Habib Samin

oleh -766 Dilihat
banner 468x60

Tadinya saya tidak tahu apa yang ada di balik gundukan tanah itu sejak limabelas tahun lalu, terutama sejak duduk di kelas tiga SD. Saat itu saya bersama teman sepermainan, Mita, pernah melihat adanya warga pendatang di sekitar kampung Mekarwangi yang menggali sebuah tanah di pinggir sungai, kemudian mengubur sebuah benda misterius sebelum ia menimbunnya dengan tanah galian.

Tak berapa lama warga kampung saya mempercayai, bahwa gundukan tanah itu adalah makam wali, yang merupakan keturunan dari salah satu Walisongo. Konon, dalam sejarah hidupnya pernah ia terbang di atas sejadahnya untuk melaksanakan salat Jumat di Masjidil Haram, kota Mekah.

Warga pendatang itu kemudian memperkenalkan dirinya dengan nama “Habib Samin”, di mana setiap malam Jumat menerima berbagai rupa sedekahan dari masyarakat di sekitar kampung kami. Di rumah yang didirikannya di sebelah makam itu, ia mengumpulkan rupa-rupa sedekahan dari berbagai macam jenis bungkusan, yang terdiri dari beras, gula, minyak, mie, kopi, rokok, hingga amplop berisi uang sedekahan.

Selama limabelas tahun saya tak pernah berniat untuk mengusik kepercayaan masyarakat sesuai dengan apa yang diyakininya. Bahkan,  sewaktu SD saya pernah diajak beberapa kali oleh Ibu untuk mengambil air putih dari sumur yang digali di samping makam wali itu, dengan jaminan dari Habib Samin, bahwa air putih itu berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit, menangkal bala, serta mendatangkan rizki dan barokah.

Selama bertahun-tahun warga Mekarwangi sangat mengagumi kesaktian Habib Samin, bahkan rela memberikan berbagai rupa sedekahan, dengan harapan mereka mendapat cenderamata dari sang Habib berupa batu cincin atau biji tasbih, bahkan sepotong dahan kayu pun sangat diharagai warga apabila mereka mendapatkannya langsung dari tangan sang Habib.

Konon, semua benda-benda itu telah dibacakan mantra-mantra keramat sambil berpuasa di atas pusara makam Syekh Abdul Qadir al-Jailani di daerah Baghdad. Irak.

Dalam beberapa tahun Habib Samin semakin mempersolek bangunan rumahnya di samping makam yang letaknya di sekitar bantaran sungai. Suatu ketika, ia bahkan mengajak seorang istri dan dua anaknya untuk ikut-serta tinggal di rumah yang didirikan di sekitar kampung kami.

“Kalau anak Ibu sakit panas, kalungkan tasbih ini di lehernya, kemudian minumkan air putih ini setelah makan,” ujar Habib Samin sambil menyodorkan sebotol air putih kepada seorang warga yang mengeluh karena anaknya sakit. Warga itu kemudian disuruh berdoa di depan makam sang wali, untuk dimintai pertolongan pada Walisongo leluhurnya, sambil bernazar pula, apabila anaknya pulih dari penyakitnya ia akan mengadakan selamatan dengan menyembelih kambing yang sepenuhnya diselenggarakan oleh Habib Samin bersama istrinya.

***

Limabelas tahun kemudian, ketika saya duduk di bangku kuliah di Universitas Islam Negeri, Banten, sementara Mita teman saya kuliah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), perasaan ingin tahu dan ingin paham tentang suatu permasalahan, semakin tumbuh pada diri kami.

Di kampung Mekarwangi nyaris tidak ada yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi kecuali saya dan Mita, yang kebetulan dibesarkan dari kelas pedagang yang tidak terlampau mempedulikan hal-hal mistik yang dihembuskan oleh Habib Samin dan keluarganya.

“Apakah kau percaya bahwa Habib Samin punya peran penting terhadap nasib masyarakat kita selama ini?” tanya saya pada Mita.

“Saya tidak tahu, tapi masyarakat sudah kadung percaya,” jawabnya dengan mata menerawang.

“Yang jadi masalah, apakah Habib Samin betul-betul membantu masyarakat kita, ataukah dia mengambil keuntungan dari kebodohan masyarakat kita?”

“Menurut saya, pihak yang membantu justru masyarakat kita, sedangkan dia dan keluarganya adalah pihak yang diberi bantuan.”

“Bagaimana kamu bisa berpendapat seperti itu?”

“Karena berkat kebodohan warga kampung, data statistik yang menyangkut jumlah kemiskinan, masyarakat buta huruf hingga jumlah kematian bayi, ternyata tidak mengalami perubahan di kampung kita.”

“Ya, tepat sekali, sedangkan rumah yang dibangun Habib Samin di samping sungai itu semakin lama semakin mentereng saja.”

Pada akhirnya, saya membuat kesepakatan bersama Mita untuk mencari tahu tentang kebenaran gundukan yang dipercaya masyarakat kami sebagai makam wali tersebut.

Bagi kami, kepercayaan pada kuburan itulah yang menjadi pangkal permasalahan yang membuat masyarakat kami tidak berdaya, bahkan taraf hidup mereka tidak sepadan dengan perkampungan lainnya, karena terbelenggu oleh pendangkalan dan pembodohan yang dibikin-bikin oleh Habib Samin selama ini.

“Kalau begitu kita gali saja gundukan tanah yang dipercaya sebagai kuburan wali itu.”

“Bagaimana mungkin? Nanti malah kita kepergok sama Babinsa?”

“Justru Babinsa kita sudah tunduk sama Habib Samin, termasuk Lurah kita. Mereka juga aktif menyetor sedekahan tiap malam Jumat.”

“Walah, welaaah….”

“Yang menjadi problem, Habib Samin itu tidak punya santri maupun anak-anak asuh yang menjadi tanggungan hidupnya. Jadi, semua barang-barang sedekahan yang dia terima selama ini murni untuk kepentingan dirinya sendiri dan keluarganya.”

***

Cangkul dan linggis sudah kami persiapkan untuk pengembaraan kami di malam Minggu itu. Sepeda motor saya matikan ketika melintasi balai desa untuk kemudian menyusup masuk ke serambi sebuah rumah penduduk. Dari jembatan sungai kami melihat sebuah bangunan rumah di kejauhan, dan di belakangnya terlihat sebuah batu nisan di atas gundukan tanah yang selama ini dianggap sakral oleh masyarakat Mekarwangi.

Kami menaruh sepeda motor di samping jembatan, kemudian berjalan mengendap-endap menuju gundukan tanah itu sambil menenteng linggis dan cangkul yang kami pinjam dari seorang petani. Selama berjam-jam kami membongkar gundukan tanah itu, dengan sedapat mungkin tidak menimbulkan suara-suara yang bakal mencurigakan keluarga sang Habib.

Tak lama kemudian, kami pun terperangah ketika yang kami temukan dari makam itu hanyalah sebongkah batang kayu yang sudah menjadi fosil, dan kemudian berhasil kami cungkit dengan memakai linggis yang telah kami persiapkan sebelumnya.

“Berarti tidak ada makam keturunan Walisongo selama ini,” saya mendengar Mita sedang bergumam dengan pandangan menerawang.

“Ya, benar Mita, selama ini masyarakat kita hanya mempercayai sebongkah batang kayu ini,” kata saya sambil mengangkat kayu itu di hadapan Mita.

“Jadi siapa itu Habib Samin? Manusia sejenis apakah dia hingga masyarakat kita begitu memujanya?”

“Dia adalah sosok yang nyata, dan ada di sekitar kita.”

“Lantas, siapakah masyarakat kita selama ini? Apakah mereka juga sosok yang nyata, seperti halnya Habib Samin?”

“Ya, mereka memang nyata, tapi selama ini telah mempercayai sesuatu yang tidak nyata.”

Kami terdiam sejenak, kemudian saya bertanya pada Mita, “Fren, selama ini kita percaya pada Tuhan, apakah Dia sesuatu yang nyata?”

Sambil menghela napas Mita pun menjawab, “Ya, Tuhan itu sesuatu yang ada, tapi tidak ada yang dapat menyerupai Dia dengan sesuatu apapun.”

“Benar, kalau begitu rendah sekali kualitas keimanan kita bila menyamakan wujud Tuhan dengan sebongkah kayu, bahkan dengan seorang wali sekalipun.”

Setelah peristiwa itu, kami sepakat untuk tidak membuka rahasia kuburan kayu itu kepada masyarakat kami, hingga ketika memasuki bulan Ramadan keluarga Habib Samin kemudian hengkang meninggalkan kampung Mekarwangi, karena banjir besar telah melanda perkampungan kami.

Saat itu tanggul-tanggul di sekeliling sungai jebol secara beruntun, hingga air bah menghantam rumah yang dibangunnya di bantaran sungai itu.

Keesokan harinya, ketika banjir mulai reda, saya pun mengajak Mita untuk melihat bangunan rumah Habib Samin yang roboh berantakan, hingga reruntuhan bangunan itu pun menutupi lubang sumur dan gundukan tanah yang selama ini menjadi tempat bersandarnya masyarakat kami. ***

Catatan: Cerpen ini hasil adaptasi dari prosa yang ditulis Hafis Azhari, berjudul “Kampung Abal-abal” di Nusantaranews.co sejak 2020 lalu.

Oleh: Irawaty Nusa

Penulis adalah Prosaik generasi milenial, juga peneliti historical memory Indonesia

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.