Ketenangan Penulis di Dunia yang Kacau

oleh -1134 Dilihat
Person sitting quietly on the edge of a dock watching the sunset
banner 468x60

Oleh: Chudori Sukra

Tidak jarang ditemukan penulis dan sastrawan Indonesia yang menyatakan diri writer’s block , merasa kelelahan di era yang penuh gangguan dan persaingan ketat saat ini. Mereka justru ikut terjebak dan tergopoh-gopoh, sampai akhirnya merobek-robek puluhan lembar kertas yang ditulis sudahnya. Ketika saya bertanya, mengapa Anda melakukan itu? Mereka mengaku telah menemukan tulisan di Google atau Bing, yang mengandung esensi sama dengan apa-apa yang sedang digarapnya.

Untuk itu, tak perlu bangga penulis mengaku-ngaku dirinya tengah sibuk, karena bisa jadi di luar sana cukup banyak orang yang menggarap hal yang sama substansinya, bahkan justru lebih berkualitas daripada yang sedang Anda garap. Terkait dengan ini, saya ingin menjelaskan bahwa kesibukan yang tidak terarah justru bisa menjadi bentuk pengungsi dari hidup yang sebenarnya. Boleh Dibilang, bahwa aktivitas tanpa arah adalah pengalih perhatian yang dibungkus produktivitas.

Jika seorang penulis masih disibukkan oleh validasi medsos, pengakuan publik, royalti besar, bahkan tak jarang sastrawan Indonesia yang ikut sibuk mengejar jabatan dan gelar akademik, maka dapat dipastikan bahwa ia takkan fokus pada masalah esensi yang harus digarap dengan matang. Penulis yang baik akan mampu membedakan mana yang substantif dan mana yang hanya kegaduhan dan gangguan semata.

Menulis sedikit tapi bersifat esensial, jauh lebih bermakna daripada banyak-banyak menulis, tetapi akan mudah terhempas oleh waktu dan zaman. Menurut Hafis Azhari, penulis novel Pikiran Orang Indonesia , menulis sedikit tapi berdampak positif bagi perubahan, jauh lebih utama daripada menghambur-hamburkan kertas tetapi tulisannya cetek dan dangkal belaka. Baginya, karya sastra berkualitas lahir dari perhatian penuh terhadap hal-hal yang bernilai dan bermakna.

Paham batasan

Pada prinsipnya, penulis yang baik harus memahami batasan dan pengendalian dirinya. Batasan itu merupakan rem kearifan dan kebijaksanaan untuk menentukan apakah sesuatu yang ditulisnya itu penting, sangat penting, atau hanya sampingan belaka. Seorang penulis harus tahu kapan mengatakan “tidak” pada yang kurang penting, agar bisa mengatakan “ya” pada yang benar-benar substantif dan esensial.

Dengan itu, ia akan memanfaatkan hari-harinya serta fokus dan berkonsentrasi ke arah sana, kemudian berani mengeliminasi, atau membatasi kehadiran ide dan gagasan yang dirasa hanya pendukung atau justru berseberangan dengan yang sedang digarapnya.

Bagi Hafis Azhari, penulis akan menemukan kesejatian dirinya, manakala ia mampu hidup produktif, serta paham apa-apa yang harus diabaikan oleh kreativitasnya. Sikap pengabaian terhadap hal-hal yang tak penting bukan berarti masabodoh atau skeptis, tetapi justru suatu bentuk mendisiplinkan diri agar lebih bermanfaat bagi kepentingan khalayak.

Penulis yang baik harus tetap eksis dan istiqomah, namun tak usah buru-buru mengejar target kesuksesan atau pengakuan publik. Untuk menjadi hidup yang produktif dan bermakna, tidak perlu mengejar yang banyak, tetapi cukuplah untuk mencapai sesuatu yang bermakna dan berkualitas. Saat ini, ketika kita hidup di tengah kegalauan dan gangguan, pilihan menjadi penulis adalah bentuk keberanian yang langka, karena ia rela untuk fokus mengejar sesuatu dengan penuh dedikasi, sementara banyak orang telah mengorbankan dirinya untuk mengejar banyak hal yang hanya mencuri waktu dan energinya semata.

Produktivitas sejati bagi seorang penulis, akan datang saat ia paham tentang apa yang harus diabaikannya. Jika ia menimbun banyak PR yang sedang ditulisnya, ia paham mana yang harus dilepas agar dapat fokus pada hal-hal yang lebih bermaslahat bagi kepentingan umat. Sebab, ketika penulis mengatakan “ya” pada hal-hal yang bermakna, berarti ia tengah menyatakan “tidak” untuk sesuatu yang sia-sia dan tak berarti.

Sadar diri

Sudah berjuta-juta bahkan bermilyar karya sastra dari zaman ke zaman, yang tak jarang mengandung narasi dan corak penceritaan yang serasi. Kadang-kadang hanya sekedar mengadopsi atau merilis ulang dari karya-karya terdahulu. Rupanya umat manusia di muka bumi, termasuk bangsa kita, tidak membutuhkan lebih banyak melainkan lebih bermakna bagi pembangunan budaya dan peradaban. Kita juga membutuhkan penulis-penulis muda milenial, yang lebih sadar akan pentingnya hidup bermaslahat, serta ikhlas membantu agar ikut-serta mencerdaskan dan mendewasakan umat.

Hal tersebut bukan pernyataan idealis, tetapi memang seperti itulah yang diajarkan semua agama dan peradaban luhur di muka bumi ini. Sekali lagi perlu ditegaskan, bahwa kita tidak membutuhkan tulisan dan literatur yang banyak, tetapi kita membutuhkan penulis-penulis yang sadar diri akan memanggil sejarahnya. Mereka harus berhenti mengejar ilusi yang tanpa arah dan tujuan.

Biarpun mereka menyaksikan fenomena yang dianggapnya chaos dan kacau, penulis yang baik jangan ikut terjebak dalam kekacauan dan absurditas, melainkan harus mampu memberikan pencerahan kepada pembaca, yang kelak dapat mewarnai pola peradaban yang lebih luhur dan bermanfaat bagi kedamaian dan kemakmuran bersama. (*)

Penulis adalah Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), menulis prosa dan esai di berbagai media nasional dan daerah, seperti harian Kompas, Koran Tempo, Republika, Kabar Madura, Solopos, Bangkapos, Radat NTT dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.