Santa Klara dari Asisi, Teladan Kesederhanaan yang Tak Lekang oleh Waktu

oleh -56 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Redegundis Kesa

Di zaman sekarang, banyak orang menilai kesuksesan dari seberapa banyak harta yang dimiliki, jabatan yang dipegang, atau seberapa terkenal dirinya. Di tengah suasana seperti itu, kisah Santa Klara dari Assisi terasa berbeda dan justru menarik perhatian. Ia lahir pada 16 Juli 1194 di Assisi, Italia, dengan nama Chiara Offreduccio. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang kaya raya. Namun, ia memilih meninggalkan semua kenyamanan itu untuk hidup miskin demi mengikuti panggilan Tuhan. Banyak orang pada zamannya menganggap keputusannya aneh dan tidak masuk akal. Tetapi lebih dari delapan ratus tahun kemudian, keberaniannya justru semakin relevan dan patut kita renungkan bersama.

Ketika beranjak dewasa, Klara terpesona oleh teladan hidup Santo Fransiskus dari Asisi. Fransiskus, yang dulunya juga anak orang kaya, memilih meninggalkan segalanya untuk hidup miskin dan melayani Tuhan. Khotbah-khotbahnya tentang pertobatan dan kesederhanaan menyentuh hati Klara dalam-dalam. Ia kemudian menolak tawaran dalam dunia sosial, karena ingin mempersembahkan hidupnya sepenuhnya untuk Tuhan. Puncaknya, pada malam Minggu Palma tahun 1212, Klara diam-diam melarikan diri dari rumah keluarganya menuju Kapel Porziuncula milik ordo Fransiskan. Di sana, ia menerima jubah biara dan rambutnya dipotong sebagai tanda penyerahan diri yang total. Langkah berani ini menjadi awal berdirinya Ordo Santa Klara atau Klaris Miskin, komunitas biarawati yang hidup dalam kemiskinan penuh. Klara wafat pada 11 Agustus 1253 dan kemudian digelari santa oleh Gereja.

Salah satu kisah paling terkenal dari hidup Klara adalah saat ia mengusir pasukan musuh yang menyerang Biara San Damiano. Klara sedang sakit parah, tetapi ia meminta para suster membopongnya ke pintu biara sambil membawa Monstrans berisi Sakramen Mahakudus. Ia berdoa memohon perlindungan Tuhan, dan seketika para prajurit musuh dicekam ketakutan lalu melarikan diri. Kisah ini mengajarkan kita bahwa kekuatan sejati tidak selalu terletak pada kekerasan atau senjata. Di dunia yang sering menyelesaikan masalah dengan paksaan, sikap Klara mengingatkan bahwa ketenangan dan kepercayaan kepada Tuhan bisa menjadi perlindungan yang jauh lebih kuat.

Ada pula kisah ketika Kanak-Kanak Yesus datang mengunjunginya setelah ia menerima Komuni. Semua ini menunjukkan bahwa hubungan Klara dengan Tuhan sangat dekat dan nyata. Bagi kita yang sering merasa kesepian meski dikelilingi banyak orang, kisah ini mengingatkan bahwa berdoa dalam kesunyian justru bisa membuat kita merasa paling dekat dan dicintai.

Hal menarik lainnya adalah penobatan Santa Klara sebagai pelindung televisi pada tahun 1958 oleh Paus Pius XII. Pada suatu malam Natal, Klara sedang sakit dan tidak bisa menghadiri Misa di gereja. Tuhan kemudian memberinya penglihatan sehingga ia bisa melihat dan mendengar seluruh perayaan Misa dari tempat tidurnya secara langsung, mirip siaran televisi modern. Penobatan ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita untuk menggunakan teknologi dengan bijak. Layar gadget dan televisi seharusnya membantu kita mendekatkan diri pada hal-hal baik, bukan malah membuat kita kecanduan hiburan kosong atau melupakan orang-orang di sekitar kita. Di zaman kita yang mengukur kesuksesan dari seberapa banyak barang yang dimiliki, pilihan Klara terasa asing namun menyegarkan. Ia memilih miskin bukan untuk menderita, tetapi supaya hatinya bebas dan sepenuhnya milik Tuhan. Kita mungkin tidak perlu meniru persis gaya hidupnya yang keras, tetapi kita bisa belajar untuk hidup lebih sederhana dan tidak terikat pada harta.

Di tengah budaya konsumerisme yang terus mendorong kita untuk membeli, memiliki, dan menumpuk, Santa Klara berdiri sebagai pengingat bahwa ada jalan lain. Jalan kesederhanaan. Jalan keheningan. Jalan penyerahan. Setiap hari kita dibombardir oleh iklan yang mengatakan bahwa kita belum cukup bahagia kalau belum membeli ini dan itu. Media sosial membuat kita terus membandingkan diri dengan orang lain, merasa kurang, dan akhirnya mengejar hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Kita bekerja lebih keras, tidur lebih sedikit, dan punya waktu lebih sedikit untuk keluarga, untuk diri sendiri, bahkan untuk Tuhan, semua demi mengejar sesuatu yang tidak pernah membuat kita benar-benar puas. Santa Klara, dengan memilih tidak memiliki apa-apa, justru menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak terletak pada apa yang kita genggam, melainkan pada apa yang kita lepaskan.

Hari rayanya yang diperingati setiap 11 Agustus seharusnya bukan sekadar ritual liturgis yang kita lewati begitu saja. Hari itu seharusnya menjadi undangan untuk berhenti sejenak dari kesibukan yang tidak ada habisnya. Undangan untuk meletakkan ponsel, mematikan televisi, dan duduk dalam keheningan. Undangan untuk bertanya kepada diri sendiri dengan jujur, apakah kita sedang hidup sesuai panggilan terdalam kita, atau sekadar mengikuti arus yang ditentukan oleh dunia. Apakah kita bangun setiap pagi dengan tujuan yang jelas dan hati yang damai, atau hanya menjalankan rutinitas kosong yang tidak membawa kita ke mana-mana. Apakah kita menghabiskan waktu untuk hal-hal yang benar-benar bermakna, atau hanya mengisi hari dengan distraksi yang membuat kita lupa pada kekosongan di dalam hati.

Santa Klara tidak meminta kita semua untuk meninggalkan rumah, menjual harta, dan masuk biara. Tidak. Tetapi ia mengajak kita untuk bertanya, apakah kita benar-benar bebas, atau justru terbelenggu oleh keinginan kita sendiri. Apakah kita bisa merasa cukup dengan apa yang sudah ada, atau selalu merasa kurang. Apakah kita mampu duduk diam tanpa melakukan apa-apa, tanpa membuka layar, tanpa mencari hiburan, dan tetap merasa damai. Jika jawabannya tidak, mungkin sudah saatnya kita belajar sedikit dari Klara. Belajar untuk memperlambat langkah. Belajar untuk bersyukur atas yang sedikit. Belajar untuk menemukan Tuhan bukan dalam keramaian dan pencapaian, melainkan dalam keheningan hati yang sederhana.

Pada akhirnya, Santa Klara mengajarkan kita bahwa hidup yang kaya bukanlah hidup yang penuh barang, melainkan hidup yang penuh makna. Bahwa keheningan bukan berarti kosong, melainkan ruang di mana kita bisa mendengar suara Tuhan dan suara hati kita sendiri. Bahwa penyerahan bukanlah kelemahan, melainkan keberanian tertinggi untuk percaya bahwa kita tidak perlu mengendalikan segalanya sendirian. Di dunia yang terus berteriak agar kita menjadi lebih, punya lebih, dan tampil lebih, Santa Klara berbisik pelan bahwa kita sudah cukup. Bahwa Tuhan mencintai kita bukan karena apa yang kita miliki atau capai, tetapi karena kita adalah kita. Dan mungkin, justru dalam kesederhanaan itulah kita akan menemukan kedamaian yang selama ini kita cari di tempat-tempat yang salah.

Akhirnya, Santa Klara dari Assisi bukan tokoh masa lalu yang usang. Pesannya justru semakin paling dibutuhkan. Ia mengajarkan bahwa iman lebih kuat dari kekerasan, bahwa teknologi harus digunakan dengan bijak, dan bahwa kesederhanaan membawa kebebasan hati. Di dunia yang semakin bising dan mengagungkan harta, warisan Klara adalah undangan untuk kembali pada hal-hal yang benar-benar penting. Ia mengajak kita menemukan kedamaian dalam kesederhanaan dan kebahagiaan dalam hidup yang berpusat pada Tuhan. Semoga kita bisa meneladani semangatnya, bukan dengan meniru persis cara hidupnya, tetapi dengan menangkap inti pesannya bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang sederhana, beriman, dan penuh kasih.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.