Lorensius

oleh -508 Dilihat
banner 468x60

Matahari belum begitu tinggi ketika aku mematikan mesin motor bututku di pinggir kebun. Daun-daun jagung melambai pelan tersapu angin pagi. Embun dari daun jagung membasahi kemeja batik lusuh yang kukenakan sejak subuh tadi—pakaian yang sama yang akan kupakai ke sekolah nanti. Yosefina sudah lebih dulu sampai, terlihat membongkar rumput di sela-sela batang jagung dengan cangkul kecilnya.

Aku berdiri sebentar, memandang kebun ini. Dua hektar tanah berkat kerja keras kami selama dua puluh tahun. Bukan luas, tapi cukup untuk menopang hidup. Jagung, singkong, beberapa pohon pisang di pinggir, dan kandang-kandang sederhana untuk babi, sapi, dan kambing di sudut selatan.

Sambil melepas sepatu, aku berjalan menyusuri pematang. Tanah basah terasa dingin di telapak kaki. Aneh, pikirku. Tiga puluh tahun mengajar, tapi justru tanah inilah yang lebih banyak memberi makan keluargaku.


Di ruang guru nanti, aku akan kembali melihat mereka. Tiga tipe orang yang setiap hari kusaksikan.

Ada Markus, guru muda yang selalu sibuk mengambil gambar setiap kali membantu siswa. Fotonya dipajang di media sosial dengan caption-caption heroik. “Bersama anak-anak di ujung negeri,” tulisnya. Dua hari lalu ia curhat padaku soal lelahnya mengajar—padahal baru dua tahun ia di sini.

Lalu ada Paulus, yang setiap kesempatan selalu bicara soal pelatihan di hotel-hotel. Ia bangga pernah ke Surabaya, Jakarta, dan Yogyakarta. Ia sering memberikan tas-tas hasil pelatihan di Jawa kepada rekan honorer. Tas ransel mahalnya penuh pin dari berbagai kegiatan. Katanya, itu semua untuk menambah wawasan. Tapi sejak tiga tahun lalu, murid-muridnya di kelas masih dengan modul yang sama, tugas yang sama, nilai yang sama.

Sisilia berbeda. Ia diam, mengajar, pulang. Tak pernah terlibat banyak, tak pernah ambil pusing dengan kegiatan sekolah di luar jam wajib. “Yang penting kewajiban selesai,” katanya suatu kali.

Dan Saka. Rekan, berstatus keponakan, beda lima belas tahun. Bulan lalu ia diangkat jadi PPPK. Ijazah S1-nya menjadi tiket. Ia datang ke rumah, wajahnya tak sepenuhnya bahagia saat memberitahuku.

“Pak Loren, saya… rasanya campur aduk,” katanya waktu itu di beranda rumah. “Kalau boleh jujur, Bapak yang lebih pantas. Bapak yang sejak sekolah ini masih berdinding bambu dan berlantai tanah.”

Aku hanya tertawa. “Sudah, Nak. Rezeki masing-masing.”


Hari ini, di ruang guru yang sempit, Saka duduk di depanku. Ia menggeser kursinya mendekat.

“Pak, saya mau tanya serius.”

“Tanya saja.”

“Ijazah Bapak D3 PGSD PJOK, ya?”

Aku mengangguk, meski sudah tahu arah pembicaraannya.

“Saya sudah cari informasi ke dinas, Pak. Untuk PPPK, syaratnya S1. Tidak ada dispensasi untuk guru lama. Bahkan yang akan pensiun sekalipun.”

Aku diam. Jari-jariku meraba ujung meja yang mulai terkelupas catnya.

“Bapak tidak pernah berpikir untuk melanjutkan kuliah?”

Pertanyaan itu menggantung. Aku menatapnya, menghembuskan napas, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela. Lapangan sekolah yang dulu gersang kini sudah hijau berkat program penghijauan yang kugagas sepuluh tahun lalu. Di pojok, beberapa siswa kelas 6 bermain bola.

“Pernah,” jawabku pelan. “Dulu, tahun 2015, ada tawaran beasiswa dari pemerintah kabupaten. Tapi saat itu istri saya sedang hamil anak ketiga. Sakitnya lama. Biaya berobat habis kemana-mana.”

Saka menunduk.

“Sebelumnya,” lanjutku, “waktu ambil D3 dulu, itu pun karena terpaksa. Orang tua tidak mampu membiayaiku sampai S1. Ada empat adik yang harus sekolah. Aku anak pertama. Harus cepat kerja.”

Ruangan terasa sunyi. Suara bel masuk belum berbunyi.

“Tapi Bapak tidak pernah menyesal?”

Aku tersenyum. “Menyesal?” kutarik napas panjang. “Saka, coba lihat Hendrikus. Anak petani kopi dari desa sebelah, dulu paling nakal di kelasku. Sekarang jadi camat di ibu kota kabupaten. Atau Maria, anak penjaga warung, sekarang perawat di rumah sakit provinsi. Atau Yohanes, yang dulu harus jalan kaki sepuluh kilometer ke sekolah, sekarang jadi kapten kapal.”

Saka mengangkat wajah.

“Itulah simpanan saya, Nak. Mereka adalah bukti bahwa pengabdian saya tidak sia-sia. Mungkin Tuhan punya cara sendiri menghitung jerih payah seseorang.”


Bel berbunyi. Aku bangun, merapikan kemeja.

Sebelum keluar, Saka berkata pelan, “Pak, kalau Bapak mau, saya bisa bantu cari informasi beasiswa lagi. Mungkin ada jalur lain.”

Aku menepuk pundaknya. “Terima kasih, Nak. Tapi dua tahun lagi aku pensiun. Biarlah. Mungkin ini jalanku.”

Sore itu, sepulang sekolah, aku kembali ke kebun. Yosefina sudah di sana, sedang memberi makan babi-babi. Aku duduk di bawah pohon mangga di pinggir ladang, memandangnya bekerja. Istriku itu—hanya lulusan SMA, tapi sejak pagi buta sudah ke kebun, lalu ke kandang, lalu ke dapur, lalu ke kebun lagi. Tak pernah mengeluh soal gaji honorerku yang kadang telat tiga bulan. Tak pernah protes ketika tabungan kami terkuras untuk membeli seragam baru siswa miskin yang kusponsori diam-diam.

Ia menoleh, melihatku duduk. Lalu berjalan mendekat, membawa dua batang jagung rebus.

“Makan,” katanya singkat, menyodorkan jagung.

Kupandangi wajahnya yang mulai keriput. Rambutnya yang mulai memutih di pelipis. Tangannya yang kasar karena cangkul dan sabit.

“Istriku,” panggilku tiba-tiba.

Ia menatapku heran. “Kenapa?”

“Kau tidak pernah minta apa-apa padaku?”

Ia tertawa kecil. “Minta apa? Kamu sudah kasih semua.”

“Aku hanya guru honorer. Gaji kecil. Tidak punya pensiun.”

Yosefina duduk di sampingku. Menggigit jagungnya, mengunyah pelan. Lalu berkata, “Dengar, Loren. Aku tidak kawin dengan gajimu. Aku kawin dengan kamu. Dan aku lihat setiap hari, kamu pergi pagi, pulang sore, kadang lembur tanpa dibayar. Kamu pikir aku tidak tahu kamu sering belikan sepatu untuk anak yang orang tuanya tidak mampu? Atau kamu bayarkan uang sekolah mereka dari gajimu sendiri?”

Aku tertegun.

“Lalu?” tanyaku lirih.

“Lalu, aku bersyukur punya suami seperti kamu. Biarlah orang lain kejar jabatan, kejar sertifikasi, kejar pelatihan ke hotel-hotel mewah. Kamu di sini, mengajar, tidak minta puji. Itu lebih dari cukup bagiku.”

Matahari sore menyinari wajahnya. Aneh, di matanya yang sayu itu aku melihat kehangatan yang tidak bisa diukur dengan pangkat atau status.

“Aku hanya sedih,” sambungnya, “kalau kamu sendiri yang tidak melihat nilaimu.”

Aku diam lama. Menatap jagung di tanganku. Lalu ke ladang yang terbentang. Lalu ke langit yang mulai jingga.

Dan tiba-tiba, sesuatu mengendur di dadaku. Beban yang selama ini kupikul tanpa kusadari. Pertanyaan-pertanyaan tentang nasib, tentang masa depan, tentang keadilan—semuanya menguap pelan, digantikan oleh kelegaan yang hangat.

Ya, mungkin aku tidak akan pernah menjadi PNS. Mungkin aku pensiun tanpa uang bulanan dari negara. Mungkin nama Lorensius tidak akan tercatat dalam sejarah pendidikan sebagai guru teladan.

Tapi di kebun ini, di samping istri yang makan jagung dengan lahap, aku menemukan jawabannya.


Keesokan harinya, di ruang guru, aku menulis sesuatu di buku catatan kecilku. Saka yang kebetulan lewat membaca tulisan itu.

Oleh pengabdian saya sebagai guru, anak-anak murid saya banyak yang sudah bernasib baik. Jika sampai saat ini nasib saya belum sebaik murid-murid saya, saya berdoa kiranya nanti nasib anak-anak kandung saya yang akan jauh lebih baik dari saya. Tuhan Maha Adil, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang.

Ia membaca dalam hati, lalu menatapku.

“Amin, Pak,” bisiknya.

Kututup buku itu. “Saka, kamu tahu? Lagian, terkadang kekayaan yang sebenarnya bukan bagi yang memiliki lebih banyak, tapi yang tidak berharap lebih banyak dan mensyukurinya.”

Saka tersenyum. Lalu bel masuk berbunyi.

Aku berjalan menuju kelas 5, tempat 28 anak menungguku dengan buku-buku mereka. Di ambang pintu, aku berhenti sejenak. Memandangi mereka. Anak-anak petani, anak-anak buruh, anak-anak yang mungkin nasibnya akan lebih baik dariku.

Dan untuk pertama kali dalam tiga puluh tahun, aku masuk kelas tanpa bertanya-tanya tentang nasibku sendiri.


Pulang sekolah, aku langsung ke kebun. Jagung-jagung itu masih sama, melambai-lambai tertiup angin. Tapi entah mengapa, warnanya hari ini lebih hijau. Langit lebih biru. Dan ketika aku membungkuk mencabuti rumput di sela batang, kusadari sesuatu.

Tanah ini tidak bertanya siapa aku. Tidak menilai berapa gelar di belakang namaku. Tidak memperhitungkan status kepegawaianku. Tanah ini hanya tahu bahwa aku hadir, merawat, dan memberi hidup padanya.

Dan ia membalasnya dengan jagung, singkong, dan pisang. Cukup untuk kami. Cukup untuk bersyukur.

Yosefina melambai dari kejauhan, memanggil untuk pulang. Aku melambai balik.

Di bawah langit yang mulai gelap, aku berjalan pulang. Menyusuri pematang yang sama, tapi dengan langkah yang berbeda. Keringat masih membasahi baju, tapi hati terasa ringan.

Besok, aku akan mengajar lagi. Lusa, juga. Sampai dua tahun lagi. Lalu aku akan pensiun. Tapi aku tidak akan berhenti menjadi guru. Karena menjadi guru, seperti mencintai istri dan merawat kebun ini, adalah sesuatu yang tidak bisa dihentikan oleh status apa pun.

Aku Lorensius. Guru honorer. Petani jagung. Suami Yosefina.

Dan untuk pertama kalinya, semua itu terasa lebih dari cukup.

Oleh: Krismanto Atamou

Penulis adalah Guru di Kabupaten Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.