Isi Dompet

oleh -48 Dilihat
Bandara Vladivostok
banner 468x60

Tujuan utama saya ke Rusia adalah Moskow. Itu saya jadwalkan sebagai ”mampir”. Yakni dalam perjalanan pulang dari Amerika dan Kanada. Dari Moskow saya ingin ke St. Petersburg. Itu pun kalau dapat visa.

Manusia hanya bisa merencanakan. Amerika yang menentukan: tidak ada lagi penerbangan dari salah satu kota di Amerika ke Moskow. Pun dari Kanada. Ups. Tidak apa-apa. Saya bisa terbang ke salah satu negara Eropa bagian utara. Transit di situ untuk ke Moskow.

Semua itu nanti saja dipikir. Konsentrasi ke Piala Dunia dulu.

Setelah tim Amerika kalah Piala Dunia sudah selesai. Saya ke Kanada. Tim Kanada juga kalah. Piala Dunia pun sudah selesai di Kanada.

Saya mulai mikir ke Moskow: lewat mana. Paling enak lewat London. Tidak mungkin. Inggris bersikap lebih keras ke Rusia daripada Amerika. Tidak akan ada penerbangan London-Moskow.

Mungkin lewat Polandia saja –sebagai bekas anggota Uni Soviet, Rusia mestinya punya hubungan khusus. Ternyata juga tidak ada hubungan Warsawa-Moskow. Pun bila lewat kereta api antarnegara.

Lantas saya terpikir lewat Helsinki, Finlandia. Kalau toh tidak ada penerbangan Helsinki-Moskow kan bisa naik kereta api. Dari Helsinki ke St Petersburg lantas ke Moskow. Dekat sekali. Ibarat dari Purwokerto ke Bandung. Saya tahu ada jalur kereta api khusus yang secara rutin menghubungkan Helsinki-St Petersburg.

Ternyata sejak Amerika menjatuhkan sanksi ke Rusia, jalur kereta api ini pun ditutup. Buntu.

Ingin juga lewat Denmark –sekalian bisa mampir bertemu perusuh Disway di sana: Liang. Tapi itu juga tidak mungkin.

Satu-satunya jalan lewat Istanbul, Turkiye. Ada penerbangan langsung Istanbul-Moskow.

Turkiye telah bisa menjadi negara yang unik dalam hubungan internasional. Turkiye anggota NATO. Organisasi pertahanan Atlantik Utara itu sangat anti Rusia tapi Turkiye bisa punya hubungan baik dengan Russia.

Tapi kalau lewat Istanbul terlalu ke selatan, lalu harus balik ke utara. Mendingan lewat Beijing. Ada penerbangan langsung Beijing-Moskow.

Maka dari Montreal, Kanada, saya terbang ke Beijing –lewat Seoul. Di Quebec City, sebelum balik ke Montreal, saya putuskan: tetap ke Rusia, tapi ke Vladivostok saja. Hanya dua jam penerbangan dari Beijing. Yang penting saya jadi ke Rusia. Hemat waktu. Hemat biaya.

Anda sudah tahu: banyak penerbangan dari Beijing ke Vladivostok. China Air saja dua kali sehari. Ada lagi penerbangan swasta Rusia: Aurora. Saya pilih naik Aurora. Jadwalnya cocok: saya kan mendarat di Beijing pukul 20.00. Aurora terbang ke Vladivostok pukul 05.00. Hanya sayangnya harus pindah bandara: dari bandara Capital Beijing ke bandara Daxing yang lebih baru.

Tidak masalah. Saya bisa tidur seadanya di bandara. Toh saya sudah bukan siapa-siapa lagi. Sebenarnya Jannet menawarkan tidur di rumahnya di Beijing tapi waktu akan habis di jalan.

Persoalan besar muncul: saya tidak punya rubel. Padahal berbagai macam kartu bank tidak berlaku di sana. Pun uang digital.

Sistem digital perbankan internasional diputus –tidak bisa dipakai di Rusia. Berarti saya harus bayar apa pun di sana pakai uang kontan. Dompet saya sudah tipis –hanya diisi kartu-kartu.

Saya harus cari utangan. Renminbi. Untuk ditukar rubel di bandara Beijing.

Betapa banyak rubel yang harus saya bawa. Setidaknya harus cukup untuk membayar hotel yang tidak murah. Bayar hotel harus dengan uang cash. Seperti balik ke zaman batu.

Hotelnya sendiri tidak mengharuskan pakai uang cash. Bisa pakai kartu. Tapi kartu Rusia. Rupanya Rusia sudah punya sistem pembayaran digitalnya sendiri. Isolasi Barat memang menyusahkan saya, tapi tidak sampai menyusahkan warga negara di sana.

Saya pernah punya rubel satu tas plastik. Di zaman Presiden Soeharto. Saya ikut dalam rombongan presiden berkunjung ke Moskow dan St Petersburg. Lalu ke Tashkent di Uzbekistan –waktu itu masih bagian Uni Soviet. Dari Tashkent ke Bukhara di Samarkand –ke makam perawi hadis ulama besar Imam Bukhari.

Saat bermalam di Tashkent, kamar hotel saya diketuk tiga kali. Ketika saya buka pintu dua orang berjubah muslim memaksa masuk sambil memberi isyarat agar saya jangan bicara.

Pintu ditutup. Dikunci. Mereka mengajak bicara baik-baik. Mereka bilang bahwa saya pasti memerlukan rubel. Mereka menawarkan agar saya menukar dolar dengan rubel yang mereka bawa. Mereka bilang saya bisa membeli rubel jauh lebih murah dibanding di tempat penukaran resmi.

“Ini untuk biaya perjuangan kami di Afghanistan,” kata mereka setengah berbisik.

Saya pun serahkan dua lembar dolar Amerika @100. Mereka memberi saya rubel satu kantong plastik. Saya tidak hitung berapa nilainya. Yang penting mereka cepat keluar kamar.

Waktu itu sistem komunis di Uni Soviet dalam proses keruntuhannya. Saya sempat ke toko-toko di Moskow tapi tidak ada barang. Toko-toko nyaris kosong. Toko baju hanya memajang satu dua baju. Saya pun tidak beli apa-apa. Tidak ada yang bisa dibeli.

Sebagai anggota rombongan presiden saya juga tidak bisa ke mana-mana. Jadwal amat padat. Sampai hari terakhir akan meninggalkan Uni Soviet, rubel itu utuh. Saya tinggalkan di kamar. Saya takut membawa pulang –menjaga kehormatan rombongan. Toh di Indonesia tidak laku. Rubel Soviet saat itu ibarat sampah.

Rubel yang sekarang adalah rubel Russia. Beda. Sudah bernilai tapi tidak laku di banyak negara.

Pukul 06.00 saya mendarat di Vladivostok: kali pertama. Pikiran pun mengarah ke petualangan baru: naik kereta Trans Siberia. Itulah jalur kereta api terpanjang di dunia.

Tidak. Tidak mungkin. Isi dompet saya terbatas sekali.

Sabtu, 18 Juli 2026

Oleh: Dahlan Iskan

Sumber: Catatan Harian Dahlan Iskan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.