Aku dulu adalah kota di bawah air,
batu warna-warni yang mencintai ombak,
rumah bagi yang bernapas dengan insang,
sekarang aku hanyalah fosil,
terkubur dalam video promosi pariwisata.
Dulu ikan-ikan menyebut namaku
dengan suara cahaya.
Kini kapal-kapal pengangkut nikel
melintasi dadaku,
meninggalkan puing-puing
dan pujian di meja parlemen.
Anemon bunuh diri.
Bintang laut kehilangan arah.
Dan aku,
membusuk penuh luka
di bawah grafis animasi pembangunan nasional.
Juni, 2025
Oleh: Fileski Walidha Tanjung






