kita tarik nafas dulu, lalu teriak pada hitungan ketiga, satu, dua, tiga, Rafiiiii!”

Sekitar lima orang mahasiswa yang baru pulang kuliah di Universitas La Tansa Banten, ikut berdiri di sekitar kami. Salah seorang dari mereka mengajak keempat temannya agar membantu kami. Kemudian mereka serempak menarik nafas panjang seraya mempersiapkan pita suaranya, lalu beramai-ramai berteriak, “Rafiii!”

“Ayo, teriak lebih keras lagi, kita ini kan kelompok paduan suara di kampus, Rafiii… Rafiiiii…!”

Beberapa karyawan pabrik yang melintas di trotoar, ikut bergabung bersama kami. Tak lama kemudian, di sekitar itu ada sekitar 30 orang, yang turut serta berteriak bersama-sama, “Rafiiiii!”

Ternyata, mengatur orang-orang untuk berteriak ramai-ramai di jalanan bukanlah perkara mudah. Ada saja yang teriak dengan suara pelan, fals dan cempreng. Ada juga yang suaranya melengking, bahkan menggelegar bagaikan suara bass yang dipetik. Tetapi, ada juga yang kelihatannya kompak namun tidak mempersiapkan pita suaranya dengan baik, sehingga nafas mereka tersengal-sengal. Dengan begitu, sama sekali saya tidak berhasil untuk mempersatukan mereka, hingga terbilang belum sukses untuk menghasilkan teriakan yang kompak dan serempak.

Lalu, saya menjelaskan pada mereka semua, bahwa kata Rafi terdiri dari dua suku kata. Pertama diawali dengan dua huruf “ra”, kemudian “fi”. Huruf R dan F disebut huruf vokal, sedang A dan I adalah huruf konsonan…”

“Maaf, itu terbalik, Mbak,” potong seorang mahasiswi mengingatkan saya, “kalau konsonan itu R dan F, sedang yang vokal itu A dan I.”

“Oke, baik terimakasih, lalu pada suku kata pertama, usahakan nadanya agak keras, sebab pada suku kata kedua ketemu dengan huruf I yang nadanya agak menurun. “Apakah kalian mengerti apa yang saya maksudkan?” tanya saya.

Sebagian mengangguk dan menyatakan mengerti, namun sebagian besar tentu saja bingung dan melongo mendengar keterangan saya yang panjang lebar.

Ada beberapa pegawai pabrik terdiam, namun kepalanya manggut-manggut di depan saya. Kepada mereka saya menyuruh berlatih dulu, karena salah seorang dari mereka terdapat pemuda yang tak bisa melafalkan huruf “R”. Kemudian teman-temannya saling tertawa ketika saya menyuruh agar ujung lidahnya bergetar, ditempelkan pada langit-langit mulut, lalu kata saya, “Ayo, coba sekali lagi, sekali lagi, “er”, kamu harus bisa….”

Dia mengulang berkali-kali, namun hasilnya tetap saja nihil. Dia tetap cadel dan tak sanggup melafalkan huruf “R”. Lalu, saya contohkan beberapa kata yang ada huruf R-nya, seperti “Ratu”, “Rambut”, “Rokok”. Hasilnya, tetap saja dia tak mampu melafalkannya. Lalu, seorang temannya bergurau, agar dia menggurah kerongkongannya, supaya tenggorokan dan paru-parunya bersih, kalau perlu banyak-banyak menelan biji kedondong biar sembuh.

Setelah berlatih sebanyak puluhan kali, kami pun mulai bisa menghasilkan teriakan terpadu. Tetapi, baru saja kami merasa sedikit puas dengan hasil teriakan yang lumayan, seseorang mendadak mengangkat tangannya untuk mengajukan pertanyaan, “Maaf, apakah Mbak yakin kalau Rafi itu ada di kantor atas?”

“Tidak juga,” ujar saya menggeleng.

“Lho? Apakah Mbak bawa kunci kantornya?”

“Saya bawa kunci pintu rumah saya.”

“Tapi di atas itu kan kantor? Kenapa Mbak enggak langsung ke atas saja untuk menemui teman Mbak? Siapa tadi namanya?”

“Rafi.”

“Rafi, anak Pak Lurah Jombang?” kata teman di sebelahnya.

“Bukan.”

“Atau yang pemain bola itu?”

“Juga bukan.”

“Lalu, Rafi siapa” Yang bintang film itu?”

“Sama sekali bukan.”

Orang-orang semakin bingung dan saling bersitatap. “Lalu, yang Mbak panggil itu Rafi siapa?”

“Ya, teman saya dong.”

“Kalau begitu, ngapain Mbak ngerjain kami? Langsung saja ke atas, lalu gedor pintunya.”

“Enggak ada pintunya, Pak.”

“Lalu, Mbak masuk lewat mana?” cetusnya kesal.

“ Pakai lift.”

“Oo begitu… ya, gedor aja pintu lift-nya!”

Mereka semua menatap saya dengan sorotan tajam. Seseorang mendekat pelan, lalu angkat bicara, “Apakah benar Mbak punya teman yang namanya Rafi?” ia berusaha meyakinkan saya.

“Iya, benar,” jawab saya mengangguk. “Tapi, dia enggak tinggal di atas situ.”

“Lalu, di mana, Mbak?” tanyanya jengkel.

“Di Sulawesi Selatan.”

“Walah, welaaah!”

Mendengar jawaban saya, kerumunan orang itu saling bersitatap keheranan.

Seorang pemuda yang tampangnya seperti seniman jalanan, menodongkan telunjuknya ke muka saya, “Saya minta, Mbak jangan sekali lagi mempermainkan orang di jalanan,” ancamnya bengis.

“Oya? Emangnya kenapa?” tantang saya, sambil melirik yang lainnya agar memberikan dukungan. Namun, rupanya tak seorang pun mau memberikan dukungannya kepada saya.

“Oke, kalau begitu,” kata saya di tengah kerumunan itu, “Bagaimana kalau kita berteriak dengan kata Rafi sekali lagi, lalu setelah itu kita bubar?”

Akhirnya, ada yang mau meneriakkan kata Rafi, tetapi sebagian besar ogah dan langusng ngeloyor pergi sambil memancangkan tatapan sengit ke arah saya.

Beberapa orang karyawan dan mahasiswa meninggalkan saya, sambil mengubah teriakan beramai-ramai di sepanjang jalan, “Sableng… senewen… sintiiing…!” ***

Oleh: Irawaty Nusa

Penulis adalah Cerpenis generasi milenial, juga peneliti program historical memory Indonesia

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.