Dua Menit

oleh -96 Dilihat
Penampilan Shakira dan Burna Boy saat halftime show final Piala Dunia 2026 lalu. (Foto: FIFA)
banner 468x60

MENONTON sepak bola itu harus memihak. Itu baru asyik. Ada sedikit tegangnya. Tidak memihak tidak asyik sama sekali. Contohnya saya.

Mungkin itu karena saya mantan wartawan. Sudah terbiasa tidak memihak –kecuali yang bertanding klub yang satu itu. Tapi redaktur olahraga di koran saya dulu, tidak hanya memihak; ia fanatik tim Jerman. Namanya Johny Kwee –meninggal tiga tahun lalu.

Ketika tim Jerman sudah ketinggalan gol pun ia begitu yakin pasti bisa membalas.

Johny keras sekali dalam memperlakukan wartawan olahraganya. Begitu naskah wartawan itu diserahkan kepadanya, si wartawan tidak boleh pergi. Harus menunggu sampai naskahnya ia baca. Begitu ia temukan si wartawan salah eja dalam menulis nama pemain sepak bola tidak ada ampun: si wartawan diminta menulis nama pemain bola itu secara benar sampai seratus kali. Pakai tulisan tangan. Nama-nama pemain bola luar negeri kadang memang sulit dieja.

Di Piala Dunia 2026 ini saya tidak pernah sampai membatalkan perjalanan karena harus nonton siaran langsung. Pertandingannya memang sering antara pukul 12.00 atau pukul 16.00 waktu timur Amerika-Kanada. Pada jam seperti itu biasanya saya sedang berkendara di perjalanan. Dari satu kota ke kota lain. Hanya ketika saya sudah tiba di Vladivostok, pertandingannya pagi waktu Rusia timur.

Meski Rusia diboikot dari Piala Dunia tapi saya yakin akan ada siaran sepak bola di TV Vladivistok. Memang sudah dua kali Piala Dunia Rusia dilarang ikut serta –sejak melakukan pengambilalihan wilayah Crimea dari Ukraina. Waktu itu Rusia sedang ikut babak penyisihan menuju Piala Dunia di Qatar.

Dari begitu banyak channel di TV di hotel itu saya temukan ada satu channel khusus olahraga. Channel itu selalu menyiarkan potongan-potongan pertandingan Piala Dunia. Selalu juga memutar ulang pertandingan sehari sebelumnya; dengan komentator Rusia dalam bahasa setempat.

Berarti, besok pagi, di semifinal Maroko lawan Prancis akan disiarkan di channel ini, kata saya dalam hati. Maka channel itu pun saya biarkan hidup terus sepanjang harmal.

Paginya, menjelang jadwal semifinal saya sudah di depan TV. Isinya masih komentar-komentar mengenai Maroko v Prancis. Saya tidak tahu yang dibincangkan tiga komentator itu. Tidak mengerti itu baik agar saya tidak terpengaruh komentator.

Pukul 08.00 tiba. Kok belum pindah ke stadion di Amerika. Lewat tiga menit pun masih tetap adu komentar. Jangan-jangan saya salah lihat jadwal. Saya pun buka internet: tidak salah. Pertandingan sudah dimulai. Sudah lima menit. Posisi masih kacamata.

Akhirnya saya pelototi layar TV itu. Kok tiga komentatornya seperti sedang membicarakan jalannya pertandingan. Dari raut wajah mereka saya ambil kesimpulan: tiga komentator itu menghadap layar TV yang sedang menayangkan semifinal Piala Dunia secara live. Lalu mengomentarinya untuk pemirsa.

Rupanya Rusia tidak hanya dilarang bermain di Piala Dunia bahkan dilarang siaran langsung. Atau, Putin kalah dengan Prabowo: berani bayar mahal untuk mendapat hak siar secara langsung agar rakyat Indonesia bisa menonton secara gratis.

Gubernur Papua kelihatannya mendukung habis program Piala Dunia Prabowo. Sang gubernur Senin lalu meliburkan pegawai negeri di sana. Final Piala Dunia Spanyol-Argentina itu memang baru selesai pukul delapan pagi waktu Papua. Ups..ternyata berita ini hoax. Pemprov Papua sudah mengklarifikasi bahwa berita itu tidak benar.

Bagi saya sendiri pertandingan yang mengesankan adalah saat Jepang lawan Brasil. Lalu Inggris lawan Argentina –khusus di babak pertamanya.

Kali ini final Piala Dunia benar-benar ”kelas final”: paling menarik. Sering dalam event besar seperti Piala Dunia semifinalnya lebih menarik daripada final.

Tapi menonton tanpa memihak sangatlah tidak asyik. Maka saya lebih tertarik memperhatikan dua atraksi di Piala Dunia: atraksi tim Norwegia dan pertunjukan musik di final.

Setiap kali Norwegia menang, seluruh pemain duduk berjajar di tengah lapangan. Mereka membentuk formasi siap mendayung kapal. Sebuah tambur di depan mereka. Begitu tambur dipukul gerakan dayung serentak dilakukan. Diikuti teriakan keras bersama. Gerakan itu diikuti oleh seluruh suporter Norwegia di tribun stadion. Kian lama pukulan tambur kian cepat. Negitu juga gerakan mendayung dan teriakan serentak itu: HUH !

Itulah atraksi Viking Clap. Atau disebut juga Viking War Chant. Di masa nan silam Norwegia memang dikenal sebagai bangsa Viking: dianggap selalu memenangkan pertempuran laut.

Belum ada atraksi kemenangan serupa Norwegia di mana pun di dunia.

Tentu saya juga sangat terkesan dengan pertunjukan di waktu jeda pertandingan final. Sepak bola telah tunduk pada tradisi kuat Amerika. Seolah ada tekanan: Piala Dunia sepak bola boleh dilaksanakan di Amerika tapi harus menyerap tradisi setempat.

Tentu aslinya tidak seperti itu. Yang jelas tradisi sepak bola dunia ”ikut” tradisi sepak bola Amerika.

Puncak kompetisi sepak bola Amerika disebut Super Bowl. Semacam grand final. Di setiap kali Super Bowl publik Amerika selalu menunggu: apa atraksi yang akan ditampilkan di halftime-nya. Penyanyi-penyanyi top Amerika selalu tampil di acara tahunan seperti itu. Rating pemirsanya tertinggi. Harga iklan halftime-nya termahal di Amerika.

Tahun ini Super Bowl berlangsung Februari lalu. Harga iklan per 30 detiknya: Rp 140 miliar.

Bagi Piala Dunia, ini kali pertama ada pertunjukan halftime. Artis yang ditampilkan Anda sudah tahu: Justin Bieber, Madonna (Amerika), Shakira (Kolombia), dan Burna Boy (Nigeria-Afrika), BTS-nya Korea Asia, dan Cold Play dari Inggris Eropa.

Dua hari setelah atraksi itu hasil survei pasar sudah keluar: BTS yang ditonton terbanyak. Lewat lagunya: Dynamite. Lalu Shakira lewat lagunyi: Dai Dai. Anda sudah tahu apa arti bahasa Italia Dai Dai. Itu seruan penyemangat: Ayo! Atau ”Yo Ayo”.

Hampir semua kata searti disertakan dalam teks Dai Dai. “Dai Dai (Italia), Ikou! (Jepang), Dale! (Spanyol), Allez! (Prancis), Let’s Go! (Inggris)”, lantun Shakira dalam nada yang mudah diikuti siapa saja.

Itu mengingatkan pada tampilan Shakira di Piala Dunia di Afrika Selatan 2010 dengan lagunyi Waka Waka. Yakni ketika Shakira masih menjadi pasangan bintang sepak bola Spanyol Gerard Pique.

Sepak bola kini sudah bergaya Amerika. Awalnya itu dianggap akan merusak sepak bola. Waktu istirahat yang baku 15 menit bisa menjadi 30 menit.

Ternyata sangat menarik. Juga tidak merusak. Jeda antara babak pertama dan kedua itu hanya molor dua menit.

Saya hanya sedikit protes: mengapa Dai Dai dalam bahasa Mandarin tidak disertakan: Jia You!

Mungkin karena Tiongkok tidak lolos Piala Dunia: Italia kali ini kan juga tidak?

Rabu, 22 Juli 2026

Oleh: Dahlan Iskan

Sumber: Catatan Dahlan Iskan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.