Oleh: Theodorus Charel Baz
Di tengah gempuran era digital dan derasnya arus modernisasi, generasi Z tampil sebagai generasi yang unggul dalam hal kecerdasan intelektual, namun secara bersamaan mengalami tantangan serius dalam pembentukan karakter. Kemajuan teknologi yang luar biasa telah menyediakan berbagai fasilitas belajar yang memanjakan, tetapi belum tentu menghasilkan pribadi yang matang secara emosional maupun spiritual. Inilah yang menjadi paradoks zaman kini: kecanggihan meningkat, namun kepekaan sosial menurun. Fenomena ini kian terasa dalam lingkungan pendidikan religius, khususnya di lembaga pendidikan calon imam, di mana nilai-nilai seperti persaudaraan, solidaritas, dan hidup bersama semestinya menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pembentukan pribadi.
Salah satu dampak paling nyata dari pengaruh teknologi yang tak terkontrol adalah munculnya sikap apatis, yakni ketidakpedulian terhadap lingkungan sekitar, terutama terhadap sesama. Apatisme membuat seseorang enggan terlibat dalam kehidupan komunitas, lebih suka menyendiri, dan menutup diri dalam dunia virtual yang diciptakannya sendiri. Dalam konteks komunitas frater, sikap ini bukan hanya mengikis semangat persaudaraan, tetapi juga merusak fondasi kehidupan bersama yang dibangun di atas nilai cinta, pengorbanan, dan pelayanan. Ketika frater mulai menciptakan aturan sendiri demi kenyamanan pribadi, dan menghindari tanggung jawab kolektif, maka komunitas tak lagi menjadi ruang formasi, melainkan sekadar tempat tinggal bersama yang penuh keterasingan.
Berbagai penelitian telah menunjukkan bagaimana teknologi dapat memengaruhi pembentukan karakter. Penelitian dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang mengungkap bahwa tantangan utama pendidikan karakter di era digital terletak pada menurunnya interaksi sosial langsung, kecanduan media sosial, serta lemahnya literasi etika digital. Sementara itu, studi dari Universitas Negeri Medan mencatat bahwa penggunaan teknologi yang tidak bijak dapat menyebabkan menurunnya tanggung jawab, etika, dan kepedulian sosial. Dalam lingkungan komunitas religius, situasi ini menjadi lebih kompleks karena kehidupan bersama menuntut keterlibatan aktif, bukan sekadar koeksistensi pasif.
Apatisme tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh dari budaya individualisme, kenyamanan teknologi, serta kurangnya intervensi pendidikan karakter yang konsisten. Frater yang terlalu tenggelam dalam dunia digital seringkali mengalami keterputusan dengan realitas komunitasnya. Mereka merasa lebih “terhubung” dengan dunia maya ketimbang dengan saudara-saudara sekomunitas. Di sisi lain, bila institusi pendidikan imam terlalu fokus pada pembentukan intelektual dan liturgis tanpa menyeimbangkan pendidikan nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan, maka potensi terjadinya isolasi sosial dalam komunitas akan semakin besar.
Konsekuensi dari apatisme ini tidak bisa dianggap sepele. Persaudaraan yang retak akan menyebabkan komunitas kehilangan semangat hidup bersama, saling membantu, dan saling menguatkan. Hubungan antarpribadi menjadi dingin, pelayanan menjadi mekanis, dan nilai-nilai seperti empati serta solidaritas kian menghilang. Bahkan lebih jauh lagi, ketika rasa persaudaraan hilang, maka panggilan hidup religius pun berisiko kehilangan makna terdalamnya yakni menjadi saksi kasih Allah yang hidup dalam persekutuan.
Namun, bukan berarti situasi ini tidak bisa diperbaiki. Justru kondisi ini menjadi panggilan untuk kembali menata ulang pendekatan pendidikan dalam komunitas, terutama dengan menekankan pentingnya pendidikan karakter. Institusi pendidikan imam perlu memasukkan pendidikan karakter sebagai bagian dari kurikulum formal dan terstruktur. Kelas-kelas khusus tentang empati, tanggung jawab sosial, etika penggunaan teknologi, serta nilai-nilai hidup bersama perlu dibuat secara berkala, bukan hanya sebagai sisipan, tetapi sebagai program utama formasi.
Selain itu, perlu juga dibuat kebijakan yang mengatur secara bijak penggunaan teknologi di dalam komunitas. Misalnya, membatasi penggunaan gadget pada jam-jam tertentu, atau menyediakan ruang perjumpaan bebas teknologi, agar komunikasi antarpersonal bisa dipulihkan. Kehadiran mentor atau senior yang menjadi teladan dalam hal keterlibatan komunitas sangat penting. Mereka perlu hadir bukan hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai panutan yang menghidupi nilai-nilai persaudaraan secara nyata.
Di sisi lain, kegiatan-kegiatan yang mendukung kehidupan komunitas juga perlu diperkuat. Kegiatan rekreasi bersama, pelayanan sosial, diskusi kelompok, serta retret komunitas bisa menjadi sarana untuk membangun kembali rasa saling percaya dan keterikatan emosional antarsesama. Selain itu, evaluasi berkala tentang kehidupan komunitas perlu dilakukan, bukan hanya menilai aspek akademik, tetapi juga sikap interpersonal dan kontribusi dalam kehidupan bersama.
Apatisme yang menggerus nilai persaudaraan adalah tantangan nyata yang harus dihadapi dengan keseriusan. Kita tidak bisa berharap perubahan besar terjadi hanya dengan nasihat moral atau pengharapan ideal. Diperlukan upaya konkret, sistematis, dan berkelanjutan untuk menanamkan kembali nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan dalam kehidupan bersama. Teknologi memang tidak bisa dihindari, tetapi bisa diarahkan agar menjadi alat pembangun, bukan perusak hubungan.
Persaudaraan adalah inti dari hidup religius. Tanpa itu, komunitas kehilangan jiwa dan arah. Oleh karena itu, setiap frater, pendidik, dan institusi perlu bersatu dalam satu komitmen: melawan apatisme, memulihkan komunikasi, dan menghidupkan kembali semangat kebersamaan. Dengan demikian, komunitas bukan hanya menjadi tempat tinggal bersama, tetapi menjadi rumah iman yang hangat di mana kasih, pengorbanan, dan pengampunan menjadi napas kehidupan.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang







