Omong kosong dengan segala dongeng dan cerita fiktif tentang hantu. Setelah tiga dasawarsa hidup di permukaan bumi ini, tak pernah sekalipun saya melihat wujud hantu. Saya menganggap mereka yang suka cerita ngalor-ngidul tentang keberadaan hantu, hanyalah orang-orang dungu. Setelah perang dunia kedua, menyusul era perang dingin dan berlombanya negeri-negeri industri akan penciptaan senjata nuklir hingga hidrogen, lalu di mana para hantu akan bersemayam dalam persaingan sains dan teknologi ini?
Sewaktu saya kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), ada saja teman mahasiswa yang sok-sokan memberi petuah, katanya, jika kami mendatangi suatu tempat tak berpenghuni, atau mandi di sungai, atau memasuki suatu hutan, semestinya kita meminta juru kunci agar memandu perjalanan, atau setidaknya harus mengucap kata “permisi” kepada roh-roh penjaga tempat itu.
Siapa lagi orang yang paling getol menceritakan hal-hal begituan di antara teman mahasiswa, kalau bukan Humaidi (yang biasa dipanggil Medi). Senang sekali dia bercerita tentang roh penunggu hutan larangan, yang konon akan murka bila orang yang memasuki hutan melanggar aturan-aturan yang mesti dijalankan. Misalnya, kata-kata seperti ini: “Punten Buyut, cucunya mau numpang lewat.” Atau seperti ini, “Permisi Kek, sesama makhluk Tuhan jangan saling mengganggu.”
Nah, di sini saya mau menceritakan suatu peristiwa di akhir tahun 1965, ketika kami kuliah pada semester akhir di IPB. Waktu itu, kami berempat sudah berada di daerah yang dikenal warga setempat sebagai hutan larangan. Sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut, hampir mencapai puncak Gunung Salak, kabupaten Bogor. Di tengah hutan kami sedang dikejar-kejar satu batalyon tentara dari Angkatan Darat, yang mendapat mandat dari Pemerintah Orde Baru agar menumpaskan sisa-sisa pengurus BTI (Barisan Tani Indonesia), sebagai salah satu organisasi onderbouw PKI.
Di antara empat orang yang diburu itu, sebenarnya hanya saya dan Medi yang terdaftar sebagai anggota BTI. Sedangkan, dua yang lainnya adalah keluarga NU yang tak ada sangkut pautnya dengan PKI.
Perburuan semakin gencar dilakukan militer, dibantu oleh kelurahan setempat, dan dipandu oleh beberapa penduduk Leuwiliang, Bogor. Kami berempat tiba-tiba mendengar bunyi tembakan, hingga kami lari tunggang-langgang menaiki lembah dan bukit-bukit terjal. Tak berapa lama, sekitar jam lima sore, saya baru menyadari bahwa saya telah tersesat di tengah hutan rimba belantara. Hingga jam tujuh malam, dan suasana sudah gelap gulita, tak satu pun saya temukan ketiga teman saya, termasuk Medi sahabat karib saya.
Sekarang saya tinggal sendirian di tengah hutan. Melangkah tak kenal tujuan, tersaruk-saruk dalam kegelapan malam yang pekat, sampai-sampai saya tak mampu melihat tangan dan kaki sendiri. Saya tak berani berteriak, takut mengundang kedatangan hewan liar atau orang-orang militer yang sejak sore tadi sempat saya lihat di suatu lereng kejauhan. Saat meraba-raba sekitar, tangan saya terus menerus terkena duri, ranting, atau batang pepohonan, juga sesekali menubruk akar pohon yang menyembul keluar.
Saya mendongak ke atas, namun satu-dua bintang berkerlip tak mampu menyinarkan setitik cahaya yang tertutup dedaunan. Saya duduk mengaso dan menyandarkan punggung yang sakit ke sebatang pohon besar. Perasaan takut benar-benar menyergap, seiring dengan seringnya mendengar bunyi ranting patah, seperti terinjak hewan buas. Sepintas di telinga terdengar bunyi menyeret seperti sesuatu yang sedang merayap. Badan saya merinding membayangkan adanya seekor sanca, yang dulu pernah saya saksikan dalam pertunjukan debus di daerah Banten Selatan.
Pelan-pelan saya melanjutkan perjalanan dengan kaki goyah, tersandung-sandung, dan tetap tanpa tujuan menyibak rimba. Sekonyong-konyong, terciumlah bau-bauan yang seharusnya tak lazim menguar di tengah rimba, tempat yang letaknya sangat jauh dari peradaban manusia. Bau dupa dan menyan terbakar, terasa menyengat di hidung, seakan mereka membakarnya dalam jarak lima hingga sepuluh meter di depan saya.
Seketika saya merindukan Medi yang kini sudah menghilang sejak sore tadi. Ke manakah dia sekarang? Apakah orang-orang militer itu telah menangkapnya? Apakah dia sedang bersembunyi seperti saya, dalam kesendirian di kegelapan malam, di mana ia kerap diganggu oleh bayangan-bayangan hantu yang kadang hadir dalam imajinasinya?
Sepintas saya melihat cahaya obor dalam kontras gulita. Ada sekitar lima titik cahaya. Tapi saya tidak percaya bahwa di antara orang-orang itu terdapat Medi, atau kedua teman kami yang berpencar sejak sore tadi. Siapakah gerangan mereka itu? Orang-orang yang tersesat jugakah? Dari balik batu besar, saya mengintip lebih dekat, lalu dapat memastikan bahwa mereka adalah gerombolan militer, karena di pundak mereka terdapat sten-sten yang seakan siap untuk ditembakkan.
***
Kontan saya berlari menghindari mereka. Bunyi ranting dan daun kering terserak, membuat mereka menjulurkan obor-obor mereka ke arah saya. Saya sudah berjarak sekitar tigapuluh meter dari mereka. Seseorang dari mereka tampaknya melihat saya, dan langsung berteriak, “Itu dia! Ke arah sana!”
Dua orang seketika menembakkan senjatanya. Beberapa butir peluru terpental mengenai batu, dan sebagiannya menancap di batang-batang pohon. Saya masih bisa melihat kedua penembak itu, karena di sekitar mereka ada cahaya terang obor. Seperti didera rasa dendam kesumat, kelima gerombolan militer itu terus mengejar saya yang menyusup dan memanjat lereng-lereng yang terjal. Kini, tinggal beberapa ratus meter lagi saya mencapai puncak Gunung Salak. Semakin menjauh dan menjauh dari mereka, namun saya merasa takut akan adanya gerombolan lain yang menghadang, hingga membuat saya terjebak oleh siasat dan strategi mereka.
Saya bersembunyi di balik pohon, sambil duduk gemetar di atas akar pohon yang besar. Saya terus naik ke atas hingga mendekati puncak gunung. Lama kelamaan, rasa kantuk menyergap hingga saya tertidur dalam posisi duduk. Entah berapa jam mata saya terlelap, tiba-tiba saya tersentak kaget ketika ada seseorang membangunkan saya sambil menepuk-nepuk kaki.
Saat itu, langit terlihat agak cerah, karena beberapa bintang tampak jelas di angkasa. Membuat mata saya dapat melihat sosok lelaki tua berjanggut mengenakan ikat kepala dan sorban berwarna putih. Dia mengibas-ngibaskan tongkat di tangannya, seakan memberi isyarat agar saya mengikutinya dari belakang. Saya melangkah maju hingga mencapai beberapa puluh meter ke depan, mengantarkan saya di balik sebuah batu besar, yang ternyata adalah sebuah lubang gua. Di depan pintu gua, saya merasa ragu untuk masuk, namun setelah si kakek mengibaskan tongkatnya sekali lagi, saya pun menurutinya untuk melangkah ke bagian dalam.
Seketika itu, saya terperangah kaget. Karena di dalam gua tersebut terdapat bangunan surau atau mushalla yang sedang dibangun oleh sekitar 25 orang pengikut aliran atau jamaah yang diemban oleh ajaran si kakek tua tersebut.
Janggutnya tampak putih memanjang. Kakek tua itu mengenakan sarung sambil berpegang pada tongkat kayu saat menyampaikan ajaran dan kepercayaannya. Murid-muridnya itu disebutnya “santri” yang kini sedang membuat dinding dan memasang atap-atap surau dengan balok-balok kayu dan daun-daun rumbia.
Saya bisa melihat bangunan surau yang hanya diterangi beberapa lampu minyak di setiap sudut ruangannya. Kakek tua itu langsung didekati dua orang santri yang memanggilnya dengan sebutan “Abah Kiai”, dan disuruhnya menyediakan tikar di hadapannya. Tak berapa lama, mereka menggelar tikar pandan, seraya menyuruh saya duduk di atasnya.
“Sudah berapa lama kamu berada di hutan ini?” tanyanya kemudian.
Dengan tatapan berkaca-kaca, saya menjawab pelan, “Mungkin sudah hampir tiga hari, Abah.”
“Apakah kamu tersesat?” katanya lagi sambil tersenyum. “Untung saya menemukan kamu. Kalau tidak, mungkin tentara-tentara Soeharto itu akan menembaki kamu.”
Saya terdiam membisu, masih terus bertanya-tanya, siapakah kakek tua ini? Mengapa para santri itu mendirikan surau di tengah hutan, di dalam gua pula?
Seperti membaca pikiran saya, kakek tua itu berkata, “Mereka itu santri-santri saya. Mereka menimba ilmu selama beberapa tahun di sini, dan dalam beberapa minggu ini saya perintahkan mendirikan surau di dalam gua ini.”
“Untuk apa, Abah Kiai? Mengapa tidak membangun masjid di daerah Sukabumi atau Tasikmalaya, atau di daerah Baduy Banten?”
“Panggilan saya di daerah sini.”
“Panggilan apa?” tanya saya.
“Tugas saya di sekitar sini. Meskipun kami membangun surau di sini, tapi kami juga mendidik mereka agar menjadi manusia beradab.”
“Apakah maksudnya, menjadi manusia berkarakter seperti yang diajarkan Presiden Soekarno?”
“Manusia beradab, berkarakter, atau berakhlaqul karimah, hal itu cuma perdebaan istilah saja,” si kakek terdiam sesaat, dan dengan pandangan menerawang ia melanjutkan, “Mungkin pemerintah baru nanti akan memakai istilah manusia Pancasilais.”
“Bukankah Pancasila itu dirumuskan oleh Soekarno dan bapak bangsa lainnya?” tanya saya lagi.
“Boleh jadi pemerintah baru nanti akan memakai rumusan itu untuk kepentingan politik kekuasaannya.”
Saya masih belum paham apa yang dikatakannya. Selama seharian saya mengamati kehidupan para santri yang membangun surau di siang hari, kemudian malamnya, setelah mereka salat isya berjamaah, kakek tua itu memberikan materi-materi pendidikan agama yang berkaitan langsung dengan sejarah hidup Nabi Muhammad berikut para sahabat dan tabi’in (pengikutnya).
“Mandilah di situ, bersihkan badanmu,” perintah kakek tua, menunjuk suatu kolam pancuran yang dipakai para santrinya untuk mandi serta mengambil air wudlu. Setelah beberapa menit menyucikan badan, seorang santri mengajak saya memasuki surau untuk bergabung bersama santri-santri lainnya mengaji Alquran dan hadis Nabi.
Sebenarnya, sebagian dari materi yang disampaikan Abah Kiai itu pernah saya pelajari dari kakek saya sendiri sebagai warga Nahdlatul Ulama (NU). Meskipun aktif selaku pengurus BTI, saya dibesarkan di tengah keluarga besar NU yang sering menerima materi-mteri keagamaan dari kitab-kitab para ulama, mengenai nama-nama maupun sifat-sifat Allah, tugas para malaikat, nama para nabi dan rasul, hal-hal mengenai salat, puasa dan zakat, hingga persoalan takdir dan ikhtiar manusia.
Keesokan harinya, setelah saya diajak sarapan bersama para santri, saya pun bergabung bersama mereka merampungkan bangunan surau, yang tinggal membenahi atap-atap rumbia dan balai-balai bambu di sisi kiri dan kanan bangunan.
***
Malam kedua di gua itu udara terasa dingin. Kakek tua, yang belum saya ketahui namanya, membawa saya ke tempat khusus yang agak memojok di dasar gua. Di situ terdapat batu besar meninggi yang di atasnya datar seukuran 3×4 meter. Batu itu licin seperti marmer hitam yang ternyata agak hangat ketimbang batu-batu lainnya di gua itu. “Kamu istirahat dulu dI sini, tak usah mencemaskan tentara-tentara itu,” kata kakek tua dengan suara lembut.
Saya naik ke atas batu datar itu, meski perasaan kurang enak, karena masih banyak santri sedang belajar mendalami materi yang diajarkan Abah Kiai, sementara yang lainnya melaksanakan salat sunah di sudut-sudut surau. “Kamu istirahat saja selama beberapa hari ini, sementara yang lainnya biarkan membaca kitab atau melaksanakan salat,” tegasnya lagi.
Saya pun tidur dengan tenang di atas batu itu, entah berapa lama. Sampai kemudian, seseorang menepuk-nepuk bahu saya di suatu pagi yang cerah, karena sinar matahari menyorot tajam ke dalam gua melalui celah-celah batu besar.
Setelah saya terkesiap dan membuka mata, tahu-tahu yang ada di hadapan saya adalah Medi dan seorang bapak yang diperkenalkannya sebagai juru kunci Gunung Salak. Medi mengabarkan bahwa tentara-tentara Soeharto telah menangkap dua kawan kami, serta menginterogasi mereka di kantor Kodam Bandung. Namun, keduanya akhirnya dibebaskan, karena tak pernah terbukti bahwa mereka terlibat dalam kepengurusan BTI. Hanya saya dan Medi-lah yang terlibat aktif selaku pengurus, namun mereka tak pernah menemukan atau menghukum kami hingga pemerintahan Soeharto berakhir pada tahun 1998 lalu.
Ketika cerita ini disampaikan ke publik, saya dan Medi sudah menginjak usia 80-an, sampai pada akhirnya kami menyaksikan film “The Act of Killing” garapan sutradara Amerika, dan yang terakhir film “Eksil” garapan sutradara dalam negeri, Lola Amaria, yang beberapa waktu lalu meraih Piala Citra sebagai film dokumenter terbaik.
Hingga memasuki usia senja ini, kadang saya sempat bercakap-cakap dengan Medi, apakah tentara-tentara Orde Baru yang dulu mengejar-ngejar dan menembaki kami itu masih hidup? Barangkali, sebagian dari mereka masih hidup hingga saat ini, dan semoga sempat menonton film-film dokumenter maupun novel-novel mutakhir yang semakin berani menyuarakan iklim politik di era tahun 1965 lalu, seperti karya-karya yang ditulis Seno Gumira, Leila Chudori, Hafis Azhari hingga Pandji Sukma. Semoga saja mereka menyadari bahwa para elit politik di Indonesia, hingga memasuki era milenial ini, masih saja gemar memelihara orang-orang dungu dan penakut sebagai komoditas bagi kepentingan kekuasaan mereka.
Bagi saya, orang-orang dungu dan bodoh memang dapat diperalat untuk melakukan kejahatan, tanpa mereka menyadari bahwa perbuatannya itu adalah suatu tindak kejahatan.
“Tapi, semua tentara yang mengabdi pada Orde Baru itu sudah tua, dan barangkali mereka sudah menyadari kekhilafannya,” ujar Medi.
“Mungkin sebagian dari mereka sudah sadar, tapi boleh jadi sebagian lainnya menganggap tindak perusakan adalah suatu amal dan pembangunan,” jelas saya.
Kami terdiam menerawang, lalu gumam saya, “Mungkin benar apa yang dikatakan Abah Kiai itu, pembangunan fisik berupa surau atau masjid, harus pula disertai dengan pembangunan moral dan peradaban.”
“Ya, saya mengerti, tapi ngomong-ngomong… Abah Kiai yang kamu maksud itu siapa?” tanya Medi tersentak.
“Orang yang di dalam gua itu.”
“Siapa yang di dalam gua?” tanya Medi lagi, “Gua itu dari dulu kosong, tidak ada penghuninya. Meskipun ada sebagian orang yang percaya bahwa dulunya pernah dipakai seorang Walisongo untuk berkhalwat dan menyendiri.”
“Lalu, santri-santri itu siapa?” tanya saya dengan tatapan berkaca-kaca.
Tiba-tiba Medi tertawa keras. “Baik, saya mengerti,” serunya lagi, “saya tahu bahwa sekarang kamu sudah mulai percaya pada hantu.”
Sampai saat ini, saya masih ingat, dalam perjalanan keluar menyusuri gua itu, memang sama sekali saya tidak menemukan Abah Kiai maupun para santrinya, juga tak ada bangunan surau yang sedang didirikan oleh mereka. Gua itu hanya dikelilingi oleh bebatuan yang kosong, sunyi dan lengang. []
Oleh: Muhamad Pauji
Penulis adalah Pegiat organisasi OI (Orang Indonesia), menulis esai dan prosa di berbagai media nasional, luring dan daring. tinggal di Serang, Banten.









