Pasangan Hidup yang Ideal

oleh -1225 Dilihat
banner 468x60

Ada dua kenalan dekat, sebut saja pacar atau kekasih, keduanya bernama Wati dan Tuti. Salah satunya tentu saja akan saya sunting sebagai istri yang kelak mendampingi hidup saya. Tapi, siapakah dari keduanya yang harus saya pilih?

Tuti orangnya cantik, tak kalah menarik dengan Wati yang juga berkepribadian. Keduanya, boleh dibilang, berasal dari keturunan baik-baik, berkecukupan, bahkan taat pada agama. Di dalam agama memang ada aturan berdoa atau shalat istikharah untuk meminta yang terbaik, dari dua atau tiga kemungkinan yang ingin dipilih dan diputuskan. Itu pun sudah saya lakukan seoptimal mungkin.

Tapi, yang mana saya harus menentukan pilihan terbaik, Tuti ataukah Wati?

Maka, keduanya secara bergiliran saya ajak ke daerah Way Kambas, Lampung Timur, agar mereka dapat saling menilai, bagaimanakah mereka punya pendapat mengenai gajah-gajah yang sedang melahirkan.

Saya kira, masyarakat Indonesia sudah cukup mengenal Taman Nasional Way Kambas. Meskipun bagi Tuti dan Wati, yang keduanya berasal dari Sunda Banten, tampaknya baru kali ini mengenal gajah-gajah di daerah itu. Apalagi menyaksikan gajah melahirkan, tentu saja menjadi aneh dan langka bagi pengalaman hidup mereka.

Pejalanannya tidak terlalu jauh dari Banten. Hanya melintasi kapal laut selama satu jam lebih, ditambah dua jam perjalanan darat, sampailah di Taman Nasional Way Kambas. Ketika saya memancing komentar Tuti saat menyaksikan gajah melahirkan, dia agaknya merasa riskan dan jijik. “Lihat kantong plastik itu… ternyata di dalamnya ada bayi gajah yang keluar dari kemaluannya?”

“Itu namanya Alantois, seperti kantung plastik putih yang melindungi janin gajah sejak di dalam rahimnya,” kata saya sambil menatap proses keluarnya bayi gajah, yang kemudian dikerumuni sekawanan gajah lain untuk membantu proses persalinan.

Saya melihat Tuti kurang begitu antusias saat menyaksikan gajah-gajah itu saling membantu sesamanya. Dia merasa takut gajah itu akan saling menyerang, menginjak bayi gajah, atau bahkan memakan anak kandungnya sendiri.

“Itu tidak mungkin,” jawab saya, “semua gajah itu punya perasaan. Bahkan saling solider dan melindungi gajah betina yang sedang melahirkan. Sekawanan gajah itu bahkan memiliki rasa empati kepada bayi gajah yang masih lemah, hingga akan menjaga keselamatannya dari serangan hewan-hewan lainnya.

“Ah itu nggak mungkin,” sanggah Tuti, “dunia ini begitu kejam. Tidak jarang orang tua yang berani memakan anak kandungnya sendiri.”

“Terserah saja, itu pendapatmu, kan?” balas saya singkat.

Tampaknya dia belum siap untuk diajak pendapat berbeda. “Ya sudahlah, kita pulang aja, yuk…”

“Kenapa?”

“Enggak betah saya di sini… juga enggak tega melihat gajah melahirkan…”

“Kenapa?”

“Bahkan saya merasa trauma melihat orang melahirkan.”

“Ya, sudahlah.”

***

Momentum untuk mengajak Wati melihat gajah melahirkannya tampaknya sulit dan perlu kesabaran yang tinggi. Saya membaca-baca di media sosial, sepertinya belum ada gajah yang siap melahirkan pada minggu itu, hingga saya perlu menunggu untuk minggu berikutnya.

Pas hari Jumat saya membaca berita adanya gajah melahirkan di Minggu pagi, tiba-tiba hujan deras turun di waktu subuh, dan lagi-lagi saya tidak bisa mengajak Wati ke Way Kambas di saat hujan mengguyur taman nasionel tersebut.

Pada minggu berikutnya, pada waktu yang sama, Wati memberi kabar mau mengajak ibunya kondangan ke daerah Bandung, hingga kesempatan melihat gajah melahirkan gagal lagi. Hampir saja saya putus asa dan memutuskan bertunangan dengan Tuti, bahkan menganggap dialah jodoh saya yang akan dipersandingkan oleh Tuhan, karena mudahnya diberi kesempatan untuk menyaksikan gajah melahirkan.

Tapi nanti dulu, soalnya itu baru pendapat saya pribadi. Dan pendapat manusia belum tentu selaras dengan pendapat Tuhan. Oleh karena itu, tetaplah bersabar menunggu waktu, sampai kemudian, tepat di hari Senin pagi, justru Wati menelepon saya, sementara saya sedang siap-siap akan berangkat kerja. Terpaksa saya membolos untuk satu hari itu.

“Saya membaca berita akan ada gajah yang melahirkan pagi ini,” ujar Wati antusias.

“Kabar dari mana?”

“Tangselpos.”

“Selai berapa?” tanyaku seketika.

“Sekitar jam sepuluh nanti, ayo kita ke sana sekarang. Mumpung masih pagi.”

Bayangkan, hari Senin pagi, di saat orang-orang sibuk bersekolah, kuliah, bahkan bekerja di kantor dan pabrik-pabrik. Sesampainya di sana sekitar jam 09.30, malah sepi pengunjung. Bahkan, jumlah gajah-gajahnya justru lebih banyak dari pengunjungnya sendiri.

“Syukuri apa yang ada,” kata Wati, “yang penting rencana kita melihat gajah melahirkan tersampaikan. Meskipun pengunjungnya hanya kita dan beberapa orang bule di sebelah sana. Sabar saja, karena tidak mudah kita mendapatkan kesempatan seperti ini.””

Benar juga apa yang disampaikan Wati. Dan sepertinya dia bukan dalam posisi bercanda. “Syukuri apa yang ada.” Bagi saya, itu kata-kata yang sangat merdu ketika disampaikan melalui mulut seorang gadis cantik dia.

“Itu lihat! sepertinya itu betina dan akan melahirkan! Dia sedang mencari-cari tempat yang aman untuk proses persalinan?” kata Wati dengan mata berkaca-kaca.

Agak bertanya-tanya juga, ketika saya memiliki gagasan melihat gajah melahirkan sejak bulan-bulan lalu. Tapi, sepertinya Wati sudah menguasai segala hal tentang proses pengiriman gajah.

“Lihat dia mulai mengelus-elus perut dengan belalainya.Berarti bayi itu akan keluar sebentar lagi.”

“Ya, bayi itu mulai keluar! Tapi kok kelihatannya diam saja? Apakah yang tertutup dalam kantong plastik itu masih hidup?”

“Kantong plastik yang melindungi bayi gajah itu namanya alantois…”

“Oo, itu yang disebut kantung alantois?” takjub.

“Sebentar lagi dia akan jatuh dan pecah, lalu anak gajah bangun dan berjalan-jalan sendiri.”

“Langsung bisa berjalan? Sedangkan manusia membutuhkan waktu setahun, dan itu pun harus diajari jalan oleh orang tuanya,” canda Wati.

“Itu proses yang alami, bahkan anak bebek pun bisa langsung berenang, meskipun induknya tidak perlu mengajarkan berenang.”

“Apakah dia enggak stres, seperti kebanyakan manusia?”

“Apa? Mana mungkin bayi gajah merasa stres?”

“Maksud saya ibu. Bukankah kebanyakan orang merasa stres dan panik saat melahirkan? Sebagian ibu-ibu malah merasa trauma gara-gara melahirkan?”

“Oo, begitu ya?”

“Lihat sekawanan gajah itu ikut membantu proses pengiriman. Luar biasa… subhanallah … mereka nampaknya kompak dan solider sekali…”

“Saya berharap manusia bisa melakukan hal yang sama,” kata saya.

“Tapi, apakah manusia tidak melakukan hal yang sama?” canda Wati lagi.

“Saya kira, manusia juga saling tolong-menolong saat pengiriman, tapi tampaknya gajah melakukannya dengan tulus ikhlas.”

“Ketimbang manusia?”

“Boleh jadi, karena gajah tak mengeluarkan biaya untuk membantu sesamanya.”

“Saya kira, kita tidak akan mengerti seberapa besar gajah memiliki kualitas keikhlasan dibandingkan manusia.”

“Mungkinkah manusia lebih ikhlas melakukan sesuatu dibandingkan gajah?”

“Mungkin saja.Tergantung pada manusianya” tegas Wati.

***

Seperti dugaan saya semula, anak gajah itu segera bangkit dan berdiri setelah kantung Alantois itu jatuh dan pecah. Keempat kaki gajah mulai berdiri dalam posisi kokoh. Belalai induknya mulai membersihkan cairan-cairan pada tubuhnya.

Ada sekitar empat gajah yang berdiri melingkar saat gajah betina itu melahirkan. Tetapi, sejak orang tua dari bayi gajah itu, sama sekali saya tidak tahu.

“Salah satu dari keempat gajah itu, pastilah ayah,” kata Wati.

“Atau justru keempat-empatnya adalah ayahnya,” jawab saya dengan tersenyum. Tapi, seketika saya teringat saat Wati membaca arah senyuman saya.

Dengan cuek bayi gajah itu berjalan memutari tubuh induknya, sekali-sekali berhenti untuk menggaruk sambil meliak-liukkan belalainya. Ada saja kesibukan yang dilakukannya, jika memang itu disebut kesibukan. Tak berapa lama, ia berjalan lagi, agak berlari, rebahan di tanah, lalu bangun dan memutari induknya lagi.

“Anaknya mirip sekali dengan induknya, bahkan belalainya juga hampir sama.”

“Untuk apa dia mempunyai belalai?”

“Tentu banyak manfaatnya, terutama untuk melindungi dirinya dari bahaya.”

“Bahaya dari apa?”

“Dari manusia. Karena manusia serakah itu lebih berbahaya dari binatang buas.”

“Jadinya kita mulai debat politik, nih?”

“Kita bicara soal keamanan bagi gajah-gajah, dan itu tak lepas dari soal politik juga.”

“Politik gajah?”

“Ya.”

“Ketika induk gajah melindungi bayinya, bukankah itu pekerjaan politik juga?”

“Demi kemakmuran dan kesejahteraan kaum gajah.”

“Juga keadilan bagi komunitasnya.”

“Apakah mereka punya hati nurani untuk bersikap adil terhadap manusia?”

“Tak usah terlalu berharap. Yang penting manusianya berlaku adil terhadap manusia lain, bahkan terhadap alam semesta ini.”

Sudah cukup bagi saya untuk memutuskan Wati sebagai pasangan hidup yang cocok dan serasi. Nyatanya, Tuti juga punya banyak pemahaman tentang agama, bahkan menjalankan praktik-praktik ritual keagamaan. Tetapi saya berkesimpulan, bahwa Wati jauh lebih religius dan memiliki kedewasaan iman, hingga layak menjadi pendamping hidup saya yang ideal. (*)

Oleh: Hafis Azhari adalah Peneliti sejarah memori Indonesia, juga penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Jenderal Tua dan Kucing Belang.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.