Menakar Kecerdasan Intelektual Prabowo

oleh -2071 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Chudori Sukra

Dalam kesempatan berpidato, Presiden Prabowo kadang melontarkan teori propaganda politik, yang sering dipakai oleh kelompok status quo demi untuk melanggengkan hirarki kekuasaannya. Sebenarnya, teori propaganda itu hanya permainan usang dan kuno, namun cukup ampuh hingga sepanjang sejarah dimanfaatkan oleh angkatan perang di seluruh dunia. Di era transformasi ini, anarkisme kekuasaan dikemas secara estetis melalui perangkat digital, yang tujuan dan motifnya adalah sama.

Kita menyaksikan karakteristik seperti itu pada kasus pembunuhan Brigadir Joshua beberapa waktu lalu. Bandingkan dengan siasat dan strategi Orde Baru sekitar 60 tahun lalu, yang mengadakan aksi terobosan untuk mengambil-alih RRI dan kantor telekomunikasi yang letaknya di jalan Medan Merdeka (seberang kantor Kostrad). Setelah itu, berkumandanglah peristilahan negatif yang diciptakan secara serentak, dari kata G30S/PKI, Kopkamtib, Supersemar, Ampera, Museum Lubang Buaya, ABRI, GPK, OTB dan seterusnya.

Segala akronim dan peristilahan itu bukan tercetus dari orang-orang dungu seperti yang kerap dilansir oleh Rocky Gerung. Akan tetapi, lahir dari klik konspirasi orang-orang jenius yang punya harapan akan pentingnya merebut kekuasaan. Dari perspektif lain, untuk membangun nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, sebagai prinsip masyarakat religius dan humanis, maka agitasi propaganda untuk suatu gerakan revolusioner memang diperlukan. Dalam konteks ini, tentu saja Prabowo sepakat dengan adagium “banyak bicara dan banyak bekerja”, karena setiap pekerjaan mulia untuk membela kepentingan rakyat, dibutuhkan bahasa ungkapan sebagai perlawanan atau penggugah kesadaran akan pentingnya kebangkitan dan pencerahan.

Intelektualitas Prabowo

Dengan kepiawaian berpidato, serta kecermatan dalam merangkai kata, Prabowo semakin mampu menggugah kesadaran jutaan rakyat, yang membuat mereka tergerak dan bangkit dari keadaan nasibnya sebagai bangsa terjajah dan marjinal. Ia mengungkit soal propaganda politik, bahkan menggugat jenderal bermental fasis. Hal ini selaras dengan ungkapan ilmiah seorang doktor maupun guru besar matakuliah sosiologi maupun antropologi politik.

Suatu kali, Prabowo bahkan menyatakan, bahwa segala pertengkaran dan peperangan manusia selama berabad-abad, sebenarnya bersumber di wilayah permainan bahasa dan kata-kata yang tak pernah punya arti baku maupun kaku. Semua itu berpangkal pada teori-teori filsafat dan politik kebangsaan, tanpa banyak disadari bahwa di sana ada permainan kata yang berperan kuat dan patut diperhatikan.

Secara implisit, pidato-pidato Prabowo seakan mengantisipasi munculnya teknik propaganda yang pernah dipakai oleh Hitler, Franco hingga Musollini. Dan di negeri ini, telah pula dipraktekkan kembali oleh seorang jenderal bekas tentara KNIL (Hindia Belanda), yang membuat Prabowo pernah dipecat sebagai perwira tinggi, dikucilkan dari keluarganya, bahkan terusir dari negerinya sendiri.

Saat ini, ketika kekuasaan berada di tangannya, justru Prabowo tampil elegan seakan tanpa memendam amarah. Beliau paham, bahwa teknik propaganda itu masih hidup, dan boleh jadi dimanfaatkan kembali oleh beberapa gelintir elit penguasa dan politisi kita, khususnya bagi mereka yang terobsesi menjadi ahli waris dari sistem politik militerisme Orde Baru, yang merupakan mata rantai tak terpisahkan dengan karakteristik militerisme negeri-negeri asia juga.

Ingatan kolektif

Dengan menyusupkan ideologi politik dan kekuasaan sesuai tafsirannya, Orde Baru bergerak secara masif, hingga berhasil meyakinkan jutaan manusia Indonesia yang mengulktuskannya selaku “bapak pembangunan”. Namun, dalam perjalanannya, mereka tak sanggup menafsirkan pesan-pesan religiositas, bahwa membunuh satu orang tanpa alasan yang benar, sama artinya dengan membunuh seluruh umat manusia di muka bumi ini.

Tentu saja seorang pemimpin fasis tidak akan dapat bertahan dalam hitungan bulan dan tahun, jika saja tidak lihai dan licik dalam memanfaatkan permainan bahasa yang disusupkan ke dalam benak mayoritas rakyatnya.

Setiap orang yang mengasah nuraninya akan kepekaan sejarah, dapat memahami betapa teknik propaganda yang sering dilontarkan Prabowo, seumumnya dimanfaatkan oleh angkatan bersenjara, guna mengungkap gambaran-gambaran sang musuh sebagai penitisan kebejatan. Teknik itu juga menampilkan gambar-gambar visual mengenai penderitaan manusia, bahkan penyebab dan asal-mula kekejian dan pembantaian, sejak kekuasaan diciptakan sampai kapanpun kebohongan hendak dipertahankan.

Namun, seperti adagium orang-orang bijak bahwa “tak ada kejahatan yang sempurna”, akhirnya sang pelaku kelaliman itu harus menanggung akibat dari perbuatannya di masa lalu. Dalam bahasa religius, mereka yang masih suka mengulang-ulang kebohongan itu, kelak akan terjebak ke dalam lorong panjang yang gelap, hingga terus-menerus mengalami pertentangan yang tak berkesudahan.

Itulah yang konsisten dipercaya oleh orang-orang beriman dari zaman ke zaman, kecuali jika manusia sudah terpedaya oleh nafsu duniawi, hingga terlena dan mengulang-ulang kebodohan yang sama. (*)

Penulis adalah Pengasuh pondok pesantren “Riyadlul Fikar”, Serang, Banten, penulis opini dan prosa di berbagai media luring dan daring, seperti Kompas, Koran Tempo, Republika, RadarNTT, Kabar Madura, Analisa, Jurnal Toddoppuli, litera.co.id, nusantaranews.co, ruangsastra.comalif.id, NU Online dan lain-lain)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.