Pasukan Viking dan Pasukan Anglo–Saxon Kembali Bertempur

oleh -105 Dilihat
banner 468x60

JIKA kita menelusuri sejarah Inggris selalu orang bicara tentang invasi bangsa Viking. Lebih dari seribu tahun yang lalu, bangsa Viking menyeberangi Laut Utara dan mendarat di pesisir Inggris dan menaklukkan negeri itu. Sisa-sisa peradaban Viking itu masih bisa dilihat sampai sekarang dalam kebudayaan Inggris.

Dalam hal bahasa misalnya, Bahasa Inggris menyerap ribuan kata dari bahasa Norse Kuno (bahasa Viking). Kata-kata umum seperti sky (langit), window (jendela), knife (pisau), cake (kue), give (memberi), dan take (mengambil) berasal dari pengaruh mereka.

Banyak nama kota dan desa di wilayah utara dan timur Inggris berakhiran “-by” (seperti Whitby atau Grimsby), “-thorpe” (seperti Scunthorpe), dan “-thwaite” (seperti Braithwaite), yang merupakan bahasa Norse Kuno untuk sebuah permukiman atau desa.

Dalam Hukum dan Pemerintahan, bangsa Viking membawa sistem hukum dan pembagian wilayah administratif baru (seperti wapentake sebagai pengganti hundreds di beberapa daerah Danelaw). Mereka juga memicu pergerakan menuju negara bersatu ketika kerajaan Anglo-Saxon seperti Wessex harus memperkuat diri untuk menghadapi ancaman Viking.

Dalam hal keahlian maritim dan perdagangan, Pelaut Viking membangun kota-kota pesisir menjadi pusat perdagangan penting, menghubungkan Inggris dengan jaringan perdagangan internasional yang luas di Skandinavia dan Eropa. Mereka juga memberikan kontribusi besar pada industri pembuatan kapal dan metode navigasi.

Jadi, mulai dari serangan di Lindisfarne pada tahun 793 hingga masa kekuasaan Cnut yang Agung, para pejuang Nordik meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah Inggris yang masih bisa kita lihat hingga hari ini.

Tapi bagaimana cerita kekuasaan bangsa-bangsa Viking di Inggris?

Ceritanya begini: Pada abad ke-9, pasukan Viking (Great Heathen Army) telah meruntuhkan hampir semua kerajaan besar di Inggris, menyisakan Kerajaan Wessex yang dipimpin oleh Raja Alfred Agung (871–899 M).

Titik Terendah terjadi pada tahun 878 M dimana Pasukan Viking meluncurkan serangan mendadak ke Wessex. Raja Alfred terpaksa melarikan diri dan bersembunyi di rawa-rawa Athelney bersama segelintir pengikutnya. Di sinilah ia menyusun kembali strategi militer secara gerilya.

Alfred berhasil mengumpulkan kembali pasukan Wessex dan memenangkan pertempuran penentu melawan pemimpin Viking, Guthrum, dalam pertempuran yang disebut pertempuran Edington. Kemenangan ini menyelamatkan kebudayaan Anglo-Saxon dari kepunahan.

Pasca-perang, Guthrum setuju untuk dibaptis menjadi Kristen. Inggris kemudian dibagi menjadi dua wilayah kekuasaan: Wessex di selatan (Anglo-Saxon) dan Danelaw di utara-timur (Viking).

Untuk mengantisipasi serangan di masa depan, Alfred membangun jaringan kota berbenteng bernama burghs (asal kata borough), mendirikan angkatan laut pertama Inggris, dan mereformasi struktur militer. Karena jasanya menyatukan fondasi bangsa Inggris, ia menjadi satu-satunya raja Inggris yang dianugerahi gelar “Agung” (The Great). Jadi jika banyak nama kota di Inggris sekarang diakhiri dengan akhiran -burgh, itu warisan sistem pertahanan Burghs yang ditinggalkan raja Alfred.

Lebih dari seabad setelah era Alfred, gelombang serangan Viking kembali menguat. Pada tahun 1016 M, seorang pangeran Denmark bernama Cnut yang Agung (Canute the Great) berhasil merebut takhta Inggris secara total.

Melalui kemenangan militer dan negosiasi politik, Cnut memproklamasikan dirinya sebagai Raja Inggris (1016–1035 M). Ia kemudian juga mewarisi takhta Denmark (1018 M) dan Norwegia (1028 M), sehingga ia menyatukan tahta-tahta tersebut.

Di bawah kepemimpinan Cnut, Inggris menjadi pusat dari North Sea Empire (Imperium Laut Utara), sebuah imperium maritim raksasa yang menyatukan Inggris dan Skandinavia.

Berbeda dengan citra Viking yang destruktif, Cnut memerintah dengan bijaksana sebagai raja Kristen yang sah. Ia mempertahankan hukum Anglo-Saxon, melindungi gereja, dan mempekerjakan bangsawan lokal Inggris dalam pemerintahannya untuk menciptakan stabilitas internal.

Kekuasaan Denmark di Inggris berakhir tidak lama setelah kematian putra-putra Cnut pada tahun 1042 M. Takhta Inggris kemudian kembali ke tangan dinasti Anglo-Saxon (Edward si Pengaku) sebelum akhirnya ditaklukkan oleh bangsa Normandia pada tahun 1066 M.

York dan New York

Ada satu kota di Inggris yang menarik jika kita bahas dalam sejarah invasi Viking ini yaitu Kota York. York merupakan pusat kekuasaan, politik, dan ekonomi utama bagi bangsa Viking selama masa invasi mereka di Inggris. Bagi bangsa Viking, kota ini dikenal dengan nama Jórvík dan berfungsi sebagai ibu kota kerajaan mereka di tanah Inggris.

Pada tahun 866 M, pasukan Great Heathen Army meluncurkan serangan ke kota ini. Saat itu, kota ini merupakan kota benteng penting milik Kerajaan Northumbria Anglo-Saxon bernama Eoforwic. Bangsa Viking memanfaatkan situasi perang saudara di Northumbria untuk merebut kota tersebut dengan mudah dan menjadikannya markas militer utama mereka.

Setelah menguasai Eoforwic, bangsa Viking mengubah pelafalan namanya menjadi Jórvík. Kota ini bertransformasi dari sekadar benteng militer menjadi ibu kota Kerajaan Viking Jórvík yang perkasa. Wilayah kekuasaannya membentang luas di bawah hukum Danelaw (wilayah kekuasaan Viking di Inggris).

Di bawah kendali Viking, Jórvík berkembang menjadi salah satu pelabuhan sungai dan pusat perdagangan terbesar di Eropa Utara. Hubungan perdagangan York meluas sangat jauh melalui jaringan maritim Viking, mencaku wilayah Skandinavia (Denmark, Norwegia, Swedia), Laut Baltik dan daratan Rusia. Bahkan terhubung secara tidak langsung ke rute perdagangan sutra di Samudra Hindia dan Bagdad melalui jalur sungai Eropa Timur.

York menjadi tempat pembauran budaya yang masif. Ribuan prajurit dan pengrajin Viking menetap, menikah dengan penduduk lokal Anglo-Saxon, dan beralih profesi menjadi petani, pedagang, serta pandai besi. Pengaruh ini masih membekas kuat pada nama-nama jalan di York saat ini yang berakhiran “-gate” (dari kata Norse Kuno gata yang berarti jalan), seperti Coppergate (jalan pengrajin piala/kayu) dan Shambles.

York menjadi benteng pertahanan terakhir Viking di Inggris. Kerajaan Viking di York resmi runtuh pada tahun 954 M ketika raja Viking terakhir, Eric Bloodaxe, diusir dan dibunuh oleh bangsa Anglo-Saxon. Kendati demikian, peninggalan arkeologis Viking di York sangat melimpah. Penemuan ribuan artefak prasejarah di area Coppergate melahirkan Jorvik Viking Centre, sebuah museum terkenal di York yang merekonstruksi secara akurat kehidupan kota York pada masa invasi Viking. Situs arkeologi di York menyimpan banyak cerita unik tentang kehidupan mereka. Di Jorvik Viking Centre anda dapat menemukan artefak seperti fosil kotoran manusia terbesar dari zaman Viking.

Sebuah kebetulan sejarah terjadi ribuan tahun kemudian.

Pada tahun 1664, Raja Charles II dari Inggris menghadiahkan sebuah kota di sebrang lautan Amerika kepada adiknya, Duke of York. Inggris kemudian mengirimkan armada militer untuk merebut kota tersebut dari tangan Belanda. Setelah Belanda menyerah tanpa perlawanan besar, Inggris mengubah nama permukiman tersebut menjadi New York sebagai bentuk penghormatan kepada Duke of York.

Sebelum bernama New York, kota tersebut bernama New Amsterdam (Nieuw Amsterdam) dari tahun 1625-1664 karena dikuasai oleh Belanda dan menjadi ibu kota dari koloni New Netherland. Belanda membangun kota pelabuhan di ujung selatan Pulau Manhattan dan menamainya New Amsterdam (Nieuw Amsterdam) sesuai dengan nama ibu kota mereka, Amsterdam. Belanda sempat merebut kembali kota itu pada tahun 1673 dan selama setahun mengubah kembali namanya menjadi New Orange untuk menghormati pangeran Belanda, William van Orange. Namun, setahun kemudian melalui perjanjian damai, kota tersebut diserahkan secara permanen kepada Inggris dan namanya kembali menjadi New York hingga saat ini.

Sejarah Terulang?

Sejarah memiliki cara unik untuk berulang kembali. Kali ini, kapal longship telah digantikan oleh bola sepak, dan kapak perang digantikan oleh sepatu sepak bola.

Sosok pemimpinnya adalah jenis Viking yang berbeda—Erling Haaland. Bersama Martin Ødegaard, Alexander Sørloth, Andreas Schjelderup, dan generasi Norwegia yang tak kenal takut ini, mereka kini hanya berjarak sembilan puluh menit untuk menorehkan sejarah saat menghadapi Inggris.

Medan pertempurannya bukan lagi Stamford Bridge atau York, melainkan perempat final Piala Dunia di bumi New York.

Ini akan menjadi penampilan pertama Norwegia di babak tersebut, sedangkan bagi Inggris ini adalah yang ke-12 kalinya.

Mari kita lihat apakah King Harry—penguasa pertama Inggris—mampu menghentikan Erling Braut (putra Alf Inge) beserta pasukannya dalam upaya mereka menyerbu kubu Inggris? Atau Alfred The Great akan bertahan dan membalikkan situasi untuk mengokohkan kekuasan Anglo-Saxon? Semuanya akan terjadi di bumi New York yang namanya dipengaruhi oleh York di England. Dan kita bersyukur itu terjadi dilapangan hijau dengan bola bundar, bukan di medan pertempuran dengan kapak dan pedang. []

Oleh: Matheos V. Messakh

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.