Semalam Bersama Lelaki Bertato Buaya

oleh -1039 Dilihat
banner 468x60

Setelah lelaki itu meneguk kopinya dan membayar dengan uang lusuh, Pak Salim membiarkan ia duduk-duduk di depan warungnya sambil menghisap sebatang rokok yang telah disulutnya. Karena merasa gerah, lelaki asing itu membuka kaosnya yang kumal, seraya tiduran di bangku panjang, dengan muka menghadap lapangan luas tempat digelarnya korsel pasar malam. Saya pernah melihat lelaki paruh baya itu beberapa kali, tetapi baru kali itu saya tahu kalau dia memiliki tato bergambar buaya raksasa di sekitar dadanya yang bidang.

Saya masih ingat lengannya yang kekar layaknya seorang kuli panggul di Tanjung Priok, meski wajahnya lugu dan terkesan kekanak-kanakan. Sore itu, dia seperti menebak kehadiran saya di warung kopi Pak Salim, dan setelah menghisap rokok dan menghirup kopi pahit, tiba-tiba lelaki itu duduk di sebelah saya dan bertanya, “Bapak orang sini, kan?”

“Ya,” jawab saya, “rumah saya enggak jauh dari sini.”

Dia menatap mata saya, mengelus dadanya yang bertato, dan katanya lagi, “Bapak tahu enggak, di mana saya harus cari pekerjaan di sini?”

“Enggak tahu,” kata saya menggeleng, “coba saja samperin korsel di lapangan itu, barangkali ada pekerjaan buat bapak.”

“Sudah duapuluh tahun saya keluyuran ke mana-mana, dan enggak pernah mendapat pekerjaan yang cocok,” cetusnya lagi.

Ia mengamit kaos yang tersampir di bahunya, lalu memakainya kembali. Wajahnya tampak berkeringat, tapi ia berusaha mengancing kaosnya meskipun kerah bagian belakangnya agak terlipat.

Ia menggeser duduknya, lalu melengos ke arah Pak Salim sambil bergumam, “Mungkin malam ini, saya mau tiduran di bangku ini sampai pagi.”

“Silakan enggak apa-apa,” ujar Pak Salim sambil menyodorkan dua bungkus roti, “nanti kalau bapak pengen pesan kopi, tinggal bilang aja ke saya.”

Lelaki bertato itu menggeser duduknya lagi, sambil melenguh, “Aah, nanti bapak menyesal berbuat baik kepada saya.” Ia terdiam sejenak, dan sambungnya, “Saya ini orangnya suka kelayapan ke mana-mana, enggak bisa diam di satu tempat. Seperti sekarang ini, di musim panas begini, kadang acara-acara korsel dan pasar malam digelar di lapangan perempatan. Padahal, bisa saja saya meminta pekerjaan kalau saya mau, tapi sepertinya saya enggak pernah mau diatur-atur orang.”

Lelaki itu melepas sepatunya, menatap saya erat-erat, dan lanjutnya lagi, “Acara korsel dan pasar malam biasanya digelar dalam waktu tiga minggu atau sebulan. Tapi kalau saya kerja di tempat itu paling kuat hanya seminggu, setelah itu mereka memecat saya karena alasan yang enggak jelas. Lalu, sekarang enggak ada lagi pemilik korsel yang mau mempekerjakan saya. Mereka kapok semuanya.”

“Emang masalahnya apa?” pancing saya.

Sebelum menjawab pertanyaan saya, dia membuka kancing kaos bagian dadanya yang bidang, lalu menyelipkan sebelah tangan ke bawah lapisan kaos, tepat di atas dadanya.

“Coba bapak lihat ini,” katanya dengan mata terpejam, “Saya kok enggak ngerasa apa-apa sekarang ini. Biasanya buaya ini masih berjalan-jalan di sekitar dada dan perut. Saya malah kepengen dia menggeliat dan berlari meninggalkan dada saya, lalu pergi ke rawa-rawa untuk selamanya. Biasanya waktu sore begini dia masih berjalan-jalan, dan setelah matahari tenggelam biasanya dia terdiam selama beberapa jam, lalu pada saat larut malam berjalan-jalan lagi. Coba bapak lihat, apakah dia bergerak atau diam di tempat.”

Dia melepas kaosnya, lalu menunjukkan seluruh tato di dadanya ke arah saya, “Coba bapak perhatikan selama beberapa menit saja.”

Setelah saya menatap erat-erat, sepertinya itu bukan tato biasa. Tetapi, sejenis gambar buaya multidimensi dengan nilai seni dan estetika tinggi.

“Sengaja saya selalu mengancing kaos sampai leher, supaya anak-anak kecil enggak ketakutan. Biasanya kalau anak-anak sekolah melihat tato di dada saya, mereka ingin melihat gambar buaya ini sepenuhnya, tetapi setelah itu mereka lari terbirit-birit ketakutan.”

***

Suatu hari, lelaki bertato itu menerangkan kepada saya dan pak Salim, perihal makna buaya itu, seraya membiarkan dirinya bertelanjang dada.

“Lihat,” katanya. Dia menunjuk beberapa tato kecil yang mengitari gambar buaya di tengahnya, “yang berwarna hitam bulat ini adalah gambar sumur, dan di samping bulatan ini ada beberapa orang tentara, seakan berdiri hendak dieksekusi lalu dimasukkan ke dalam sumur. Nanti di kemudian hari, orang-orang kampung akan menamakan sumur ini dengan sebutan lubang buaya.”

Saya sempat duduk tercenung mengamati gambar-gambar yang memenuhi seluruh dadanya. Sekumpulan gambar tentara bersenjata yang berdiri mengitari gambar buaya raksasa, lengkap dengan lubang hitam di sekitar mulutnya. Masing-masing gambar memiliki detil dan warna yang rumit hingga siapa pun yang ada didekatnya nyaris bisa mendengar gumam suara yang samar dari kehidupan yang memenuhi dadanya. Saat kulitnya berkedut, mulut dan mata buaya kontan mengerlip, seakan mata itu memancarkan sinar berwarna merah muda yang terus bergerak. Di sebelah ekor buaya, tampak garis-garis sketsa bergambar peta Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Di sebelah kirinya tampak beberapa sosok manusia berseragam militer, namun tersembunyi di sekitar rerimbunan pohon, di antara konstelasi bintik pigmen. Saya memandangnya seakan ia mengumpat di balik lekuk ketiak dengan mata bersinar bak batu permata. Setiap manusia yang tergambar seolah memiliki hasrat, keinginan, dan ambisinya sendiri.

“Tak disangka, ternyata gambar-gambar ini menarik juga,” ujar saya kemudian.

Entah, bagaimana saya harus menjelaskannya secara mendetil. Jika Basuki Abdullah dan Raden Saleh yang juga terkenal dengan pewarnaan pada lukisannya, dengan detil yang seakan tanpa batas, anatomi yang begitu mencolok, mungkin mereka akan senang memakai tubuh lelaki ini sebagai kanvasnya. Warna-warna ini membantu gambar-gambar menjadi hidup dengan tampilan tiga dimensi. Seakan masing-masing ilustrasi adalah jendela di mana kita bisa mengintip ke dalam realitas kehidupan yang konkret. Pada bagian kiri dada lelaki itu, seakan dipadatkan ke dalam satu bidang anatomi, tersemat ilustrasi kehidupan suatu bangsa yang baru merdeka, dan sedang mencari jati diri.

Namun kemudian, saya dapat segera menebak, bahwa ilustrasi itu bukan hasil pekerjaan seniman amatir dengan karya murahan dari tangan sastrawan atau pelukis yang suka mabuk-mabukan. Tetapi, ini semacam karya pelukis jenius atau ilustrator profesional yang paham makna estetika di dunia kesenian.

“Saya kira penilaian bapak ini benar,” katanya bergumam, seakan jalan menebak pikiran saya. “Saya sendiri merasa bangga dengan gambar-gambar tato ini. Tapi di saat lain, kadang saya ingin membakar dan mengamplasnya, atau bahkan mencungkilnya satu persatu dengan pisau kater.”

Matahari mulai terbenam. Bulan menunjukkan sinar peraknya dari langit timur, lalu tanya saya lagi, “Sejak kapan bapak memelihara tato-tato ini?”

“Saya sudah lupa, mungkin sekitar tahun 1963 atau 1964, tapi yang jelas sebelum peristiwa politik 1965 lalu di Jakarta. Saya sengaja merawatnya, karena kadang-kadang saya percaya dengan omongan pembuatnya, bahwa gambar-gambar tato ini bisa meramal masa depan…”

“Oya? Siapa pembuatnya?” pancing saya kaget, seraya mengernyitkan dahi. Rupanya usia bapak ini sudah tua. Padahal, dari raut mukanya seperti baru 50 atau 55-an tahun.

“Saya sudah lupa nama pembuatnya,” lanjutnya dengan pandangan menerawang. “Tapi, yang bikin saya jengkel, ketika saya sedang tidur pulas di malam hari, tiba-tiba mata saya terkesiap lantaran merasakan buaya ini berjalan-jalan, seakan berpindah dari dada ke perut, kemudian balik lagi ke dada.”

Tanpa sadar, saya tersenyum. “Kira-kira orang mana dia, Pak?” tanya saya lagi.

“Dia seorang perempuan tua yang katanya berasal dari  Kalimantan. Waktu itu saya sedang berbaring di rumah setelah perawatan di rumah sakit karena kecelakaan. Tiba-tiba seorang perempuan tua menjenguk saya, dan mengaku teman almarhum bapak saya sewaktu menggarap lahan kebun di daerah Kalimantan. Lalu, dia mengatakan bahwa ayah saya sudah berpulang ke rahmatullah, sementara dia sendiri kembali ke masa depan…”

“Kembali ke masa depan, maksudnya?” tanya saya heran.

“Dia mengaku berasal dari dusun Cigalempong, Balikpapan, Kalimantan Timur. Katanya tinggal di sebuah gubuk tua dengan seorang cucu yang menemaninya, meskipun dia tak pernah menjenguk saya bersama cucunya. Perempuan tua itu bertubuh kecil dengan tampilan berubah-ubah. Kadang dia terlihat seperti sudah berumur seratus tahun, tapi minggu berikutnya kok tiba-tiba berubah seperti wajah seorang gadis baru tigapuluhan. Dia bilang, katanya bisa berjalan ke mana-mana kapan saja. Dan ketika ia berada di Kalimantan hendak menemui saya, tiba-tiba hanya dalam beberapa detik sudah sampai di Jakarta.”

“Lalu, bagaimana awal mulanya, hingga perempuan tua itu membuat tato di dada Bapak?”

“Awalnya perempuan itu melihat-lihat gambar presiden dan wakilnya yang terpampang di kalender yang menempel di tembok kamar, lalu dia mengaku bisa menggambar dan membuat tato. Tiba-tiba dia menawarkan pada saya, apakah mau badannya ditato?”

“Untuk apa, tanya saya. Bagus enggak?”

“Pokoknya bagus, untuk meramal masa depan.”

“Entah ada bisikan dari mana, tiba-tiba mulut saya mengatakan ‘ya’ tapi cukup di sekitar dada saja. Lalu, malam itu juga, tiba-tiba mata saya terkantuk kemudian tertidur pulas sampai pagi. Jadi, semalam suntuk, sama sekali saya enggak merasakan adanya jarum yang menyengat kulit saya. Tapi di pagi harinya, tahu-tahu saya menemukan dada saya penuh dengan gambar berwarna-warni, terutama gambar buaya ini yang paling besar.”

“Seperti keluar dari mesin cetak,” gumam saya.

“Ya, seperti itulah. Kadang kalau saya mengingat perempuan tua itu, yang tiba-tiba menghilang setelah menggambar tato ini, saya merasa jengkel sekali dan ingin menghajarnya habis-habisan…”

“Kenapa?”

“Karena tak pernah bertanya apa yang mesti dia gambar, serta tak pernah memberi solusi bagaimana saya harus menghilangkan tato buaya ini dari tubuh saya.”

***

“Kenapa Bapak merasa dendam pada perempuan tua itu?” tanya saya lagi.

“Karena apa yang dilakukannya tidak adil. Semua majikan yang pernah mempekerjakan saya tiba-tiba memecat saya setelah melihat gambar buaya ini bergerak-gerak. Mereka tidak suka kalau ada sesuatu yang membahayakan gara-gara gambar tato ini. Bapak sendiri sudah coba menatap lama-lama, seolah-olah pergerakan buaya itu menyiratkan sebuah cerita di masa depan, yaitu cerita tentang konflik atau perselisihan yang akan terjadi, hingga harus ada pihak lain yang dikorbankan. Kalau Bapak menatap gambar buaya ini selama satu jam saja, Bapak akan lihat sendiri tujuh tentara itu akan terjatuh ke lubang sumur, sementara buayanya terus bergerak-gerak mengitari lubang hitam itu.”

Selama berbicara, lelaki bertato itu menyentuh gambar-gambar di dadanya dengan telapak kirinya, seolah hendak menyesuaikan bingkai setiap karya atau membersihkan debu yang menempel. Sekarang dia dalam posisi berbaring di atas bangku, tubuhnya terlihat panjang dan besar di bawah pancaran sinar bulan. Malam itu terasa hangat. Tak ada angin, hingga membuat bulu kuduk saya semakin merinding.

“Lalu, ke mana kira-kira perempuan tua itu pergi?”

“Saya sendiri enggak tahu,” katanya menggeleng, “selama beberapa tahun ini dia enggak muncul lagi, entah ke mana.”

“Mungkin kembali ke Balikpapan?”

“Dua kali saya ke sana. Tetapi, apa yang dia katakan sebagai gubuk tua di kampung Cigalempong itu, tak pernah saya temukan. Bahkan, nama kampung itu sendiri enggak ada di seluruh Kalimantan…”

“Tapi, apakah Bapak yakin kalau dia datang dari masa depan?”

“Kalau tidak, bagaimana dia tahu soal cerita-cerita yang bergerak di dada saya sejak tahun-tahun sebelum 1965, kemudian mulai tanggal 1 Oktober 1965 tiba-tiba tersiar kabar mengenai adanya lubang sumur yang kemudian dinamakan lubang buaya? Lalu, mayat-mayat jenderal dimasukkan ke lubang sumur itu?”

Lelaki bertato itu memejamkan mata, seakan merasa lelah. Suaranya semakin lemah. “Kadang-kadang di malam hari, saya bisa merasakan gambar-gambar ini seperti semut yang menggerayangi dada dan perut saya. Ketika saya menyadari bahwa tubuh saya sedang meramal masa depan, saya tak memedulikan pergerakan buaya itu lagi. Saya biarkan dia berjalan-jalan sendiri. Saya hanya ingin beristirahat, karena memang saya jarang tidur kalau tengah malam. Dan sebaiknya Bapak juga tidur saja, jangan menatap lama-lama gambar di dada saya ini.”

Malam sudah larut. Saya memutuskan bermalam di warung kopi Pak Salim sambil menggelar tikar di bawah bangku panjang. Sementara lelaki bertato itu tidur mendengkur di atas bangku dengan beralaskan lengan kanannya. Saya bisa mendengar nafasnya di tengah pancaran cahaya bulan. Suara jangkrik berkumandang di kejauhan. Sengaja saya berbaring dengan posisi menyamping agar bisa terus memandangi gambar-gambar aneh di dada lelaki itu.

Satu jam berlalu. Saya tidak tahu apakah lelaki bertato itu sudah terlelap, tetapi mendadak dia berbisik, “Lihat tuh, buaya itu bergerak lagi, Bapak lihat sendiri, kan?”

Saya diam tak menjawab. Tetapi mata saya terpancang pada gambar di sekitar dadanya. Gambar buaya itu seakan mengitari lubang sumur, disertai gambar-gambar tentara yang berjatuhan ke dalam lubang itu satu persatu. Di bawah pancaran cahaya bulan yang keperakan, suara-suara halus bangkit dari setiap gambar yang ada di dadanya, seperti sebuah gambar film yang diedit secara rapi hingga membentuk sebuah cerita. Saya tidak tahu seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap adegannya. Cerita itu terus mengalir dari satu bab ke bab lainnya, seperti kisah lelaki penderita delusi skizofrenia dalam novel Pikiran Orang Indonesia. Saya juga menyaksikan sekitar 30 ilustrasi gambar pada dada sebelah kanannya, yang kemudian diakhiri dengan 9 gambar lengkap, seakan membentuk adegan-adegan film berdurasi dua jam lebih.

Lelaki bertato itu membalikkan tubuhnya, dan waktu sudah menunjukkan Pk. 02.30 dini hari. Posisi bulan semakin tinggi, hampir sejajar lurus di atas kepala. Lelaki bertato itu tertidur pulas, tetapi saya sudah menangkap semua isi cerita yang terkandung dalam gambar-gambar itu. Sekarang hanya ada satu bagian yang masih misterius, yakni ruang kosong di antara lubang sumur, serta seorang tentara yang berdiri terkesima, seakan menatap kedalaman lubang sumur itu.

Dalam kondisi tidur pulas, tiba-tiba keluar suara lembut dari mulut lelaki bertato itu, “Nah, itu bagian yang meramal nasib presiden kita saat ini…”

“Ha! Maksudnya Presiden Prabowo? Apa yang akan terjadi dengan beliau?” tanya saya kaget.

Lelaki bertato itu terkesiap, lalu bangkit dalam posisi duduk. Saya dan Pak Salim duduk serius di hadapannya, mendengar lelaki bertato itu bicara panjang lebar hingga datangnya waktu subuh. (*)

Oleh: Muhamad Muckhlisin / Peneliti sastra milenial Indonesia, menulis prosa dan esai di berbagai media nasional, juga pemenang pertama lomba cerpen nasional yang diselenggarakan oleh Harian Rakyat Sumbar

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.