Panggilan Moral Seorang Sastrawan

oleh -529 Dilihat
Man writing an old letter. Old quill pen, books and papyrus scroll on the table. Historical atmosphere.
banner 468x60

Perlu diakui secara jujur, bahwa kualitas dan tingkat IQ orang Indonesia (tak terkecuali sastrawannya) hanya mencapai angka 78,4. Padahal, menurut Rocky Gerung, standar IQ yang rendah itu akan sulit menangkap moral massage dari apa yang dibaca dan dipelajari manusia Indonesia. Dan jika pun orang Indonesia membaca buku ilmiah, atau karya sastra berkualitas, ia harus mengulang berkali-kali, agar tidak mengalami gagal paham dalam menyimak tulisan yang berlandaskan imajinasi dan akal sehat.

Untuk menyimak karya sastra, semisal Pikiran Orang Indonesia (POI), perlu kiranya untuk mempertajam nalar, karena ia bukan sejenis sastra genit yang pamer kemakmuran fiktif. Ia bukanlah sejenis karya sastra yang mengumbar jargon elit politik yang menggembar-gemborkan pembangunan fisik semata. Apa yang digugat oleh novel tersebut, bukan sekadar politik kubu-kubuan, tetapi sekaligus menyingkap aktor-aktor intelektual yang berdiri di belakang layar.

Untuk menyimak karya sastra berkualitas, seringkali diperlukan jidat sebagian sastrawan berkerat-kerut. Apa yang dipaparkan dalam novel POI, tak lepas dari penemuan alternatif, atau cerminan realitas yang tajam dan kritis. Ia seakan membawa pencerahan bagi sastrawan milenial, di tengah situasi hiruk-pikuk politik oligarki kesusastraan yang carut-marut sejak masa rezim Orde Baru (baca: Membangun Akal Sehat, Kompas, 24 April 2018).

Sebagaimana karya Pramoedya Ananta Toer, goresan pena Hafis Azhari seakan menolak pembakuan monumen sejarah tunggal yang diciptakan sang tiran. Kita memiliki sangat sedikit penulis yang mampu mengembangkan fantasi yang sangat apik dan komperhensif. Rocky Gerung pernah menyatakan hal tersebut, bahwa Pramoedya sebagai satu-satunya penulis dan sastrawan yang pernah beberapa kali masuk nominasi di tingkat nobel, justru sulit dijangkau oleh otak pemikiran sastrawan seangkatannya. Para sastrawan tua yang menolak genuinitas Pramoedya, barangkali juga termasuk kelompok yang tingkat IQ-nya di bawah rata-rata tadi.

Begitu pun ketika kita serius menyimak novel Jenderal Tua dan Kucing Belang (Hafis Azhari), tak ubahnya menelusuri karya genuine Gerson Poyk dalam novel Matias Akankari. Karya sastra semacam itu, seakan membawa kita seperti tersengat aliran listrik bertegangan tinggi. Saya tidak menyatakan bahwa kedua novel tersebut seakan ditulis dalam kode-kode tertentu, tetapi kunci keselarasannya terletak pada cara sang penulis memadukan kebencian dan cinta, bahkan terang dan gelap, dalam suatu peristiwa yang dinarasikan.

Kumpulan puisi Nirwan Dewanto, “Jantung Lebah Ratu” juga tidak digarap dengan bahasa Indonesia yang njelimet. Sebagaimana karya-karya Rendra dan Afrizal Malna, yang tidak bertaburkan simbol-simbol Kejawen yang eksklusif. Ia bukan sejenis sastra Hispanik yang terlibat dialog dengan berbagai-macam suku dan etnik, tetapi sudah menyatu dalam kesatuan bahasa Indonesia dengan sentrum dialek ibukota Jakarta yang sangat kental.

Pada prinsipnya, mengupas karya sastra, khususnya puisi dan prosa, memang berbeda dengan tradisi pemikiran filsafat yang cenderung logis dan ilmiah. Kritikus sastra juga berbeda dengan sastrawan yang memang menggeluti kualitas sastra secara apik dan cerdas. Dalam perspektif tertentu, sastra filosofis lebih mengandalkan imajinasi yang unik ketimbang corak berpikir taktis ala Rocky Gerung. Meskipun, Rocky tentu saja pernah menggeluti pemikiran filosof sekaligus sastrawan sekaliber Nietzsche, Sartre, Camus, Karl Marx hingga Pascal sekalipun.

Dalam karya-karya Hafis Azhari, satu orang warganegara yang dikorbankan penguasa, tergolong peristiwa kematian yang bersifat suci dan sakral. Ketika Rocky Gerung berusaha menjadi martir dengan memanjat tebing-tebing curam di perbukitan suku Baduy, Hafis justru memilih menolong korban-korban bencana alam semampu apa yang dia lakukan. Baginya, menghidupkan seorang warga Baduy sama artinya dengan menyelematkan seluruh umat manusia. Konsep sederhana ini tak berlebihan, mengingat religiositas dan agama apa pun hendaknya berpijak dengan konsep pemikiran yang sama. Baginya, Tuhan selalu mengamati setiap amal perbuatan manusia. Menurut Hafis, di dunia sastra, memang sulit mencapai target “kepuasan” seperti yang diharapkan, karena toh pada akhirnya kembali kepada penilaian subyektif pembaca, yang tak lepas dari interpretasi dan penafsiran yang bersifat individual.

Sebaliknya, di dunia politik, biasanya teror imajinasi menjadi shock terapy yang seakan menjadi “seni” tersendiri bagi kaum penguasa. Tergambar jelas dalam novel Pikiran Orang Indonesia, yang berbeda dengan karakter pada karya-karya A.S. Laksana maupun Eka Kurniawan yang cenderung berpijak pada mental shadenfreude, yakni karya sastra yang senang melihat orang susah, serta susah melihat orang senang.

Sebaliknya, dalam karya Hafis, tampak adanya empati dalam pemaparan dialog-dialognya, sehingga nampak kekuatan bahasa yang menyuarakan pesan moral, tidak mendayu-dayu, tetapi seperti ungkapan Harold Bloom, bahwa prosa yang baik sejatinya bukan hanya menempatkan diri dalam imajinasi pembaca, tetapi sekaligus sanggup menggiring pembaca pada proses pencerahan dan penyadaran. Terkait dengan ini, ada seorang sastrawan sekaligus tentara Spanyol di abad ke-16 (Francisco de Aldana) yang merupakan favorit Cervantes, yang kemudian karya-karyanya sangat memukau hingga memengaruhi kemajuan peradaban (renaisans) di negeri Spanyol.

Sebagaimana karya Hafis, Perasaan Orang Banten, yang sanggup menggerakkan kesadaran ribuan penulis dan intelektual Banten, kita pun terkenang pada biarawan Salvando Teresa de Mier (1763-1827). Ia seorang pengkhotbah sekaligus politisi terkemuka yang diasingkan ke Spanyol oleh rezim penguasa Meksiko. Namun kemudian, kemampuan berorasi dan karya-karya sastranya sangat memengaruhi imajinasi kaum muda, sampai kemudian berhasil memerdekakan negeri Meksiko. Untuk itu, secara implisit Hafis Azhari menyatakan, bahwa sastrawan yang baik mestinya sudah selesai dengan dirinya, serta melampaui keakuannya. Jika Anda masih terpesona oleh pundi-pundi penguasa hedonis yang sibuk memperkaya diri, berarti Anda tergolong sastrawan yang belum selesai dengan diri Anda. []  


Oleh: Wawan Sanpala

Penulis adalah Pengurus Santri Pencinta Alam (Sanpala), praktisi dakwah dan pengamat sosial kemasyarakatan, kini berdomisili di Kota Bandung

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.