Melihat, Menilai, Bertindak: Mewujudkan Iman yang Transformatif di Tengah Dunia

oleh -188 Dilihat
banner 468x60

SEBAGAI makhluk sosial yang beragama, kita sering kali terjebak pada pemahaman bahwa iman hanyalah soal ritual, doa, dan urusan pribadi dengan Sang Penguasa. Kita selalu beranggapan bahwa dunia ini seperti hanya urusan politik, ekonomi, struktur sosial, dan ketidakadilan yang merupakan sesuatu yang terpisah dari ranah spiritual. Justru jika bisa merenungkan lebih dalam maka kita akan menemukan bahwa iman yang sejati tidak bisa hidup dalam ruang hampa. Iman harusnya bisa berdialog dengan realitas. Iman harus bisa menjawab tantangan zaman.

Maka di sinilah pentingnya memahami sebuah método berpikir dan bertindak yang dikenal dalam tradisi teologi kontekstual, yaitu siklus melihat (see), menilai (jugde) dan bertindak (act). Metode ini bisa dikatakan bukan hanya formula teoritis, melainkan sebuah jalan hidup yang mana mengajak kita untuk tidak menjadi pengamat pasif melainkan bertindak sebagai subjek aktif yang bisa merepon panggilan keadilan dan kasih.

Yang menjadi langkah pertama dan yang paling dasar adalah melihat atau dalam istilah aslinya see. Namun maksud dari melihat ini bermakna lebih dalam dari pada sekedar aktivitas fisik dengan menggunakan mata. Melihat berarti melakukan suatu analisis kritis terhadap apa yang terjadi di sekitar kita. Ini merupakan usaha untuk membedakan realitas, melihat tidak hanya apa yang tampak di bagian permukaan saja, tetapi bisa menggali lebih dalam apa yang tersembunyi di baliknya.

Ketika kita melihat tumpukan sampah, kemiskinan atau ketidakadilan, kita tidak hanya boleh berhenti pada kesan bahwa itu adalah masalah biasa. Kita perlu bertanya pada diri sendiri: Mengapa peritiwa demikian bisa terjadi? Sistem apa yang menopang situasi ini? Siapa yang sebenarnya yang mendapat untung? Siapa yang menjadi korban? Munculnya pertanyaan ini membantu kita untuk memahami akar masalah, bukan hanya mengobati gejalanya.

Lebih dari itu, dalam perspektif iman, cara kita melihat realitas harus dilakukan dengan mata hati yang berpihak pada yang kecil dan terpinggirkan. Seperti yang sering ditekankan dalam pemikiran teologi pembebasan, realitas sering kali jauh lebih jelas telihat dari sisi pinggiran, bukan dari pusat kekuasaan. Mereka yang menderita, mereka yang tertindas, dan mereka yang miskin memiliki kepekaan yang tajam terhadap ketidakbenaran karena merekalah yang merasakan dampaknya secara nyata.

Oleh karena itu, untuk bisa melihat dengan benar, kita perlu merendahkan diri, turun ke lapangan, dan mendengarkan suara mereka yang sering kali tidak terdengar. Proses ini juga membutuhkan bantuan ilmu pengetahuan lainnya, seperti sosiologi, ekonomi, dan sejarah, agar analisis kita tidak melayang-layang, melainkan kokoh berdasarkan fakta dan data.

Di tahap ini, iman kita diuji relevansinya. Kita tidak bisa mengatakan percaya kepada Allah yang penuh kasih, tetapi diam saja melihat sesama diperlakukan tidak adil. Contoh yang sangat kuat bisa kita lihat dari bagaimana para teolog kontekstual menafsirkan penderitaan. Mereka membaca penderitaan umat saat ini sebagai kelanjutan dari penderitaan Yesus di kayu salib.

Ketidakadilan yang terjadi bukan hanya masalah sosial, tetapi juga masalah teologis karena menyangkut martabat manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Proses penilaian ini memastikan bahwa tindakan yang akan kita lakukan nanti tidak hanya berdasarkan emosi atau kepentingan sesaat, tetapi berakar kuat pada keyakinan iman yang mendalam.

Tahap akhir dan yang paling menentukan adalah Bertindak atau Act. Banyak orang pandai berteori, banyak orang bisa berdoa dengan indah, namun gagal dalam aksi nyata. Teologi yang benar adalah teologi yang membuahkan karya. Jika kita sudah melihat masalahnya dan sudah menilainya bertentangan dengan kehendak Tuhan, maka konsekuensi logisnya adalah harus bergerak untuk mengubahnya.

Tindakan ini bisa bermacam-macam bentuknya; bisa berupa advokasi, pemberdayaan ekonomi, pendidikan, atau kerja sosial langsung. Yang penting adalah ada upaya konkret untuk meruntuhkan struktur yang jahat dan membangun struktur yang membawa keadilan.

Namun, tindakan ini bukanlah akhir dari segalanya. Setelah bertindak, kita kembali lagi untuk melihat hasilnya, menilai kembali apakah sudah sesuai dengan kehendak Tuhan, dan bertindak lagi jika diperlukan. Ini membentuk sebuah “lingkar praksis” yang terus berputar dan berkembang secara spiral.

Dalam proses ini, iman kita menjadi semakin dewasa dan relevan. Kita menyadari bahwa menjadi orang beriman artinya menjadi agen perubahan. Kita dipanggil tidak hanya untuk menyelamatkan jiwa sendiri, tetapi juga ikut serta dalam karya Allah memulihkan dunia ini menjadi lebih baik, lebih adil, dan lebih berkelimpahan bagi semua orang.

Akhirnya bahwa metode Melihat, Menilai, dan Bertindak mengajarkan kita bahwa iman dan kehidupan tidak bisa dipisahkan. Iman yang hidup adalah iman yang berani menghadapi realitas, mengukurnya dengan standar kebenaran Ilahi, dan berani mengambil risiko untuk melakukan perubahan.

Mari kita jadikan metode ini sebagai cara pandang kita sehari-hari, sehingga kita tidak lagi menjadi orang-orang yang menutup mata terhadap penderitaan di sekitar, melainkan menjadi tangan dan kaki Tuhan yang nyata untuk mewujudkan Kerajaan Allah di muka bumi.

Oleh: Yoseph Suri Bitin

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.