Bingo

oleh -431 Dilihat
banner 468x60

Bingo, nama yang umum untuk seekor anjing. Orang-orang sering menggunakan nama itu untuk anjing. Tiap nama memiliki arti. Terkadang arti muncul dari kecenderungan umum yang disepakati bersama. Konsensus.
Begitu juga dengan Bingo, nama anjingku. Nama itu muncul begitu saja dari putri kecilku. Bingo, anjing betina itu datang ke rumah kami karena melarikan diri dari pengusiran si Bos, anjing jantan tetangga.

Bingo awalnya ingin dititipkan oleh kerabat tetangga sementara saat akan bepergian. Namun si Bos merasa terancam teritorialnya, lalu mengusir Bingo. Kami ingat persis, Bingo muncul di rumah kami dengan menjulurkan lidah, duduk dan menatap kami seolah menatap induknya kala haus.

Di saat itu, muncul naluri kami untuk melindungi binatang. Itu membuat kami merasa berperikebinatangan. Selanjutnya menyisakan tanda tanya, ini anjing siapa? Itu untuk dikembalikan. Ternyata si tuan sudah bepergian lama. Tetangga pun tak bisa berbuat apa-apa untuk mengambil, karena si Bos tidak setuju.

Terkadang, naluri bertahan hidup suatu pihak, ternyata mengancam pihak lainnya. Bahkan di kasus tertentu, berakhir dengan sikap tega terhadap pihak lain. Mengorbankan pihak lain untuk tidak mengorbankan diri sendiri. Ironi atau paradoks? Entahlah. Mungkin itu pertimbangan tetangga sehingga membiarkan Bingo tetap di rumah kami satu dua hari, lalu ia kami panggil Bingo.

Dua tiga bulan berlalu, kerabat tetangga yaitu tuan Bingo, datang ke rumah kami. Bingo seakan tidak peduli, bahkan menggonggonginya. Mungkin Bingo sudah lupa. Sebab, terkadang waktu bisa menggerogoti memori romantis di masa lalu, atau malah mengukuhkan rasa sakit yang berujung penyangkalan.

Si Tuan pasrah. Mau ambil Bingo kembali, Bingo kini tidak lagi mengenalnya. Mau lepas, tentu siapa pun pasti merasa tidak rela melepas hewannya begitu saja. Tapi hidup harus terus berjalan. Tanpa keputusan, dia pamit.

Seiring waktu, orang-orang mengetahui, Bingo adalah anjing peliharaan kami. Terkadang kami membantah dan menjelaskan sejarah Bingo. Di lain waktu, kami memilih diam saja, demi menghemat tenaga berbicara, karena waktu yang sama harus diprioritaskan untuk melakukan hal lain.

Si putri kecil kami akrab dengan Bingo. Menjadikannya anjing penjaga, termasuk tiap hari ke sekolah. Di sekolah, Bingo dengan tenang duduk di bawah kursi putri kecil kami. Begitu hingga mereka pulang sekolah bersama.

Mulai dari kelas dua SD, lalu naik ke kelas berikut. Saat putri kami naik kelas, Bingo pasti tidak naik kelas. Bingo masih mengira putri kami berada di kelas yang sama. Hingga akhirnya Bingo sadar dan bisa menyesuaikan ke kelas yang baru.

Tahun berlalu, Bingo kawin dengan si Bos dan anjing jantan lain, lalu beranak. Anak-anaknya yang bertahan hidup hingga dewasa, ada juga yang mati saat remaja terkena wabah. Jika ada anak anjing yang mati, kami kubur di lahan kosong depan rumah.

Kematian anak anjing yang pertama kali menimbulkan duka bagi putri kecil kami. Di hari yang sama dua anak anjing mati. Kami sudah mencoba dengan memberi anak anjing susu Bear brand tapi tidak tertolong. Hari berikutnya dua sisa anak anjing mati. Putri kecil kami menangis sesenggukan. Itu hampir saja membuat kami kedua orang tuanya ikut menangis.

Pertimbangan jika semua menangis, siapa yang menghibur? Lalu kami berupaya tegar dan menghibur putri kecil kami. “Toh… nanti juga Bingo akan beranak lagi, dan kamu akan memiliki teman kecil baru.” Bukankah anak anjing selalu menggemaskan untuk dibelai?

Putri kecil kami sedikit terhibur, lama kemudian dia berhenti menangis. Bingo beranak lagi, mati lagi, Putri kami menangis lagi, tapi tidak semenangis dengan yang sudah-sudah. Mungkin kini hatinya sudah lebih kuat menghadapi kehilangan, menghadapi kehidupan fisik yang ternyata rapuh dan sementara. Mungkin dia sudah menyadari bahwa dunia dan kenikmatannya tak bisa digenggam lama untuk menstimulasi endorfin atau dopamin.

Begitulah kali ini, saat Bingo terbaring lemah karena sakit. Aku, sebagai ayah, tak kuat menahan air mata saat mengusap kepala Bingo. Saat aku mengangkat kepala dan melihat wajah putriku, aku berupaya tidak terlihat menitikkan air mata. Putriku kini kelihatan lebih tegar, padahal ini adalah hewan kesayangannya sejak lama.

Sambil berjongkok dan mengelus kepala Bingo, aku memanggil namanya, “Bingo,” tapi dia tidak bangkit. Dia lemah. Mungkin Bingo terlanjur makan ayam mati yang terkena wabah. Itu diketahui setelah beberapa hari kemudian si tuan ayam menyadari ayamnya berkurang dan sudah mulai tercium bau bangkai.

Sesekali Bingo masih bisa bangkit lalu berjalan sempoyongan. Naluri hewaninya masih menandai kami sebagai tuan. Sedangkan kami menandainya seperti keluarga yang selalu ada dalam suka-duka kami. Bingo mengambil peran sebagai penjaga rumah, penjaga putri kami. Dia selalu menyambut kami ketika pulang ke rumah, mencium dan menjilati kaki kami.

Kami merasa Bingo akan mengakhiri sejarah kehidupannya. Meski sedikit terlambat, kami berupaya menolongnya. Kami menanyai tetangga perihal penanganan anjing sakit. Kami mendapat kontak petugas penanganan hewan. Kami mengontak, Puji Tuhan petugas bersedia datang. Tiga suntikan Bingo terima.

Putriku dan aku berupaya memasukkan makanan ke dalam mulut Bingo langsung ke dalam kerongkongan. Bingo berontak. Makanan tak jadi masuk. Sudah tiga hari ini dia belum makan atau minum. Napasnya terengah-engah. Hasil suntikan belum terlihat.
Aku menyiapkan satu baju terbaikku untuk membungkus Bingo jika dia mati dan akan dikubur.

Sebab bagaimanapun, salah satu sosok yang mengingatkan kami, bahwa di dunia ini keberadaan kami masih dirindukan dan masih berarti, adalah Bingo. Demikian pula, Bingo sungguh berarti bagi kami. Terima kasih, Bingo.

Sekian.

Catatan: Diangkat dari kisah nyata penulis. Ketika catatan ini dibuat pada 27 Maret 2026 siang, Bingo telah tiada. Ia mati meninggalkan kenangan manis. Saya memandikannya hingga bersih, mengeringkannya, membungkus Bingo dengan baju kerja kesukaan saya, lalu menguburnya di depan rumah. Kami sekeluarga menangisinya seperti kerabat yang dipanggil Tuhan. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah Nama Tuhan.

Terima kasih dewan redaksi radarntt.net yang telah memuat kisah ini.

Oleh: Krismanto Atamou

Penulis adalah Guru di Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.