Di Tanah Kering NTT, MBG Jalan Merawat Kehidupan — Bagian 2

oleh -73 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Setyo Budiantoro

Menyusuri Pulau Solor di Flores Timur NTT, ada perasaan yang diam-diam menetap di dada. Tanah berbatu, kering, curam, dan keras tidak menyambut kita dengan keramahan yang mudah, melainkan dengan pertanyaan yang lebih dalam: sanggupkah kita benar-benar memahami hidup yang setiap hari harus berunding dengan alam sekeras ini?

Di tempat seperti Solor, kita cepat belajar bahwa kemiskinan bukan sekadar angka di laporan, bukan warna tertentu di peta, bukan pula indikator yang rapi di layar presentasi. Kemiskinan punya bunyi langkah kaki yang jauh, punya rasa haus yang panjang, punya wajah ibu-ibu yang tetap memasak dengan apa yang tersisa, dan punya mata anak-anak yang tumbuh di tengah keterbatasan yang terlalu lama dianggap biasa.

Di Solor, pembangunan tidak bisa datang dengan bahasa yang terlalu tinggi. Ia harus menunduk. Ia harus menyentuh batu, merasakan debu, mendengar napas warga, lalu bertanya dengan rendah hati: dari mana kita mulai? Sebab di sana, bahkan untuk menggarap lahan, para petani harus berjalan sekitar 14 kilometer setiap hari Senin menuju tempat yang relatif lebih datar, lalu baru pulang pada Jumat atau Sabtu.

Bayangkan sebuah hidup yang harus ditinggalkan separuh minggu hanya untuk mencari tanah yang sedikit lebih mungkin ditanami. Mereka pergi membawa bekal, tenaga, dan harapan; tinggal beberapa hari di sekitar lahan, jauh dari rumah dan keluarga, hanya agar ada sesuatu yang bisa tumbuh dari tanah yang keras. Di sana, bertani bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah cara manusia mempertahankan martabatnya di hadapan ketidakpastian.

Lalu persoalan air, kesulitan paling dasar yang membuat semua rencana menjadi lebih berat. Membuat sumur bor bukan perkara sederhana. Kedalamannya bisa mencapai sekitar 80 meter, dan tetap tidak ada jaminan akan menemukan air tawar. Bisa saja yang keluar justru air payau. Seolah-olah alam belum selesai menguji manusia yang hidup di atasnya: tanah keras, lahan jauh, air sulit, biaya besar, tenaga terbatas, dan hasil yang belum tentu pasti. Kesulitan itu terasa begitu lengkap, hampir sempurna. Tetapi justru di tengah kesempurnaan kesulitan itulah kita melihat sesuatu yang tidak kalah kuat: keteguhan manusia untuk tetap hidup, tetap menanam, tetap berharap.

Mungkin karena itu, di tanah seperti Solor, menanam pada dasarnya adalah tindakan iman. Para petani pulang pada Jumat atau Sabtu bukan hanya untuk mengistirahatkan tubuh yang letih, tetapi juga untuk kembali kepada keluarga, rumah ibadah, dan ruang batin tempat harapan diperbarui. Mereka kembali bukan karena pekerjaan selesai, melainkan karena manusia memang tidak bisa hidup hanya dari tenaga.

Ia membutuhkan doa, pelukan keluarga, percakapan sederhana di rumah, dan keyakinan bahwa kerja kerasnya tidak sia-sia. Di Solor, iman itu juga tidak hidup dalam sekat yang kaku. Meski Katolik menjadi mayoritas, komunitas Muslim yang cukup besar menjadi bagian dari denyut sosial pulau ini. Kebersamaan lintas agama bukan slogan yang dipajang pada spanduk, melainkan cara hidup sehari-hari: saling mengenal, saling menjaga, dan sama-sama bertahan di atas tanah yang keras.

Karena itu, ketika kita bicara tentang MBG berbasis masyarakat di tempat seperti ini, kita tidak sedang bicara tentang program makan semata. Kita sedang bicara tentang kemungkinan membangun arsitektur kehidupan yang baru: bagaimana piring anak-anak di sekolah dapat terhubung dengan kebun petani, bagaimana dapur menjadi simpul ekonomi lokal, bagaimana pangan menjadi jalan untuk mengembalikan martabat desa, dan bagaimana kebijakan publik tidak berhenti sebagai instruksi dari atas, tetapi turun menjadi denyut hidup yang dirasakan keluarga-keluarga kecil di tanah yang paling sulit sekalipun.

Di tanah kering seperti Solor, MBG hanya akan bermakna bila ia tidak diperlakukan sebagai rantai pasok makanan dari luar, melainkan sebagai alasan untuk menghidupkan kembali rantai kehidupan dari dalam.

Harapan itu mulai tampak dari wajah-wajah yang ikut belajar di TTS. Dari sekitar 135 orang yang mengikuti magang dan pelatihan, setidaknya sekitar 40 orang berasal dari Pulau Solor. Banyak di antara mereka adalah anak muda dan perempuan. Bagi saya, ini bukan detail kecil. Justru di sana ada tanda penting bahwa perubahan sedang mencari generasi penjaganya.

Anak muda membawa tenaga, rasa ingin tahu, dan keberanian mencoba cara baru. Perempuan membawa ketekunan, ingatan pangan keluarga, dan pengalaman panjang mengelola kekurangan tanpa banyak pengakuan. Ketika keduanya masuk ke dalam ekosistem pertanian yang lebih tertata, harapan tidak lagi abstrak. Ia mulai memiliki wajah, tangan, dan langkah.

Mereka tidak datang ke TTS untuk mendengar ceramah pembangunan. Mereka belajar dari praktik yang hidup: merencanakan lahan, membuat bedeng, memilih bibit, merawat tanaman, mengatur pola tanam tumpangsari, membaca musim, menghitung kebutuhan produksi, menjaga kualitas panen, lalu menyambungkannya dengan dapur MBG dan pasar.

Mereka melihat bahwa pertanian tidak bisa lagi berdiri sendiri sebagai kerja mencangkul tanah. Pertanian harus menjadi ekosistem: ada produksi, pengolahan, logistik, pembeli, standar, pencatatan, dan kepercayaan. Di situlah petani tidak hanya diminta bekerja lebih keras, tetapi dibantu agar bekerja dalam sistem yang lebih masuk akal.

Ini penting, sebab terlalu lama petani kecil ditempatkan pada posisi paling rapuh dalam rantai ekonomi. Mereka menanggung risiko cuaca, gagal panen, harga jatuh, pasar yang tidak pasti, dan biaya produksi yang terus naik. Tetapi ketika nilai tambah dibicarakan, mereka sering berada paling belakang. Ketika pangan dibutuhkan, mereka dicari. Tetapi ketika sistem dibangun, mereka jarang menjadi pusat.

MBG memberi peluang untuk membalik logika itu. Bila dapur sekolah menjadi pembeli yang pasti, bila menu disusun dengan memperhitungkan potensi lokal, bila jadwal tanam diatur bersama, dan bila pembayaran dijaga tepat waktu, maka piring anak-anak dapat menjadi pintu masuk bagi ekonomi desa yang lebih berkeadilan.

Namun harus diakui, soal air tetap menjadi momok paling nyata. Tanpa air, semua gagasan mudah berubah menjadi kalimat indah yang tidak sanggup hidup di tanah. Pembuatan satu sumur bor bisa membutuhkan biaya ratusan juta rupiah, dan hasilnya pun belum tentu air tawar. Di sisi lain, menggarap lahan keras dan kering dengan cara manual akan terus menyiksa tubuh petani.

Punggung manusia punya batas. Tenaga manusia punya umur. Karena itu, alat seperti cultivator (mesin kecil pengolah tanah) bukan kemewahan. Ia adalah kebutuhan agar kerja pertanian menjadi lebih manusiawi, lebih produktif, dan lebih layak dijalani oleh anak muda. Kita sering meminta anak muda kembali ke desa, tetapi lupa bahwa mereka juga membutuhkan alasan yang rasional untuk bertahan: air, alat, sistem, pasar, dan prospek hidup yang tidak hanya romantis.

Mungkin di titik inilah kita perlu membaca pilihan-pilihan pahit yang selama ini tampak seperti keputusan pribadi, padahal akarnya sering kali sistemik. Banyak anak muda dari wilayah-wilayah seperti ini akhirnya memilih menjadi pekerja migran, sebagian dengan risiko besar dan perlindungan yang tidak selalu memadai. Entah sudah berapa banyak yang pulang dalam keadaan luka, patah, atau bahkan dalam peti mati.

Mereka tidak pergi karena tidak mencintai kampungnya. Sering kali mereka pergi karena kampung halaman belum mampu menawarkan masa depan yang cukup aman untuk dipilih. Dan bila itu terjadi berulang-ulang, kita tidak boleh hanya bertanya mengapa mereka pergi. Kita harus lebih berani bertanya: sistem seperti apa yang gagal kita bangun sehingga pergi menjadi pilihan yang terasa lebih mungkin daripada tinggal?

Di titik inilah saya melihat bahwa visi daerah menjadi sangat menentukan. Bupati Flores Timur, Bang Anton Doni Dihen, tampaknya memahami bahwa membangun Solor tidak bisa hanya dengan meminta warga lebih rajin menanam. Ia harus dimulai dari prasyarat paling dasar: air. Karena itu, ketika saya melihat dua sumur bor dan bak penampungan air yang mulai disiapkan serta lahan diolah tidak lama setelah Bang Anton menjabat, saya merasakan ada arah yang sedang dibuka.

Dengan rasa penasaran, meskipun sebenarnya saya agak fobia ketinggian, saya tetap naik ke bak penampungan air itu. Dari atas sana, saya melihat tanah yang luas, kering, dan keras. Tetapi anehnya, saya juga melihat kemungkinan. Kadang kita memang perlu naik sedikit lebih tinggi untuk memahami bahwa yang tampak mustahil dari dekat, bisa mulai terbaca sebagai peta kerja bila dilihat dengan keberanian dan kesabaran.

Di atas bak penampungan itu, saya membayangkan sesuatu yang sederhana tetapi besar maknanya: air mengalir lebih teratur, lahan mulai bisa diolah, petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kemurahan hujan, anak muda punya alasan untuk pulang ke kebun, perempuan punya ruang lebih kuat dalam ekonomi pangan, dan dapur MBG membeli hasil dari tanah mereka sendiri.

Bayangan itu belum menjadi kenyataan penuh. Masih jauh. Masih banyak lubang yang harus ditutup: pembiayaan, alat, pendampingan, tata kelola, jadwal tanam, kepastian serapan, dan disiplin kolektif. Dua sumur bor jelas masih sangat jauh dari cukup. Dibutuhkan puluhan titik air, pertanian presisi, irigasi tetes, sprayer yang sesuai, bahkan mungkin embung-embung mikro untuk menampung air hujan. Tetapi pembangunan memang tidak selalu dimulai dari kepastian. Sering kali ia dimulai dari keberanian membuat kemungkinan pertama.

Dari titik itu, pertanyaannya menjadi sangat konkret. Petani Solor tidak meminta hidup dimudahkan secara berlebihan. Mereka sudah membuktikan bahwa mereka sanggup berjalan jauh, tinggal di lahan, mencangkul tanah keras, menunggu hujan, dan tetap pulang membawa iman.

Yang mereka butuhkan adalah dukungan pada hal-hal yang nyaris mustahil mereka tanggung sendiri: sumur bor, bak penampungan air, jaringan distribusi sederhana, alat pengolah lahan, akses pembiayaan, pendampingan teknis, dan kepastian bahwa hasil kerja mereka tersambung dengan pasar yang adil. Membuat sumur bor dan bak penampungan air yang nilainya bisa mendekati ratusan juta rupiah, atau menyediakan cultivator bagi kelompok tani yang harganya berkisar puluhan juta rupiah, bukan sekadar urusan membeli barang. Dalam konteks Solor, itu adalah cara membuka pintu yang selama ini terlalu berat mereka dorong sendirian.

Pada akhirnya, pembangunan membutuhkan biaya. Tetapi tidak semua biaya harus dipahami sebagai beban; sebagian adalah bentuk tanggung jawab. Ada ruang untuk hibah, pinjaman lunak, gotong royong sosial, dan pembiayaan campuran atau blended finance.

Namun apa pun namanya, satu hal tidak boleh hilang: uang harus kembali menjadi alat untuk merawat kehidupan, bukan sekadar instrumen proyek. Pembiayaan yang baik bukan hanya menghitung kelayakan ekonomi, tetapi juga membaca kelayakan moral. Sebab di tempat seperti Solor, satu sumur bor bukan hanya infrastruktur. Ia bisa menjadi awal dari kebun yang hidup, dapur yang menyala, anak yang makan lebih baik, dan keluarga yang punya alasan baru untuk bertahan di desanya.

Namun bantuan seperti itu pun harus hati-hati. Ia tidak boleh membuat warga menjadi penonton. Ia tidak boleh datang seperti tangan besar yang merasa paling tahu. Ia harus hadir sebagai penopang, bukan pengganti. Sebab martabat petani justru tumbuh ketika mereka tetap menjadi pelaku utama: merencanakan, bekerja, mengelola, menjaga, dan merasakan hasil dari apa yang mereka bangun bersama.

Kita boleh membantu menghadirkan air, alat, pendampingan, dan akses pasar. Tetapi yang menanam tetap mereka. Yang menjaga tanah tetap mereka. Yang membangun disiplin kelompok tetap mereka. Yang menjadikan harapan itu berakar tetap mereka. Pembangunan yang sehat tidak merampas kepemilikan warga atas masa depannya sendiri.

Maka Solor mengajarkan sesuatu yang dalam: kemiskinan tidak akan selesai hanya dengan memberi bantuan, tetapi juga tidak adil bila kita meminta masyarakat bangkit tanpa membangun sistem yang menopang mereka. Petani tidak boleh dibiarkan sendiri menghadapi tanah keras, air sulit, pasar jauh, dan risiko gagal panen. Anak muda tidak boleh hanya diminta mencintai desa, sementara desa tidak diberi infrastruktur untuk menciptakan masa depan. Perempuan tidak boleh hanya dipuji sebagai penguat keluarga, tetapi tidak diberi akses pada ruang ekonomi yang lebih layak. Bila MBG ingin menjadi arsitektur kehidupan baru, maka ia harus bekerja sampai ke titik-titik itu: tanah, air, alat, pasar, dapur, sekolah, keluarga, dan martabat.

Di tanah kering Solor, saya akhirnya memahami bahwa pembangunan yang benar bukanlah pembangunan yang datang dengan jawaban paling keras, melainkan dengan kesediaan paling dalam untuk mendengar. Mendengar tanah yang kering dan retak. Mendengar petani yang berjalan jauh. Mendengar ibu yang memasak dengan bahan terbatas. Mendengar anak-anak yang tubuhnya sedang menunggu gizi lebih baik. Mendengar doa yang dipanjatkan setelah seminggu bekerja di lahan. Dari sana, MBG menemukan maknanya yang paling manusiawi: bukan sekadar memberi makan hari ini, tetapi membantu sebuah pulau percaya bahwa masa depan masih bisa ditanam.

Mungkin bayangan itu masih jauh. Tetapi setiap perubahan besar selalu bermula dari bayangan yang cukup kuat untuk menggerakkan kaki pertama. Di TTS, kita sudah melihat bagaimana rantai pangan lokal dapat disambungkan dengan dapur sekolah. Di Solor, ujiannya lebih keras: tanah lebih sulit, air lebih mahal, jarak lebih panjang, dan risiko lebih besar.

Tetapi justru karena lebih sulit, keberhasilan kecil di Solor kelak akan berbicara lebih dalam. Ia akan mengatakan bahwa pembangunan tidak hanya layak hadir di tempat yang mudah berhasil, tetapi juga di tempat yang selama ini terlalu sering dianggap terlalu susah untuk diubah.

Maka penutup dari perjalanan ini bukanlah ajakan untuk mengagumi penderitaan. Penderitaan tidak perlu dirayakan. Yang perlu kita rawat adalah keberanian untuk mengubahnya. Tanah Solor memang kering, keras, dan berbatu. Tetapi manusia yang hidup di atasnya tidak kering harapan. Mereka masih berjalan. Masih menanam. Masih berdoa. Masih percaya bahwa hidup bisa dirawat, meski dari tempat yang paling sulit.

Dan mungkin di situlah pilihan moral kita hari ini diletakkan: apakah kita akan terus melihat tanah kering sebagai alasan untuk menjauh, atau justru sebagai panggilan untuk mendekat? Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya diukur dari seberapa megah pusat-pusat pertumbuhannya, tetapi dari seberapa setia ia merawat kehidupan di tepi-tepi yang paling sunyi.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.