Bawah Bantal

oleh -158 Dilihat
Polisi berhasil mengamankan tumpukan uang mata asing dolar Amerika Serikat (AS) dan dolar Singapura menyusul temuan brankas di Cafe de'CLAN di kawasan Cipete, Jakarta Selatan.-Dok. Fajar Ilman/Disway.id
banner 468x60

Ternyata ada jam yang lebih mahal dari jam meerk Richard Mille: Jampidsus.

Anda sudah tahu harganya. Anda juga sudah tahu itulah guyonan warganet atas pengunduran diri jaksa agung muda tindak pidana khusus Sabtu kemarin: Febrie Ardiansyah.

Beberapa jam sebelum mundur, Febrie masih mencoba bertahan. Ia masih berani melakukan konferensi pers dua arah: bertahan sekaligus melawan.

Ia mencoba memainkan opini: penggerebekan kafe dan rumahnya oleh polisi itu sebagai serangan balik atas pengungkapan korupsi di proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Kejaksaan Agung.

Febrie ingin mengesankan bahwa Polri sedang melawan Kejagung. Febrie juga ingin mengesankan Kejagung tidak takut. Pengungkapan korupsi MBG akan diteruskan. Calon tersangkanya bahkan naik dari 41 ke 47. Febrie juga menggunakan strategi mencantolkan diri ke cantolan yang lebih tinggi: presiden. Semua yang ia lakukan itu demi menyukseskan program utama Presiden Prabowo.

Soal ditemukannya uang Rp60 miliar di kafe de’Clan dan Rp476 miliar di rumahnya di Sentul, ia mencoba pakai strategi bertahan. Katanya: Itu bukan uangnya. Uang itu ada yang punya. Kafe itu bukan kafenya. Ada yang punya.

Tidak lama setelah konferensi pers Jampidsus itu, Polri juga mengadakan kegiatan serupa. Telak. Polri menampilkan tumpukan uang yang banyak sekali, termasuk uang dolar. Juga mempertontonkan emas batangan sebanyak 74 kg –dua kilogram lebih banyak dari emas yang ada di puncak tugu Monas Jakarta.

Setelah dua konferensi pers itu wartawan hanya bisa mengintip dan menguping berseliwerannya sinyal-sinyal rahasia tingkat paling tinggi. Itulah Jumat malam yang sangat menegangkan. Sampai larut malam. Kontak-kontak paling rahasia bertalu antara Istana, Mabes TNI, Kemenhan, Kejagung, Mabes Polri. Puncaknya, di tengah malam yang sunyi, mungkin sudah masuk waktu hari Sabtu dini hari sebuah surat ditandatangani. Lalu dikirimkan ke Jaksa Agung. Isinya: surat pengunduran diri Febrie Ardiansyah sebagai jampidsus.

Dengan cara itu maka tidak ada lagi kesan Polri berhadapan dengan Kejaksaan Agung. Yang ada adalah Polri menangani perkara pribadi warga negara bernama Febrie Ardiansyah. Apakah ada nego di balik itu perlu menunggu adanya tembok-tembok bertelinga yang mau bicara.

Polri sudah dua kali ini menyeret pimpinan puncak lembaga tinggi negara yang bertugas di bidang pemberantasan korupsi. Dulunya dua puncak ini seperti tidak mungkin bisa disentuh. Tapi polisi berani menersangkakan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri. Kini akan mengungkap keterlibatan seorang jaksa agung muda bidang pemberantasan korupsi.

Febrie begitu gigih dalam menangani kasus korupsi di PT Timah. Sampai –saat diumumkan– mencapai nilai Rp900 miliar. Juga begitu gigih menangani perkara Pertamina –saat diumumkan sebagai kasus bensin oplosan. Pun di soal penyitaan kebun-kebun sawit yang dianggap menyalahi ketentuan perizinan.

Waktu itu sampai ada desas-desus Febrie sedang cari poin untuk bisa menggantikan Burhanuddin sebagai jaksa agung.

Mungkin saja Febrie benar: bahwa uang sebanyak itu bukanlah uangnya. Setidaknya tidak seluruhnya. Itu ada yang punya. Bisa saja yang punya tidak hanya satu-dua orang. Jangan-jangan mirip dengan yang terjadi tahun lalu. Yakni ketika ditemukan uang senilai lebih Rp 1 triliun di satu kamar rumah seorang petinggi penegak hukum. Di Bogor. Ternyata itu uang milik 12 orang yang dititipkan di situ.

Berarti memang banyak sekali uang yang disimpan dengan cara seperti itu. Aneh. Bisa ketahuan –yang kebetulan ketahuan.

Para pejabat kelihatannya memang mengalami kesulitan mencari cara menyimpan uang. Saking banyaknya. Saking gelap asal-usulnya.

Mau ditaruh di bawah bantal takut leher istrinya patah –saking tingginya. Dititipkan ke orang takut dihabiskan orang itu. Mau ditaruh di luar negeri harus pakai nama orang lain –bisa hilang juga. Apalagi kalau orang yang dipakai namanya itu meninggal dunia.

Banyak yang lantas menggunakannya untuk membeli rumah dan tanah. Kadang rumahnya sampai terlalu banyak sampai lupa melaporkan sebagai rumahnya. Misalnya rumah yang digerebek itu. Febrie pernah mengakui sebagai rumahnya. Tapi KPK mengumumkan rumah tersebut tidak ada dalam daftar kekayaan Febrie yang dilaporkan ke KPK.

Bingung. Saking banyaknya uang. Sampai bingung.

Rupanya kebingungan itulah yang menginspirasi pemilik ide patriot bond atau bond Merah Putih. Uang seperti itu lebih baik dibelikan Patriot Bond milik negara. Agar uang itu bisa diputar untuk pembangunan ekonomi rakyat.

Mereka harus rela hanya diberi bunga 1,5 persen atau dua persen. Yang penting uangnya aman. Asal-usulnya dirahasiakan. Tidak akan diperkarakan sebagai hasil korupsi.

Dalam ide pengampunan korupsi yang saya usulkan 25 tahun lalu tidak seperti itu. Saya tidak ahli rekayasa keuangan sehingga tidak terpikir bentuk bond. Yang saya pikir: uang hasil korupsi itu disita 50 persennya untuk negara. Setelah itu semua orang dianggap bersih. Lalu, siapa yang korupsi dihukum berat.

Yang memberantas korupsi pun tidak takut lagi kena sandera. Tidak ada lagi kasus saling jaga rahasia.

Ide pengampunan korupsi itu gagal. Ide patriot bond kelihatannya juga gagal. Saling sandera akan terus terjadi. Uang di bawah bantal hanya pindah ke rumah persembunyian dengan aman –kecuali hanya satu dua saja yang bernasib jelek: ketahuan.

Minggu, 12 Juli 2026

Oleh: Dahlan Iskan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.