Mengenal “Mat’dok”: nabi dari Pulau Timor

oleh -584 Dilihat
Ilustrasi
banner 468x60

Sebelum kekristenan masuk ke Pulau Timor sekitar tahun 1800an, orang Timor telah mengenal penerawang atau orang pintar yang mampu melihat, meramalkan dan memprediksi kehidupan manusia seperti seorang nabi. Orang Timor (khususnya Suku Tetun) biasa menyebutnya sebagai Mat’dok. Mat’dok sendiri berasal dari dua suku kata, yaitu Matan yang berarti “mata atau bola mata” dan Dok yang berarti “jauh”. Maka Mat’dok dapat diartikan sebagai seorang yang mampu melihat atau menerawang lebih jauh; baik di masa lalu, sekarang, maupun yang akan datang.

Jejak Seorang Mat’dok

Mat’dok sendiri tidak dapat dipisahkan dari Yang Transenden. Orang-orang yang menjadi Mat’dok adalah mereka yang menerima anugerah atau karunia khusus dari Yang Transenden. Terdapat tiga aspek mengenai hal ini: pertama, anugerah Mat’dok sudah menjadi garis tangan atau ‘Yang Transenden’ sudah menentukan dan memilih si penerima karunia Mat’dok sejak anak-anak, bahkan masih berada dalam kandungan. Hal tersebut terjadi karena ada sebuah tanda yang datang melalui mimpi atau gejala alam dari ‘Yang Transenden’ kepada kedua orang tua atau tetangga sekitar yang nantinya ditafsirkan sebagai “ilham atau kuasa” yang akan diterima oleh sang anak.

Kedua, orang yang baru menerima anugerah atau karunia Mat’dok pada saat dewasa. Mereka yang menerima karunia Mat’dok pada saat dewasa biasanya mendapat sebuah tanda yang lansung datang dari ‘Yang Transenden.’ Misalnya, si penerima memimpikan ada seorang yang memberi dia karunia Mat’dok dan ketika bangun dari tidurnya ia mampu menerawang dan mengetahui kehidupan seseorang. Pada kasus lain, seorang penerima karunia Mat’dok ketika berjalan di hutan mendapat sebuah jimat yang berupa kayu, batu atau daun, dan dari jimat itu ia diberi kekuatan sebagai seorang penglihat kehidupan manusia.

Ketiga, karunia mat’dok diberikan atas dasar permintaan dari seseorang yang ingin menjadi Mat’dok. Karunia Mat’dok diminta langsung kepada ‘Yang Transenden’ melalui ritual-ritual adat tertentu, seperti: meditasi secara personal, menyembelih kurban di batu, pohon, dan sungai sebagai sebuah persembahan kepada ‘Yang Transenden.’

Fungsi Mat’dok

Sebagai seorang yang diakui kehebatan di dalam masyarakat, Fungsi Mat’dok tidak lain adalah memberi petunjuk, menerawang, menyampaikan pesan, pemberi jalan keluar, dan nasehat. Secara umum Mat’dok adalah mereka yang dapat menerawang kehidupan manusia dan alam semesta. Melihat fungsi dari seorang Mat’dok, kita lalu bertanya mengenai bagaimana ia menjalankan fungsi itu?

Mat’dok hanya bisa menjalankan fungsi dan perannya di dalam masyarakat sejauh ada masalah yang dialami oleh klien (masyarakat). Adapun beberapa masalah yang sering dihadapi oleh masyarakat, seperti: sakit yang tak kunjung sembuh walaupun sudah berobat ke rumah sakit, orang yang hilang akibat tenggelam di lautan, kematian yang mendadak tanpa menderita sakit, hasil panen yang gagal, dan rezeki yang kurang lancar.

Di samping itu, setiap Mat’dok mempunyai kekhasannya masing-masing untuk memecahkan masalah. Ada yang menggunakan air sebagai media penglihatan, ada pula yang menggunakan parang, bahkan ada yang merentangkan tangan pada kedua tiang pintu masuk rumahnya untuk menemukan akar permasalahan dan bagaimana menyelesaikannya.

Sebut saja, Mat’dok yang merentangkan tangan di ambang pintu rumahnya (ini salah satu cara yang penulis amati. Masing-masing Mat’dok mempunyai cara tersendiri). Mat’dok akan terlebih dahulu menanyakan penyebab si klien datang kepadanya. Ketika klien sudah menceritakan alasan mengapa ia datang menemui Mat’dok, tahap berikutnya adalah ajuan pertanyaan dari Mat’dok yang disertai dengan rentangan tangan pada kedua pintu masuk rumah.

Hal tersebut dilakukan dengan cara: Mat’dok akan duduk di tengah kedua pintu masuk. Bila pertanyaannya tidak tepat maka tangannya tidak akan mengena pada kedua tiang pintu rumah. Namun, bila pertanyaannya itu tepat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan klien, maka yang terjadi adalah sebaliknya, tangan Mat’dok akan menyentuh kedua tiang pintu rumah.

Apabila telah menemukan titik persoalannya maka langkah selanjutnya adalah memberikan petunjuk. Sebagai contoh, orang sakit yang tidak kunjung sembuh walaupun sudah berobat secara medis. Mat’dok akan memberitahukan kepada pihak keluarga langkah-langkah yang harus dilakukan agar klien dapat cepat sembuh dari penyakitnya.

Tergantung Kekebalan Ilmu

Di zaman yang sudah modern ini, praktik-praktik seperti ini masih saja kita jumpai. Kepercayaan manusia terhadap sesuatu yang Adikuasa di luar dari dirinya masih saja eksis. Salah satunya adalah Mat’dok yang masih memainkan perannya dalam kehidupan masyarakat di Pulau Timor.

Bagi orang lain mungkin hal tersebut dianggap aneh dan diluar nulur. Sebab Mat’dok dapat menerawang atau meramalkan sesuatu yang bisa saja salah. Contohnya Mat’dok yang hanya merentangkan tangan dengan sangat mudah membaca atau menerawang sebuah persoalan yang diakibatkan oleh apa atau siapa. Kesalahan dan bahkan penipuan dapat saja terjadi.

Ada banyak kasus yang dapat ditangani oleh Mat’dok. Namun, dalam banyak kasus pula penerawangan dari Mat’dok tidak tepat. Biasanya, kepopuleran seorang Mat’dok tergantung dari pembidikan yang tepat atas masalah yang sedang dihadapi oleh klien-nya. Hal ini akan menimbulkan konsekuensi, bila ilmunya kurang kebal atau kuat dalam menerawang masalah klien-nya, maka reputasi Mat’dok akan menurun. Kepercayaan orang terhadap dirinya semakin berkurang.

Namun, ketika penerawangan dari Mat’dok itu benar, maka reputasinya akan semakin meningkat. Ia akan mendapat para klien yang datang meminta bantuannya. Bukan hanya itu, tetapi juga status sosial dalam masyarakat pun turut memengaruhi. Dengan kekuatan ‘supranatural’ yang dimiliki oleh seorang Mat’dok dalam tataran sosial dipandang sebagai seorang yang terpandang. Ia mempunyai kehormatan di tengah masyarakat.

Karena itu, seorang Mat’dok harus mempertahankan ilmu yang dimiliki. Salah satunya dengan melakukan olah tapa. Misalnya berpantang makanan berdaging, bersemedi, dan menaati larangan-larangan yang ada. Olah tapa ini membantu untuk mendapatkan kekuatan dan ilmu.

Terlepas dari hal itu, sampai detik ini Mat’dok masih dipercayai oleh orang Timor. Kehadiran Mat’dok sering dianggap sebagai pembawa harapan karena selalu siap untuk menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan. Dengan demikian, dapat dimaknai bahwa Mat’dok adalah orang-orang yang baik dengan tugas membantu masyarakat yang dirundung persoalan. Kehadiran Mat’dok mampu memberikan aura positif bagi mereka yang mengalami masalah. Di samping itu, Mat’dok hadir sebagai pengingat dalam masyarakat agar jangan jatuh pada kesalahan yang sama. Dapat dibilang mereka adalah penjaga umat. Hal ini hampir mirip dengan tugas dari Nabi pada Bangsa Israel.

Sebagai penutup, Mat’dok di era sekarang dapat didefenisikan (dengan meminjam kalimat dari Emma Wilby seorang penulis Inggris) sebagai orang yang mempunyai identitas Cunning Folk, yaitu para praktisi magis yang dianggap baik hati.

Oleh: Carolus B. Soares
(Mahasiswa Filsafat, Universitas Sanata Dharma)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.