Apakah mewujud dingin yang bisa lelap dalam haribaan malam?
Mungkinkah seperti sejuk yang bisa rekah di subuh hari?
Atau, barangkali layaknya gelombang yang mampu menyapu resah di tepi pantai jiwa?
Bisa juga seperti gelombang suara yang membinasakan celoteh manusia.
Ada yang menjumpainya di hutan-hutan
mengartikan jika cinta serupa induk-induk kuda yang mengasihi anaknya.
Lebah-lebah yang mencumbu putik dengan mesra.
Kelalawar yang merondai malam dengan mata jaganya.
Tumbuhan yang mempersembahkan oksigen tanpa menagih imbalan kepada manusia.
Yang jelas cinta akan samar jika menyentuh bumi manusia.
Purbalingga, 2025
Oleh: Yanuar Abdillah Setiadi






