Ketika Firaun Menggelar Sajadah Panjang

oleh -107 Dilihat
banner 468x60

CUKUP jelas perumpamaan orang munafik dalam surat al-Baqarah ayat 17, yakni seperti orang yang tiba-tiba menyalakan api dan menyinari sekelilingnya, lalu dalam sekejap api itu padam dan kembali diselimuti kegelapan.

Allah membiarkan mereka hidup bagaikan diselimuti awan-awan gelap. Mereka tersesat memasuki sebuah goa, lalu semakin melangkah ke dalam semakin terjerumus ke jurang kesesatan. Salah satu contoh pemimpin munafik yang menentang Rasul pada zamannya adalah Firaun, berasal dari kata “far’ah”.

Nabi Isa menganalogikan kemunafikan Firaun (Ramses II) sejajar dengan Raja Herodes, karena mereka sama-sama gemar menyoroti perilaku orang lain yang hanya melakukan dosa kecil, sementara mereka tak peduli kelakuannya sendiri yang selalu dilumuri dosa-dosa besar (Matius 7:5).

Orang munafik hanya peduli reputasinya di mata manusia, tetapi sama sekali tak punya ketulusan dalam relasinya dengan Tuhan. Ditegaskan pula dalam Matius 23:27, bahwa orang-orang munafik bagaikan kuburan yang dilabur dengan warna putih, tampaknya indah di luar tetapi di dalamnya dipenuhi oleh tulang belulang.

Secara harfiah, makna Firaun adalah “rumah yang megah” sebagai simbol bangunan kerajaan, dengan monumen-monumen yang besar dan mewah. Dulunya Firaun pernah mengalami kekalahan perang, namun setelah memperkuat balatentaranya dan memenangkan pertempuran, ia berusaha menanamkan rasa takut kepada rakyat yang dipimpinnya (Mesir).

Cara yang ia gunakan adalah “teror imajinasi” dengan berusaha membuat bangunan-bangunan besar seperti Piramida, Sphinx, serta bangunan megah lainnya yang dipajang di sepanjang trotoar yang dilewati orang-orang yang akan menuju pintu gerbang kerajaannya.

Sikapnya yang egois dan temperamental jarang diperlihatkan di depan umum, tetapi Asiah (sang istri) jelas memahami karakteristiknya, karenanya ia tak pernah mau percaya, khususnya ketika Firaun mengultuskan dirinya selaku “Tuhan” di hadapan rakyat Mesir.

Sang istri justru punya imajinasi sendiri tentang “rumah megah” sehingga diam-diam ia berdoa kepada Tuhan (at-Tahrim: 11): “Ya Tuhanku, bangunkan rumah megah bagiku (dari sisi-Mu) di dalam surga.” Asiah menghendaki rumah yang bukan hanya megah secara fisik, tetapi juga memberi rasa aman dan nyaman. Bukan rumah bersama Firaun yang selalu menciptakan teror dan ketakutan baginya.

Kemudian, ketika watak Firaun sudah sampai pada titik “thugyan” (keterlaluan), Tuhan memerintahkan Nabi Musa untuk menemuinya, sampai kemudian Musa dapat memahami tabiat Firaun yang tampaknya (dalam konteks sekarang) tak beda jauh dengan Trump atau Netanyahu, yang seakan tak peduli tangannya berlumuran darah. Bahkan, tak peduli pihak mana yang mereka habisi dan korbankan, tanpa alasan yang bisa dipertanggung jawabkan.

Ketika pembicaraan sudah memasuki hal-hal yang dianggap krusial, khususnya mengenai Tuhan yang melarang penindasan dan ketidakadilan, maka bangkitlah murka dan amarah Firaun.

Mungkin perlu dijelaskan di sini, mengapa nama Firaun saya sandingkan dengan Trump dan Netanyahu?

Pasalnya, di dalam Al-Quran nama Firaun kerap disandingkan dengan kejahatan kaum Qurays yang gencar memusuhi dakwah Nabi Muhammad. Mereka disebut sebagai pelaku “syirik”, dan orang-orang Mesir sendiri tak punya kecerdasan dan keterampilan menciptakan bangunan megah, tanpa dibantu oleh kecerdasan Bani Israel. Sedangkan, para arsitek Bani Israel yang dikerahkan di lapangan, karena mereka adalah budak, tentu tidak mendapatkan bayaran dari Raja Firaun.

Sebagaimana Netanyahu, Trump dan para elit global lainnya, kesyirikan yang mereka lakukan bukan hanya soal mistis dan menyembah Dewa Ba’al, melainkan juga syirik politik. Sementara, penduduk Mesir tak berkutik bukan hanya takut melawan pemerintahan yang sah, tetapi juga takut melawan doktrin religius dikumandangkan pada tokoh agama.

Firaun berhasil menancapkan pandangan religiusitas baru dalam prinsip kebertuhanan. Ia pernah memerintahkan penyembahan matahari sebagai “Amun Ra” yang merujuk pada Dewa Bapak, sumber dari segala ciptaan semesta. Sedangkan penduduk bumi hanyalah keturunan Tuhan. Tetapi, karena Amun Ra berada di ketinggian langit yang tak terjangkau, dia pun membutuhkan tuhan lain yang berada di bumi. Nah, si Firaun itulah yang kemudian membikin “ijazah” sendiri bahwa dia adalah Tuhan.

Dengan demikian, penduduk Mesir tidak berani macam-macam. Mereka takut melakukan sesuatu yang bertentangan dari aturan Firaun, karena dengan demikian ia melawan aturan agamanya sendiri.

Ironisnya, Firaun pintar bersembunyi di balik doktrin agama, supaya ia bisa menjaga stabilitas politiknya. Itulah yang kerap didengungkan oleh penulis Banten (Hafis Azhari) perihal “atheisme kaum beragama”, yakni mereka yang sibuk membentangkan sajadah di dalam masjid, namun di jalanan sangat getol dalam melanggar aturan, bahkan di kantor tak segan-segan mengorupsi uang rakyat dalam skala milyaran.

Ya, memang cukup banyak tokoh politik yang berubah menjadi saleh, mengunjungi rumah ibadah, menyodorkan sumbangan pembangunan pesantren, sehingga menganggap dosa-dosanya lunas, hanya karena menggelar sajadah panjang, berdiri di shaf depan pada pelaksanaan salat Jumat. (*)

Oleh: Mu’min Roup

Penulis adalah Dosen dan Peneliti di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, menulis esai dan prosa di berbagai media luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.