Kali ini saya memberi tugas anak-anak kelas 3A agar membawa pohon berikut potnya, supaya mereka mengerti bagaimana pohon bisa hidup dan tumbuh sebagaimana kehidupan manusia di permukaan bumi ini. Juga supaya mereka sanggup hidup dengan penuh tanggungjawab, setidaknya bagaimana cara merawat pohon-pohon yang mereka bawa, meskipun pada akhirnya dapat diduga, bahwa ponon-ponon itu mati semuanya, hanya dalam hitungan beberapa minggu saja.
Saya tidak mengerti kenapa pohon-pohon itu bisa mati. Apakah ada yang salah dengan tanah yang mereka bawa di dalam pot, ataukah disebabkan bibitnya yang bermasalah dari awal. Kami mengeluhkan hal tersebut kepada toko penjual bibit, meski pada akhirnya ia pun pasrah dan menyatakan bahwa anak-anak sekolah yang memesan bibit telah diberikan dengan kualitas yang terbaik.
Tapi sebenarnya, kejadian itu belum seberapa ketimbang beberapa bulan lalu saya memerintahkan para murid agar membeli seekor itik di pasar, lalu itik-itik itu dikumpulkan dalam satu kandang di belakang sekolah, dengan lampu-lampu bohlam 30 watt yang terus menyala siang dan malam. Namun, hanya dalam hitungan hari, itik-itik itu mati satu persatu. Terlebih, pada hari kelima, ketika terjadi demonstrasi mahasiswa yang menyoal kenaikan tarif yang dikenakan Amerika Serikat melalui corong presidennya Donald Trump. Lalu, apa hubungan kebijakan pemerintah Amerika, berikut demonstrasi mahasiswa, hingga menimbulkan itik-itik di kandang pada mati satu persatu?
Pangkal utamanya adalah soal lampu bohlam yang bersumber dari PLN yang mati (atau dimatikan). Barangkali, supaya masyarakat tidak bisa menikmati siaran langsung mengenai bentrokan mahasiswa dengan aparat, terpaksa lampu dimatikan agar teve-teve tak bisa ditonton, meskipun ponsel di genggaman sulit juga untuk dikendalikan.
Begitulah, setelah enam hari demonstrasi selesai, dan para mahasiswa masuk kuliah seperti semula, lalu kami pun akhirnya mendapatkan 30 itik itu tergeletak tak bernyawa.
Tak beda jauh dengan empat pohon kaktus yang ditanam beramai-ramai, kendalanya justru pada pengairan yang berlebihan. Setidaknya, dari kejadian itu para murid mengerti bahwa ada tanaman tertentu yang tak boleh diberi air secara berlebihan, karena membuat akar-akarnya bisa gembur dan membusuk. Begitu pun dengan belalang yang mereka bawa di dalam kantong plastik. Ketika sampai di kelas, belalang-belalang itu pada mati juga, hingga mereka pun paham pentngnya oksigen yang bisa dihirup oleh serangga-serangga tersebut.
Jauh sebelum itu, ikan-ikan hias di akuarium juga pada terapung dengan perut-perutnya yang buncit. Mengingat rapuhnya ikan hias, seharusnya kami tidak memelihara mereka, tetapi kurikulum sekolah menuntut adanya pemeliharaan ikan-ikan hias di setiap kelas. Tapi faktanya, hampir setiap semester awal, selalu saja pemeliharaan ikan hias justru yang pertama kali gagal total.
Sebagai guru pada mata pelajaran biologi, saya memutuskan agar anak-anak diperbolehkan memelihara binatang apapun, kecuali yang buas-buas. Itulah yang membuat Anita kadang membawa-bawa bunglon di dalam tasnya. Bunglon itu akan terlihat kepalanya keluar dari resleting, sementara tubuhnya dibiarkan di dalam tas ransel bersama buku-buku pelajaran yang dibawa Anita. Demikian pula Rafli yang suka membawa-bawa tupai di dalam ranselnya.
Yang paling merepotkan adalah Azka yang justru membawa anak anjing. Sedangkan kebanyakan siswa pada takut dengan sosok anjing. Azka menemukan anak anjing itu sedang berjalan di kolong sebuah jembatan Kalitimbang yang tak jauh dari sekolah kami. Anak anjing itu naik ke atas dan hendak menyeberang jalan raya. Takut terlindas mobil, Azka membujuk anak anjing itu agar mendekat dan segera menyelamatkannya. Ia pun menjejalkannya ke dalam tas sekolah dan membawanya ke dalam kelas.
Itulah ceritanya kenapa anak-anak kelas kami bisa memelihara seekor anak anjing. Begitu saya melihat anak anjing tersebut, kontan saya berpikir, jangan-jangan usianya tak begitu panjang seperti hewan-hewan lain yang pernah kami pelihara. Dan pada akhirnya, benar saja… hanya dalam waktu tiga minggu anak anjing itu mati terkapar di serambi sekolah kami.
Memang menurut peraturan sekolah, kami dilarang memelihara anjing. Tapi, bagaimana saya bisa melarang seorang murid yang bermain-main riang bersama anak hewan yang lucu itu. Belum lagi, teman-teman sekelas Azka juga menyambut gembira kedatangan anak anjing yang kemudian berlarian sambil mengeluarkan suara menggonggong, yang diikuti pula oleh mulut anak-anak yang menggonggong pula.
Mereka menamakan anak anjing itu “Kalil”, sedangkan nama kepala sekolah kami Kalil Gibran. Seakan sengaja mereka meledek kepala sekolah sambil berteriak-teriak memanggil, “Kalil… Kalil…!” Sialnya, mereka sangat menikmati momen yang menyenangkan itu. Sehingga ketika kepala sekolah menyaksikan secara langsung momentum itu, seketika ia mendekati saya, sambil berbisik, “Apa enggak ada nama lain yang pantas diberikan untuk anak anjing itu?”
“Misalnya?” tanya saya singkat.
“Misalnya Jamilah, Marfuah atau Hindun?”
“Anjing itu jantan, Pak, bukan betina.”
“Kalau begitu, kasih aja dia nama Majid, Salim, atau Mahmud?”
”Anjing itu blasteran Persia, Pak, bukan Arab.”
“Kalau gitu, kasih aja dia nama Syah Iran,” katanya jengkel sambil ngeloyor pergi.
Bapak kepala sekolah mulai nampak curiga seolah-olah saya ikut terlibat dalam rangka pemberian nama anak anjing itu. Tapi, biarlah sang waktu yang akan membuktikan kebenarannya.
Saya membiarkan para murid membuat tempat tidur mungil dan nyaman untuk Kalil di samping lemari sapu. Karena itu, saya merasa heran ketika mendengar kabar, suatu hari anjing itu dinyatakan mati di sekitar taman halaman sekolah. Saya tak mau menuduh kepala sekolah memukul kepala anjing itu, sebab tak ada tanda-tanda bekas pukulan, ataukah ia memakan sesuatu yang mengandung racun dari got sekolah. Misalnya sarden yang dicampur racun tikus, atau minuman yang mengandung sianida dan seterusnya.
Lalu, siapakah yang tega menaruh makanan beracun itu, kalau bukan jelas-jelas sasaran utamanya agar meniadakan anak anjing itu?
Selain soal kematian anjing, yang tak kalah mengherankan adalah kematian Abdala, seorang siswa yatim piatu asal Somalia yang ikut belajar di kelas kami dalam program “Heal the World”. Setiap murid menabung limaribu setiap minggu untuk menolong anak Somalia itu. Tapi, sayang sekali, hanya dalam beberapa bulan ia jatuh sakit, lalu dikabarkan meninggal dunia setelah seminggu dirawat di rumah sakit. Entah, sakit apa yang diderita anak kulit-hitam itu. Dalam surat keterangan dokter, kami tak diberitahu nama penyakitnya, sehingga penyebab kematiannya masih dalam status misteri bagi kami.
Setelah kejadian itu, beberapa emak-emak memutuskan untuk memindahkan anak-anak mereka ke sekolah lain, karena menurut pendapat mereka, ada sesuatu yang tak beres pada sekolah tempat anak-anaknya menuntut ilmu. Tapi, apa masalahnya? Saya pernah melihat kejadian yang lebih baik dan lebih buruk dari apa yang kami alami. Misalnya, ada sekitar enam murid yang kehilangan orang tuanya di akhir tahun 2020 lalu, tapi itu kan memang sedang marak-maraknya virus corona yang mengakibatkan Covid-19. Memang, ada dua orang yang dinyatakan serangan jantung dan TBC, tapi siapa yang membuktikan bahwa itu murni jantung dan TBC, tanpa adanya komplikasi yang ditimbulkan dari virus corona?
Memang ada juga yang meninggal karena kecelakaan, satu lagi dinyatakan meninggal karena stroke. Belum lagi, para kakek-nenek murid yang usianya sudah menginjak 70 hingga 90-an tahun. Ya, mungkin tahun ini jumlahnya lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Lalu, apa yang aneh dengan kematian demi kematian yang dialami makhluk hidup, termasuk manusia seperti kita? Barangkali di tempat lain juga mengalami hal yang sama pada tahun ini?
Suatu hari, saya mengajak anak-anak berdiskusi di sekitar rerumputan halaman sekolah, meski sebagian protes perihal matinya rumput-rumput itu jika diduduki. Mereka bertanya pada saya, apa yang terjadi dengan makhluk hidup setelah kematian? Ke mana perginya ikan hias, pohon-pohon, anak anjing, anak Somalia, hingga orang tua dan kakek-nenek mereka?
“Mereka akan hidup di dunia lain, yang disebut negeri akhirat,” ujar saya.
“Tapi, di manakah negeri akhirat itu? Apakah di venus, markurius, pluto ataukah mars?” pertanyaan mereka mengebor terus.
“Hanya Tuhan yang tahu,” jawab saya singkat.
“Mengapa Tuhan menciptakan kita, sementara kita semua tak diberitahu maksud penciptaan-Nya?”
“Kita hanya diperintahkan untuk melakukan kebaikan, agar kita selamat dan bahagia di dunia dan akhirat nanti.”
“Mengapa kita disuruh melakukan apa-apa yang Dia perintahkan, sementara kita tidak meminta lahir dan ada di muka bumi ini?”
“Karena itu yang terbaik bagi kita.”
“Terbaik bagi kita atau bagi Tuhan?”
“Bagi kita dan bagi Tuhan?”
“Berarti kita juga punya hak untuk melakukan yang terbaik menurut kita?”
“Silakan saja, tapi sesuatu yang terbaik menurut kita, belum tentu yang terbaik menurut Tuhan.”
“Berarti yang buruk menurut kita, belum tentu juga buruk menurut Tuhan?”
“Ya, tepat sekali. Boleh jadi kematian ikan hias itu buruk menurut kita, seperti kematian-kematian lainnya yang membuat kita merasa sedih. Tapi, semua kejadian itu bagaimana pun adalah yang terbaik menurut Tuhan. Jadi, kita sebagai makhluk hanya bisa berusaha seoptimal mungkin, kemudian pasrah dan sabar. Sebab, Tuhan sangat mencintai hamba-hamba-Nya yang bersabar.”
Anak-anak saling terdiam dan merenung. Saya berharap mereka mengerti apa-apa yang dibicarakan dalam diskusi itu, meski sebagian masih bertanya-tanya kebenarannya. Mungkin dibutuhkan waktu agar mereka matang kedewasaannya, hingga pada waktunya nanti mereka akan dapat memahami apa yang disebut kesabaran dan kepasrahan diri pada kebesaran dan keagungan Tuhan. (*)
Oleh: Supadilah Iskandar / Pengamat sastra milenial, menulis prosa, puisi dan esai sastra di berbagai media nasional, luring dan daring







