Tanpa Utang

oleh -85 Dilihat
banner 468x60

“Berutang tambah beban. Tidak berutang tidak bisa berkembang”.

Saya dihadapkan pada dilema itu. Kemarin. Si pembawa dilema: enam orang pengusaha-pejuang dari berbagai kota. Mereka disebut pengusaha karena memang punya perusahaan.

Ada yang sampai punya perusahaan di Afrika. Mereka disebut pejuang karena sangat gigih berkampanye: hindari utang. Jangan punya utang. Yang punya utang segera lunasi: mulai lagi jadi pengusaha yang tanpa utang.

Enam orang itu mendatangi saya: agar mau bersama mereka membahas dilema besar pengusaha: “Berutang tambah beban. Tidak berutang tidak bisa berkembang”.

“Dilema itu adalah kado kami untuk ulang tahun ke-75 Pak Dahlan,” ujar Mulyono, pengusaha pupuk organik asal Gumolong, Sragen.

Pak Mul punya banyak perusahaan. Termasuk yang didirikan tahun 1916 di Kamerun, Afrika. “Maafkan kado kami bukan jam Rolex atau buket bunga,” ujarnya lantas tersenyum.

Kado mereka adalah sebuah workshop yang akan membahas dilema itu. Mereka mengajak rundingan: kapan dan di mana. “Harus di hotel bintang lima. Harus di bulan Agustus agar berdekatan dengan hari lahir,” ujar Pak Mul, kini 55 tahun.

Maka kami pun sepakat: di ballroom Hotel Shangri-La Surabaya, tanggal 13 Agustus 2026. Peserta dibatasi: 200 orang. Harus pengusaha dengan omzet minimal Rp 1 miliar.

Dulu anggota kelompok ini tidak pakai batas omzet. Pokoknya pengusaha. Meledak. Terlalu banyak anggota. Akhirnya kurang fokus.

Ketika belum dibatasi, nama kelompok ini disebut MTR –Masyarakat Tanpa Riba. Lama kelamaan semangat “tanpa riba” lebih kencang daripada semangat “jadi pengusaha”.

Lantas lebih terkesan sebagai gerakan keagamaan. Bahkan jadi gerakan dakwah. Lupa jati diri sebagai pengusaha. Sering usahanya tidak dapat perhatian karena lebih rajin berdakwah. Akhirnya utang tidak terbayar. Istri mengeluh: sering didatangi tukang tagih, sementara sang suami pergi berdakwah.

Akhirnya diputuskan: “gen” pengusaha harus dikembalikan ke anggota. Nama MTR pun diganti menjadi MMC: MTR Miliader Club.

Lalu berubah lagi menjadi FEB: The Empire Builder. Terakhir nama itu menjadi SyaREA World.

Sya singkatan syariah.

REA singkatan Real Estate Alliance.

Tentu hanya nama. Tidak harus usaha real estate.

Misinya sama: bagaimana jadi pengusaha sukses tanpa utang. Yang sudah telanjur punya utang harus diselesaikan. Jual aset. Lunasi utang. Atau cara lain lagi. Mereka saling bertukar pendapat. Sharing pengalaman.

Tanggal 13 Aguatus nanti pun seperti itu: lima orang pengusaha anggota SyaREA World –awalnya terdengar seperti Syariah World– akan buka-bukaan: berapa utang mereka dulu, bagaimana cara terbebas utang.

Salah satu dari mereka masih sedang dalam proses menyelesaikan utang Rp 140 miliar. Asetnya cukup untuk menyelesaikannya.

Yang satu orang lagi bukan punya utang, ia justru punya tagihan: USD8 juta. Ia kontraktor ME dengan kontrak USD13 juta. Baru dibayar USD5 juta. Ia seorang insinyur teknik mesin alumnus ITS. Ia sudah berusaha menagih utang. Tidak pernah berhasil. Padahal prusahaan yang berutang itu anak dari grup usaha yang amat besar.

Ia pun praktis bangkrut. Lalu ia ikhlaskan tagihan itu. Ia merintis usaha baru lagi. Kecil-kecilan –untuk ukuran lama. Ia tanam tujuh hektare cavendish. Di tanah orang lain. Sudah mulai menghasilkan. Ia akan bangkit lewat situ. Itulah bedanya pengusaha dengan bukan pengusaha: kalau jatuh harus bisa bangkit lagi. (Dahlan Iskan)

Selasa, 4 Agustus 2026

Oleh: Dahlan Iskan

Sumber: Catatan Dahlan Iskan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.