Konsumerisme

oleh -722 Dilihat
Consumerism word concepts banner. Excessive purchasing. Spending money. Infographics with linear icons on pink background. Isolated creative typography. Vector outline color illustration with text
banner 468x60

Dia berteriak lantang, “Awas! Jangan disentuh!”

“Ah, kebiasaan? Pasti masalah pamali lagi, kan?” balas saya jengkel.

“Jangan dipegang! Biarkan di atas meja!”

“Apaan ini?” tanya saya heran.

“Selotip… itu isolasi khusus yang bisa dipakai bolak-balik buat nempelin apa saja. Multifungsi.”

“Multifungsi apaan? Buat apa kamu beli ini banyak-banyak?”

“Tentu saya enggak bakal beli kalau enggak butuh?”

“Sampai empat gulung begini?”

“Ya, karena saya butuh, itu saja.”

“Lalu, apa yang mau direkatkan dengan selotip ini? Alasannya apa?”

“Udah diam! Alasannya sama saja dengan alasan saya kawin sama kamu!”

“Lho? Apa hubungannya?”

Lima tahun menikah, belum dikaruniai anak. Kadang dihinggapi rasa suntuk, tapi kadang juga diliputi kegaduhan seperti di masa-masa pacaran dulu. Ada banyak persamaan yang dapat saling bersinergi, tapi tidak jarang juga perbedaan yang membuat perahu ini retak-retak terhempas ombak, sampai kemudian – menurutnya – harus direkatkan kembali.

 “Tapi saya enggak ngerti, kenapa sih kamu membeli barang-barang yang enggak berguna macam itu?”

“Yaa, iseng aja,” katanya santai.

Sompret doang! Ditanya baik-baik malah jawabnya nyantai. Padahal, saat itu saya lagi malas bertengkar. Lalu, saya baca pada selingkaran kemasan selotip itu. Ada tulisan besar FOZ ZELOTIP. Ada kalender dan lukisan menempel di dinding, bahkan tikus dan kucing juga ikut menempel di dinding. Anehnya, ada juga gambar seorang pemuda yang tubuhnya menempel di tembok, seakan ia kesulitan untuk melepaskan diri dari lengketnya tembok itu.

“Taik kucing! Mana ada selotip yang bisa membuat orang bisa nempel di dinding kayak gini?” cetus saya, “pasti itu mah akal-akalan tukang dagang doang?”

“Tapi ini Foz Zelotip, selotip model terbaru?”

“Mau model terbaru, mau zaman kibenen, tetap aja sejenis isolasi atau lakban yang bisa dipakai bolak-balik, begitu kan?”

Foto pemuda itu bertelanjang dada, lalu bagian punggungnya menempel di dinding, ekspresi mukanya seakan meronta-ronta ingin melepaskan diri dari dinding ajaib itu. Tentu saja pemuda itu berwajah ganteng dan tampan, juga bodi tubuhnya kekar dan semampai. Tapi coba perhatikan, antara tembok yang lengket dengan punggungnya yang nempel seperti ada permainan warna dan proses editing yang cekatan melalui komputer?

“Dasar wong edan!” kata saya kemudian. Ada saja proses edit untuk gambar iklan yang macam-macam, sampai konsumen tergiur untuk membeli walaupun belum tentu dipakai di rumahnya. “Ah sudahlah, sekarang jam setengah delapan, saya berangkat ke kantor dulu.”

Istri saya meletakkan salah satu selotip di atas meja. Ia mencium tangan saya sambil berucap, “Lagi sibuk di kantor, ya?”

“Yaa, walaupun berposisi sebagai kepala bagian, tapi di negeri dunia ketiga begini, tetap saja harus bekerja keras seperti kuli dan tukang,” balas saya sambil mengamit sepatu dan mengambil kunci mobil dari gantungan.

Beberpa menit sesampainya di kantor, dua wanita menghampiri meja kerja saya. Sejak kemarin keduanya menanyakan ini-itu yang gak penting-penting amat. Wong setiap yang ditanyakan sudah terpampang jelas melalui search engine di layar komputer yang semuanya terkoneksi dengan internet.

“Tapi, Sabtu sore Bapak enggak ke mana-mana, kan?” tanya si gendut dan tembem.

“Maksudnya?”

“Kali aja Bapak mau traktir kami lagi ke bioskop?” balas si ceking jangkung dengan mata genit..

“Film apaan?” tanya saya kemudian.

“Film perang.”

“Maksud saya, judulnya apa dan sutradaranya siapa?”

Keduanya diam membisu. Logat Sundanya kentara jelas. Si gendut merasa kikuk dan gerogi. Tas di pundaknya tiba-tiba terjatuh ke lantai. Beberapa benda di dalamnya berhamburan keluar, di antaranya tiga jenis alat kosmetik, sebuah sisir dan gunting kuku,  dan satu gulung Foz Zelotip.

Saya diam tercenung, untuk apa anak buah saya itu bawa-bawa selotip ke kantor? Fungsi dan kegunaannya buat apa? Saya kira, tak pernah saya memerintahkan tugas pada bawahan yang membutuhkan benda bernama selotip?

Jam makan siang. Manajer saya, Bu Ningsih mengajak makan bersama dua kepala bagian dan tiga supervisornya di lesehan pecel lele di samping Danau Padarincang. Dia mengambil tas mungilnya, lalu membukanya di sebelah saya. Lagi-lagi, saya pun melihat Foz Zelotip, meski yang dikeluarkannya hanya sapu tangan dan tisu untuk mengelap keringat di dahinya.

“Kenapa? Ada masalah apa?” tanya Bu Ningsih kaget.

“Ah enggak. Saya cuma heran kenapa hampir semua wanita menyimpan Foz Zelotip di dalam tasnya?”

Bu Ningsih menatap tajam ke arah saya. Hening itu berlangsung cukup lama. Hingga datanglah dua pelayan wanita mempersiapkan hidangan. Ketika keduanya berjongkok menaruh peralatan makan di atas meja, tampak tonjolan bulat di kantong celana kanannya. Saya tidak tahu benda apakah itu, tetapi ketika kami membayar di depan Ibu Kasir, terlihat juga Foz Zelotip saat ia membuka kotak pada meja kasirnya.

            Sore itu, saya pulang lebih cepat dari biasanya. Mobil saya parkir di garasi, lalu masuk melalui pintu depan. Istri saya tak ada di ruang tamu, lalu saya masuk ke ruang tengah juga tak ada. Hanya terlihat empat gulung Foz Zelotip yang sudah terpakai, tergeletak di bawah teve. Saya mengamit remot teve, tapi ia menempel di atas meja. Lekat sekali. Saya masuk ke ruang dapur, menarik salah satu kursi meja makan untuk duduk, namun kursi itu sama sekali tak bergerak. Saya geser keras-keras, juga tak bergemnig.

Ah, istri saya sudah mengelem semua perabot rumah rupanya. Dia merekatkan rak makan ke dinding dengan Foz Zelotip, juga kulkas, mesin cuci, bahkan kompor dan tabung gas juga melekat kuat sekali. Saya geleng-geleng kepala, kenapa dia melakukan semua itu?

Bahkan, ketika memasuki tiap-tiap kamar, semua ranjang dan lemari juga terekat, menempel kuat dengan tembok.

Selama ini, saya enggak menemukan hal yang aneh-aneh pada dirinya. Dia bukanlah perempuan senewen atau wanita misterius yang nekat meninggalkan suaminya dari Jakarta menuju Kota Cilegon? Tapi, barangkali dia minggat ke rumah orang tuanya? Seketika saya merasa jengkel dan membanting tas ke atas sofa, tapi tiba-tiba tas itu menempel seperti tertarik oleh medan magnet. Ketika tas itu saya angkat kembali, lagi-lagi ia tak bergeming.

Istri saya tiba-tiba muncul dari balik pintu, langsung memeluk saya. Tiba-tiba seluruh tubuhnya menempel lengket ke dada dan perut saya. “Apa-apaan ini? Pasti ini gara-gara Foz Zelotip itu kan?”

“Tenang aja, Mas,” kata istri saya menenangkan.

“Jangan tenang-tenang, lalu bagaimana kita melepas semuanya ini?”

“Enggak usah khawatir, tinggal melepas pakaian aja.”

“Untuk inikah kamu membeli barang aneh itu?”

“Semua orang juga memborong. Sekarang stoknya sudah habis di pasaran.”

“Dasar, zaman edan!” (*)

Oleh: Alim Witjaksono

Penulis adalah Peneliti dan penyuka sastra mutakhir Indonesia, menulis cerpen dan esai di berbagai media nasional luring dan daring.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.