Di pedalaman kabupaten Serang, terdapat seorang jawara terkenal yang pernah sukses di masa pemerintahan lalu, namun di era milenial ini dia telah jatuh bangkrut. Akhirnya, dia pun terpaksa meninggalkan rumahnya, mengabdikan diri pada seorang pejabat gubernur di provinsi Banten yang berjarak puluhan kilometer dari tempat kediamannya.
Sebelum meninggalkan desanya, laki-laki jawara itu menceraikan istrinya yang berasal dari suku Sunda Baduy, seorang istri yang begitu patuh dan taat pada adat istiadat leluhurnya. Kini, jawara itu bekerja sebagai pengawas (security) di rumah majikannya, hingga selang beberapa bulan ia pun memperistri seorang wanita lain dari suku Betawi, lalu membawanya tinggal bersama di rumah kontrakannya di wilayah Kota Tangerang.
Sebagai pemuda Banten yang cenderung temperamental, sikapnya dikenal angkuh, sembrono dan kurang perhitungan. Ditambah dengan pahitnya kehidupan masa lalu di kampung udik yang serba miskin dan kurang berpendidikan. Pernikahannya yang kedua memberikan pembuktian bahwa dirinya lagi-lagi merasa kurang bahagia. Istrinya juga bersikap kasar dan cerewet, dan hanya mementingakan urusan dirinya sendiri saja.
Dengan perasaan sedih lelaki itu mengenang kehidupan sehari-hari di kampung halamannya. Ia mengakui dirinya sangat mencintai istri pertamanya yang lembut dan penuh kasih, serta perhatian terhadap sang suami, meskipun ia tergolong wanita udik dari pedalaman Banten Selatan.
Lama kelamaan, jawara itu semakin menyadari dirinya telah bersikap tidak adil terhadap istri pertamanya, dan merasa kurang berterimakasih. Penyesalannya telah berubah menjadi suatu penderitaan, sehingga tidak ada kedamaian dalam hatinya. Kenangan-kenangan masa lalu bersama sosok wanita yang telah dikecewakannya. Tutur katanya yang lembut, senyumnya, kecantikannya, dan kesabarannya yang tulus, selalu membayangi dirinya. Kadang dalam tidurnya, ia kerap melihat mantan istrinya bersanding dengan alat tenun dan anyaman bambu dari tradisi Baduy. Istrinya sedang asyik membuat anyaman untuk dibuat tikar, tempat mereka duduk berduaan di sekitar kebun di serambi rumahnya. Ia teringat ketika sang istri sedang berlutut sendirian di kamar yang gelap dan sunyi, mengusap air matanya ketika jawara itu menyatakan dirinya akan pergi setelah menceraikannya.
Bahkan, pada jam-jam kerja di kantor security, angan-angannya kembali melayang, sampai ia selalu bertanya pada dirinya, bagaimana kehidupan istrinya sekarang dan apa yang sedang ia lakukan.
Satu hal yang meyakinkan jawara Banten itu, bahwa mantan istrinya tidak bakal berani menerima laki-laki lain di sisinya, juga tidak bakal menolak untuk memaafkan dirinya. Maka, diam-diam ia pun memutuskan untuk mencarinya, segera setelah ia kembali ke kabupaten Serang nanti. Ia akan meminta maaf kepadanya, agar sudi kiranya menerima mantan suami di sisinya, sebagai seorang lelaki yang layak untuk menebus dosa dan kesalahannya. Dan waktu pun terus berjalan selama bebereapa tahun, hingga masa jabatan gubernur berakhir.
***
“Betapa kejam dan bodohnya aku yang telah meninggalkan istriku selama ini. Sekarang aku harus menebus dosa dan kesalahanku, untuk kembali ke pangkuannya,” gumam sang jawara pada dirinya sendiri.
Ia pun memulangkan istri kedua ke rumah orang tuanya, kemudian segera menaiki bus antar-kota menuju kabupaten Serang. Ia menyewa ojek agar dapat mengantarkan dirinya menuju rumah mantan istrinya. Ketika sampai di tempat tujuan, malam sudah agak larut. Suasana desa diselimuti kesunyian, laiknya di tengah-tengah pekuburan. Ada cahaya rembulan yang membuat keadaan di sekitar tampak remang-remang. Ia pun mendekati rumah dengan melangkah pelan-pelan. Tetapi, rumah tua itu tampak tak berpenghuni. Tembok-temboknya bercendawan, serta atap rumahnya penuh dengan rerimbunan rumput liar.
Beberapa kali ia mengetuk pintu depan, tetapi tidak ada jawaban. Kemudian, ia tahu bahwa pintu itu tidak terkunci dari dalam, lalu mendorongnya pelan-pelan hingga terbuka. Ia pun melangkah masuk ke dalam rumah. Tampak ruang depan tidak beralas dan kosong. Angin malam dingin berhembus melalui celah-celah lubang angin di atas dinding. Cahaya rembulan masuk melalui sebuah lubang kasar pada daun jendela yang rusak dan keropos. Kamar-kamar lainnya juga menunjukkan kondisi yang menyedihkan.
Tampak semakin jelas rumah itu tak berpenghuni. Meja dan kursi beralas debu yang kian menebal. Lelaki jawara itu menatap pintu salah satu kamar di ruang tengah, yakni kamar yang biasa ia tempati bersama istri yang dicintainya. Ketika mendekati tirai yang menutup pintu kamar, ia terhenyak melihat seberkas terang di dalamnya. Ia menyibakkan tirai, dan merasa takjub dan gembira sekali melihat sang istri ada di dalamnya. Ia sedang duduk di kursi sambil menjahit kain tenun dengan penerangan lampu minyak. Kedua mata istrinya seketika menatap pandangannya. Seketika sang istri menyambutnya, sambil berujar, “Sejak kapan kau kembali ke desa ini? Bagaimana mungkin kau bisa menemukan aku di tengah kamar yang gelap dan remang ini?”
Tahun-tahun berlalu, sepertinya tidak membuat istrinya berubah. Wanita Sunda Baduy itu tampak masih secantik dan semuda seperti dalam kenangannya. Namun, yang membuatnya agak berubah adalah suara yang keluar dari getaran kerongkongannya.
Dengan senang hati, malam itu sang jawara memegang dan meremas-remas tangan istrinya, seraya meminta maaf atas kekhilafan dan kesalahan masa lalunya. Ia menyatakan dirinya sangat menyesal, telah meninggalkan sang istri seorang diri di tempat yang begitu sunyi dan sepi. Betapa lama ia telah menanti dan bermaksud menebus kesalahannya. Seketika itu, ia menangis dan memeluk sang istri dan berkali-kali menyatakan permintaan maaf.
Wanita Baduy itu menjawab dengan penuh kelembutan hati dan pesona keanggunannya. Ia meminta agar sang suami tidak hanyut dalam penyesalan, hingga terlampau mempersalahkan diri sendiri. “Barangkali, aku ini memang kurang pantas untuk menjadi istrimu, Kang.”
Bagaimanapun, sang istri maklum bahwa ia telah berpisah darinya hanya karena kemiskinan. Sang suami juga maklum bahwa ketika hidup berdua, ia selalu bersikap baik kepadanya, dan bahkan senantiasa berdoa bagi kebahagiaan suaminya.
Meskipun ada alasan untuk bicara soal menebus kesalahan, pertemuan yang indah itu sudah lebih dari cukup untuk menebus segala dosa dan kekhilafan. Bukankah kebahagiaan saat itu lebih dari sekadar pertemuan, “Walaupun hanya sesaat,” tegas sang istri.
“Ha! Walaupun hanya sesaat? Apa maksudnya, Neng?” tanya sang suami kaget.
“Ya, pertemuan kita hanya sepintas lalu saja.”
“Ah tidak, Neng. Sekarang Akang akan menjagamu, mengasihimu dan mencintaimu sepenuh hati, bahkan hingga tujuh turunan sekalipun! Tenang saja, Neng, jangan khawatir. Akang akan selalu berada di sampingmu. Sekarang kita sudah bersatu, dan tak mungkin ada yang memisahkan kita lagi. Sekarang ini, Akang punya simpanan di bank, dan Akang juga punya banyak teman di Kota Tangerang dan seluruh wilayah Banten ini. Besok pagi kita berangkat ke bank yang terdekat, dan kita ambil tabungan Akang untuk merehab rumah dan membeli perabotan baru. Akang juga punya rencana untuk buka usaha di desa ini dan kita bisa membayar beberapa petukang yang akan menjalani usaha kita nanti. Bagaimana, Neng?”
Sang istri tampak sangat lega mendengar kata-kata itu. Mereka saling bercengkerama hingga larut malam. Sang istri bercerita tentang segala hal yang dialaminya di desa terpencil itu, pada tahun-tahun selama kepergian sang suami. Satu hal yang tak ia ceritakan, yaitu tentang kesedihannya. Wanita itu menolak bercerita tentang kesedihan yang dialaminya selama ini.
Menjelang datangnya waktu subuh, wanita itu mengajak suaminya menuju ke sebuah kamar yang lebih hangat, sebuah kamar yang menghadap ke selatan. Kamar itu dulunya pernah ditempati sebagai kamar pengantin mereka, dan si suami teringat kenangan indah pada malam-malam pertama sebagai pengantin baru.
***
Mereka duduk berdampingan di atas ranjang pengantin. “Apakah Neng tidak punya pembantu di rumah ini?” tanya sang suami.
Dengan tatapan menerawang, si istri menjawab, “Aku tak bisa membayar pembantu, Kang, karena tak pernah punya uang. Jadi, semuanya aku kerjakan sendirian.”
“Baik, Neng,” kata si suami mantap, “besok Akang mau carikan beberapa pembantu yang bisa membantu segala keperluan kita di sini, lalu Akang akan segera menghubungi para petukang untuk merehab rumah kita secepat mungkin.”
Suami-istri itu saling merebahkan dirinya di atas ranjang. Mereka saling mencurahkan isi hatinya masing-masing. Keduanya punya banyak pengalaman yang dapat mereka ceritakan. Mereka bercerita tentang masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Hingga kemudian, sang suami merasa kantuk dan terlelap tidur.
Ketika fajar mulai merekah, mata lelaki jawara itu terbuka dan terbelalak kaget. Matahari pagi masuk melalui celah-celah daun jendela. Tiba-tiba ia terkesiap dan bangkit dengan penuh kesadaran. Kini, ia betul-betul menyadari bahwa dirinya tengah terduduk di atas kayu yang kotor berdebu, dengan bilah-bilah papan yang sudah lapuk dan keropos. Jadi, apakah dia cuma bermimpi? “Tidaaak!” teriaknya keras. “Ke mana istriku… di mana istriku berada…?”
Lelaki itu menengok ke samping. Seketika ia terkejut menatap tulang-belulang dan tengkorak manusia yang terbungkus kain kafan yang kotor dan lusuh karena termakan usia. Di sekitar tengkorak kepalanya, masih banyak rambut hitam legam dan panjang terurai dengan kusut-masai.
Sekujur tubuhnya gemetar ditingkap oleh sinar matahari pagi. Perasaan takut itu bercampur-baur dengan rasa kecewa yang tak tertahankan. Ia benar-benar diejek dan dipermainkan oleh bayang-bayang dan imajinasinya sendiri. Kemudian, jawara itu berlari dan melompat keluar rumah. Ia menerawang dengan tatapan kosong, menghela nafasnya dalam-dalam. Pada jarak beberapa puluh meter dari tempat itu, seorang nenek yang bejalan bersama suaminya, tiba-tiba bertanya, “Adik dari mana? Kelihatannya letih sekali?”
Berpura-pura tidak mengenal daerah itu, si jawara memberanikan diri bertanya tentang rumah kosong kepada kedua pasangan lansia tersebut.
“Sudah bertahun-tahun rumah itu kosong, Nak,” jawab si kakek, “Dulu penghuninya adalah seorang istri jawara Banten. Dia seorang wanita Sunda Baduy, tetapi kabarnya dia telah ditinggal pergi oleh suaminya. Sebelum pergi dan bekerja di kota, suami itu menceraikan istrinya terlebih dahulu. Mungkin dia sudah punya istri lagi sekarang ini. Setelah diceraikan oleh suaminya, wanita itu hidup menderita sendirian, dan tak pernah menikah lagi. Kabarnya, wanita itu sering jatuh sakit, tetapi dia tak punya keluarga dan sanak-saudara di sekitar desa ini. Sejak pertengahan 2020 lalu, ketika wabah Corona melanda desa ini, barangkali tak ada lagi orang yang memperhatikan wanita Baduy itu. Akhirnya, dia meninggal dunia di awal musim hujan, persis pada hari ketigapuluh bulan kesembilan tahun 2021 lalu.” (*)
Oleh: Muakhor Zakaria
Penulis adalah Prosais dan esais, menjadi dosen sastra di Universitas La Tansa Mashiro (Unilam) di Banten Selatan, Rangkasbitung, Lebak.







