Payung Debu

oleh -142 Dilihat
banner 468x60

Bandara “dibuang sayang” Kertajati akhirnya ada gunanya. Pesawat Garuda dari Jeddah akan mendarat di Kertajati lantaran Soekarno-Hatta ditutup akibat abu letusan gunung Anak Krakatau kemarin.

“Bandara Jakarta tutup” adalah bencana tersendiri. Indonesia terlalu tergantung pada Jakarta. Lebih 300 penerbangan batal mendarat di Jakarta (Cengkareng dan Halim). Itu adalah berita duka yang mendalam. Utamanya dilihat secara ekonomi.

Bertubi-tubi bencana datang: kebakaran hutan, gempa bumi dan kini debu vulkanik. Nilai kerugian ekonomi semua itu ratusan triliun rupiah.

Debu vulkanik memang sangat dihindari penerbangan. Beda dengan asap. Debu vulkanik bisa membuat mesin pesawat tiba-tiba mati.

Anda sudah tahu: debu vulkanik halus sekali. Keras sekali. Seperti batu. Begitu masuk mesin-pesawat benda keras itu mencair –terkena suhu yang sangat panas. Lalu mengganggu sistem udara. Mesin mati. Itu pernah dialami pesawat Boeing 474 British Airways di saat Gunung Galunggung di Jabar meletus. Pesawat itu jurusan Sidney-London. Melintas di atas Jabar. Tinggi sekali: 47.000 kaki.

Tentu arah angin juga menentukan bandara mana saja yang terimbas kali ini: Lampung, Cengkareng, Halim, Pondok Cabe dan Bandung.

Semoga Kertajati benar-benar aman. Tapi karena Garuda dari Jeddah itu datang dari arah barat jangan sampai tidak aman. Mungkin saja jalur terbangnya diubah sedikit, melengkung ke utara dulu, tidak melintas di utara Jakarta.

Tentu banyak orang Jakarta yang mau mendarat di Kertajati –daripada tidak bisa pulang. Dari Kertajati hanya perlu dua jam pakai mobil ke Jakarta. Maka bisa jadi Kertajati jadi tujuan darurat semua penerbangan domestik menuju Jakarta.

Saya sendiri langsung batal ke bandara Cengkareng. Begitu selesai olahraga saya putuskan ke Surabaya jalan darat. Kemarin saya senam bersama Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) di Bundaran Hotel Indonesia Jakarta.

Saya pun pamit ke Gubernur DKI Jalarta Pramono Anung dan Ketua Umum PSMTI, Willianto Tanta yang jadi tokoh sentral kemarin pagi. PSMTI memang sedang Munas di Jakarta.

Tim sepakbola Persebaya juga harus meninggalkan Lampung lewat jalan darat, naik feri, sambung bus.

Salah satu daya tarik jalan darat adalah: lewat Tegal. Berarti bisa mampir sate kambing muda ‘Cempe Lemu’. Mudah. Praktis. Tidak jauh dari mulut exit tol.

Setiap kali mampir Cempe Lemu selalu saya lihat kemajuannya. Awalnya dulu hanya kecil, tidak ber-AC. Lalu buka yang baru: tidak sampai 100 meter di timurnya. Bangunannya bagus. Pakai AC. Dua lantai.

Mampir lagi kemarin, yang baru itu sudah punya lahan pakir luas. Kelihatannya Cempe Lemu baru saja membeli tanah parkir itu. “Cabangnya yang di tengah kota Tegal lebih mewah lagi,” ujar Mas Syukron, pimpinan Radar Tegal yang menemani saya makan sate, sop, dan krengsengan serba kambing.

Cempe Lemu adalah kisah sukses Tegal.

Usai makan, kami harus memutuskan: di mana tambah listrik. Sisa listrik Denza tinggal 31 persen. Kang Sahidin mau aman: isi di rest area Pemalang. Tinggal 30 km lagi. Kang Sahidin tahu persis ada stasiun pengisian listrik yang 100 kW –fast charging di Pemalang.

Saya pilih isi di rest area yang lebih jauh: Pekalongan. Masih 62 km dari Cempe Lemu. Sekalian ujicoba apakah dengan 31 persen masih bisa mencapai Pekalongan.

Tiba di rest area Pekalongan tinggal 19 persen. Ups… SPKLU PLN di situ tidak jalan. Masuk aplikasinya gagal terus. Lalu datang mobil Wuling yang juga ingin charging. Juga frustasi. Gagal.

Padahal listrik Denza tinggal 19 persen. Ups… Internet menyebutkan ada SPKLU lagi tidak jauh di timurnya. Hanya berjarak 5 km.

Benar. Tidak ada rest area tapi ada charging station. Dari jauh terlihat ada mobil ION yang sedang charging. Berarti kami pun tidak akan gagal.

Awalnya agak sulit masuk aplikasinya. Saya ketok kaca ION itu. Yang keluar seorang wanita muda, modis, pakai short, sendirian. Saya minta diajari masuk aplikasinya. Berhasil.

Tentu saya bertanya dari mana dan akan ke mana. Dijawab: dari Merbabu akan pulang ke Pekalongan. Ternyata dia baru pulang dari lari 50 km di kaki gunung Merbabu. Sudah sering ikut lari melebihi jarak marathon seperti itu. Dan masih akan lari seperti itu lagi bulan depan.

Ternyata dia seorang dokter gigi. Alumnus UGM. Asal Yogya. Ambil spesialisnya pun di UGM. Kini tugasnyi di RSU Pekalongan.

Saya ucapkan terima kasih pada dokter gigi modis itu.

Kami meneruskan perjalanan. Berarti harus charging sekali lagi. Kami pilih akan isi listrik di rest area Sragen. Sekalian ke toilet.

Ternyata di SPKLU Sragen muncul kesulitan lagi. Setiap kali masuk aplikasi selalu terbaca “tunggu antrean”. Diulangi beberapa kali terus saja dijawab “tunggu antrean”. Semua statiun di situ dicoba. Jawabannya sama: tunggu antrean.

Gak masalah: listrik masih 50 persen. Masih bisa sampai Saradan.

Benar. Sampai Saradan masih 27 persen. Masuklah kami ke rest area-nya: sudah ada tiga mobil listrik yang sedang charging. Masih ada dua yang kosong. Keduanya juga fast charging.

Yang kami pilih ternyata punya problem yang sama: setiap kali masuk aplikasi dijawab: “tunggu antrean”. Lalu pindah sebelahnya: berhasil.

Dengan sisa 27 persen sebenarnya saya ingin berspekulasi: toh sudah sampai Saradan. Cukup nggak sampai Surabaya.

Kang Sahidin lebih hati-hati: lebih baik sedia payung sebelum ada debu vulkanik.

Senin, 7 September 2026

Oleh: Dahlan Iskan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.