JIKA kita membicarakan pariwisata Manggarai Barat, tentu saja akan selalu menjadi cerita biru laut, yakni Komodo, Padar, dan Pink Beach. Tetapi, dibalik pesona modern yang kian terbentuk di Labuan Bajo, ada desa lain di atas kaki gunung yang semakin menarik perhatian dunia. Desa Wisata Wae Lolos atau yang dikenal juga sebagai “Negeri Seribu Air Terjun” bukan lagi menjadi pilihan lain, melainkan lambang dari kebangkitan pariwisata komunitas di Flores.
Tidak ada yang istimewa tentang Wae Lolos ini hanya sekedar di alamnya. Tentu saja, renang di Cunca Ri’i atau yang disebut juga “Kolam di Atas Awan” merupakan pengalaman unik yang tak dapat disaingi. Bayangkan sendiri, merasakan sensasi berenang dalam sebuah kolam alam jernih yang berada di pinggir tebing ketinggian 70 meter dengan kabut yang melayang di daerah sekeliling yang hijau tersebut.
Ini adalah kemewahan yang bukan hanya dapat dibeli dengan uang, tetapi juga dengan menapakkan kaki masuk ke hutan. Namun, hal paling menarik dari Wae Lolos ini terletak pada “nyawa” yang ia miliki. Karena di mana saja tempat wisata telah diatur kuotanya, maka warga Wae Lolos mempersilakan siapa saja untuk datang tanpa terkecuali. Para wisatawan tidak lagi merasa seperti “penonton”, tetapi menjadi “tamu”
Masalah kedepannya terletak pada bagaimana menyeimbangkan hal ini. Turis mancanegara yang semakin melonjak akhir-akhir ini mulai dari wisatawan Eropa hingga Asia merupakan sebuah pisau bermata dua. Kami tidak ingin Wae Lolos kehilangan kemurniannya hanya karena mempertahankan hitungan angka.
Keseriusan pemerintah setempat dan tanggapan cepat dari manajemen desa dalam menjaga protokol keamanan dan menjaga lingkungan tetap lestari sangatlah penting.Wae Lolos telah membuktikan bahwa Manggarai Barat juga memiliki “rahasia” selain pantai. Wisata ini telah membuka mata kami bahwa kita perlu sedikit berpaling ke sisi gunung, mendengar suara gemercik air terjun, dan duduk bersama masyarakat sekitar di bawah atap tradisional. Labuan Bajo adalah pintunya dan Wae Lolos adalah jiwanya.
Keistimewaan dari Wae Lolos tidak saja dikarenakan pemandangan yang indah dan alaminya. Memang, berenang di Cunca Ri’i atau Kolam di Atas Awan pasti akan memberikan sensasi keagungan yang sangat jarang didapatkan. Mau tak mau, Anda akan merasa terpesona berendang di sebuah kolam alami yang jernih berada di pinggir tebing setinggi 70 meter dengan kabut yang menyerap pemandangan hijau di lembah di bawahnya.
Namun, kolam alami tersebut bukan sekadar genangan air sembarangan. Tidak hanya memiliki pesona, namun juga memiliki nilai geologi yang tinggi. Air yang jernih dan berwarna seputih kristal mengalir langsung dari mata air pegunungan Flores yang bersih. Kejernihan air ini begitu segar dan menyegarkan tubuh. Pada saat-saat tertentu, misalnya pagi menjelang terbit sang fajar atau menjelang malam, pemandangan yang terlihat di sana akan berubah menjadi lebih memukau.
Ada kabut tebal yang timbul dari dasar lembah, naik bertahap untuk mencengkeram tebing batu, serta meresahkan hutan tropis di bawahnya. Berenang dalam kolam tersebut, seolah batas antara alam nyata dan langit pun hilang. Anda bukan lagi berenang, tapi lupa mengapung di tengah-tengah lautan kabut putih. Hal inilah yang merupakan definisi kemewahan spiritual yang tak dapat dibeli secara materi, melainkan dibayar dengan tenaga yang dikeluarkan selama 20 menit.
Namun, keindahan visual Cunca
Saat kuota kunjungan ke Taman Nasional Komodo pun dikurangi secara drastis karena pertimbangan konservasi maupun kemampuan daya dukung lingkungan, Wae Lolos muncul sebagai jawaban bagi wisatawan yang mencari ruang kebebasan tersebut dengan nilai-nilai yang tinggi.
Dibandingkan dengan model wisata lainnya yang menganggap para wisatawan sebagai objek saja yang hanya hadir, fotografi, dan pergi, di sini Anda diterima secara baik dan diterima menjadi bagian dari keluarga besar pada saat masuk ke dalam Kampung Adat Rangat. Sambutan hangat yang diberikan oleh masyarakat setempat merupakan bukti kesungguhan mereka dalam menjalankan adat istiadat yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
Di bawah bangunan rumah adat yang berharga, Anda dapat merasakan aroma kopi Manggarai yang baru saja disangrai di atas tungku kayu, atau bahkan melihat bagaimana tangan-tangan terampil orang tua orang yang sedang menganyam satu demi satu Topi Re’a. Di tempat lainnya, orang tua perempuan juga beraktivitas dengan cara tenun kain songke dengan motif yang berarti dalam filosofi masyarakatnya.
Tantangan untuk surga tersembunyi ini di masa yang akan datang adalah bagaimana bisa mempertahankan keseimbangan yang sangat tipis ini. Angka turis mancanegara yang muncul beberapa waktu belakangan ini, mulai dari mereka dari Eropa hingga Asia, merupakan pedang bermata dua yang harus dipertimbangkan dengan bijak. Meskipun popularitas ini juga berarti bahwa angin segar ekonomi telah datang bagi warga lokal, namun potensi komersialisasi yang dapat menghancurkan adat dan hutan selalu ada di pojok pikiran.
Tentu saja kita tidak menginginkan Wae Lolos kehilangan keasriannya, atau Cunca Ri’i mengalami pencemaran, hanya karena ingin mendapatkan angka dan statistik yang bagus dalam kunjungan wisata. Peran pemerintah daerah yang berkomitmen untuk memberikan dukungan infrastruktur yang mengedepankan prinsip ramah lingkungan, bersama dengan peran aktif Badan Pengelola Desa serta Pokdarwis, untuk tetap mematuhi protokol keamanan, pengelolaan sampah, dan pembatasan daya tampung harian, menjadi kunci utama yang tidak boleh ditawar.
Wae Lolos adalah bukti bahwa Manggarai Barat punya harta karun selain laut!
Oleh: Maria Noyamita Astria Wati
Penulis adalah Mahasiswa Prodi Bahasa Inggris UNWIRA Kupang







