Menganalisis Puisi-Puisi Sitor Situmorang

oleh -1814 Dilihat
banner 468x60

Kualitas sastra yang digoreskan Sitor Situmorang bukanlah hasil konstruksi pikiran yang banyak mengadopsi gaya penulisan Barat. Tetapi, penulisnya cukup fasih bicara tentang perpolitikan negeri ini, seakan-akan berburu kekuasaan yang selama ini dianggap “kenikmatan” hanyalah dagelan semu dan kamuflase belaka. Bukan semata-mata karya puisi tentang petualangan cinta terlarang yang dari kodratnya bersifat “kegenitan”, hanya produk dari kehendak pasar kapitalisme belaka.

Karya puisi Sitor seakan sanggup berdiri untuk meneropong, memantau suasana lapangan, lalu bersikap independen untuk membongkar memori kolektif, serta meneropong kedunguan kaum politisi di sekitar kita. Sepertinya ia menolak konsep sastra yang boleh menulis sebebas-bebasnya, bahkan seliar-liarnya. Sitor juga menolak jenis kesusastraan tertentu yang mengumbar syahwat erotisme belaka, meskipun sah-sah saja untuk tampil ke permukaan, namun karya semacam itu tidak membawa efek yang positif bagi pesan-pesan universalitas maupun religiusitas.

Sitor seakan menyadari betul bahwa konsep berkarya untuk kemaslahatan, berarti memberi edukasi kepada ribuan dan jutaan pembaca. Untuk itu, penyair Afrizal Malna pernah menyatakan, bahwa karya tulis yang lahir dari dasar hati, hanya akan dinikmati oleh pembaca yang membuka mata-hatinya.

Dapat dibenarkan refleksi karya tulis semacam itu, sehaluan dengan ungkapan filosofis dari orang-orang bijak bahwa setiap ilmu yang keluar dari pikiran manusia mengandung hikmah, tetapi ada ilmu tertentu yang hikmahnya hanya dapat terbaca oleh manusia tertentu. Tidak dibuka untuk masyarakat umum, kecuali bila masyarakat umum tersebut sudah mulai membuka mata-hatinya.

Melalui pesan-pesan puitisnya, Sitor Situmorang mengajak semua pihak agar berhati-hati memasuki lubang dan galian perpolitikan negeri ini, apalagi mereka yang sampai tega mempraktekkan politik kotor. Kualitas puisinya bukanlah sejenis syair guyonan badut atau lawakan masa kanak-kanak. Karena di dalamnya mengungkap secara genuine para politisi yang berjiwa polos, pelongo, hanya berfungsi sebagai bebek-bebek piaraan, yang apabila tidak diingatkan oleh rambu-rambu moral dan religiusitas, mereka akan terjerembab terjun dalam kancah lembah hitam yang membuat politisi itu terperangkap ke dalam jaring-jaring ciptaannya sendiri. Coba perhatikan bait-bait puisi berikut ini:

Apa yang tak dapat kauhancurkan

Apa yang tak dapat kauhancurkan
dengan tangan,

Hancurkanlah dengan sajak, dengan demikian kau membangun lagi dindingnya waktu.

Sumber: "Dinding Waktu" (Budaya Jaya, 1976)

Goresan penanya kadang mampu menjebol mental priyai yang sangat kental di ranah politik Indonesia akhir-akhir ini. Kadang ia menyindir kalangan muda-mudi yang ikut terbelenggu oligarki dinasti kekuasaan, layaknya barisan shaf dalam pelaksanaan solat.

Karya-karya Sitor seakan sanggup menarik benang-benang merah keseharian manusia Indonesia melalui mata batin penulisnya. Hampir sehaluan dengan karya-karya Nirwan Dewanto, yang memiliki tarikan nafas panjang seperti dalam karya prosa Syed Waliullah (Bangladesh) dalam karya “Pohon Tanpa Akar”. Karya-karya bernuansa langgeng dan abadi seperti itu mestinya dihayati dan dijiwai oleh mereka yang juga sanggup membuka mata batinnya.

Di abad transformasi sosial ini, perbedaan karya puisi maupun esai dianggap melebur dan menyatu, perbedaan utamanya hanyalah soal teknis pengungkapan saja. Kini, dunia sastra tak terlampau membatasi diri dalam penceritaan suatu riwayat yang dikarang, tetapi sekaligus mengartikan realitas kehidupan, serta menyoroti kebudayaan dan kelembagaan, membandingkan citra dunia dengan tetap memanfaatkan simbol dan alegori. Kualitas puisi Sitor Situmorang maupun Subagio Sastrowardoyo yang berdaya imajinasi tinggi, seumumnya melampaui sekat-sekat kesukuan, keagamaan, bahkan sekat primordialisme dalam jabatan dan profesi tertentu. Untuk itu, karya-karya mereka cenderung filosofis, hingga karakteristik seniman maupun budayawan seringkali menjadi bagian dari garapan karya-karyanya juga.

Memang ada sinyal pewartaan di saat penyair melontarkan pertanyaan yang bersifat esaistik, dengan balutan filsafat dan religiusitas tinggi. Tetapi, tidak ada kepentingan lain yang bersifat tendensius, apalagi sampai menyudutkan profesi seniman tertentu. Sama sekali tidak. Sitor justru ingin melontarkan gugatan perihal manusia Indonesia modern yang menghadapi krisis eksistensial, di mana penguasa bertanggungjawab untuk menciptakan tatanan sistem yang mengkerdilkan daya imajinasi masyarakatnya. Apa yang tak dapat kauhancurkan / dengan tangan, / Hancurkanlah dengan sajak.

Dalam konteks ini, seorang penyair seperti Sitor, Afrizal maupun Nirwan, biasanya mampu melahirkan karya-karya yang melawan ruang dan waktu. Karena bagaimanapun, sang penulis adalah salah satu bagian yang termasuk dalam sistem tersebut. Di tengah situasi terjepit, kelaparan, tetapi hidup harus terus dijalani, karena mereka sendirilah yang mengalaminya secara konkret, khas dan kadang-kadang tidak berlaku umum.

Seringkali kita melihat kegelisahan para penyair, justru dikarenakan terlampau cerdas dan jujur dengan realitas keseharian, bahkan tentang pengolahan ruang-waktunya. Kadang mereka sulit menemukan koneksi dengan sakralitas ajaran agama, tetapi justru lebih banyak bertanya, atau bahkan menggugat, bagaimana mungkin manusia memilihteks-teks ajaran agama daripada perikemanusiaan, pada saat ajaran itu menuntut kita agar selalu taat dan tunduk tanpa reserve, sementara seorang penganut agama tak pernah
diarahkan menjadi cerdas dan dewasa.

Di sinilah dakwah-dakwah Sitor Situmorang melalui bait-bait puisinya. Ia seakan menggugat, betapa debat-debat kusir tentang khilafiyah, soal nasab dan sanad, anak biologis dan ideologis, dianggap sama sekali tak mampu menembus wilayah esoterik yang merupakan inti dan esensi iman yang mendewasakan. Sikap agamawan seperti itu kadang mengaburkan nilai-nilai humanitas, seakan menjebak masyarakat pada pendangkalan berpikir. Masyarakat merasa sulit melepasakan diri dari kotak dan sekat primordialisme, sulit menyibak kabut-kabut untuk menembus pengertian sastra, yang dari
kodratnya memang sanggup untuk menembus ketinggian langit.

Penyair dan sastrawan seperti Sitor, Subagio, maupun Nirwan, yang ketiganya mampu berpikir kritis, tajam, dan kreatif, tergolong warga negara yang langka dan unik. Mereka mampu menciptakan gagasan di luar kebiasaan-kebiasaan yang ada. Beda dengan kebanyakan orang yang senangnya berpikir di dalam kotak (In of the Box). Kebanyakan lebih suka menjadi pengikut sesuai standar, tidak suka pada yang aneh dan langka. Yang penting dikerjakan sesuai dengan apa yang tersurat dalam proposal sastra belaka.

Puisi-puisi Sitor yang monumental, jelas bukan sekelas sastra yang rujukannya paling banter soal kisah Malin Kundang yang durhaka lalu dikutuk jadi batu. Bukan sejenis penggambar tentang dua gunung yang di bawahnya ada sawah, terus muncul matahari pagi di antara kedua gunung tersebut.

Terkait dengan ini, Albert Einstein pernah menyatakan, bahwa suatu permasalahan tidak akan pernah dipecahkan jika kita menggunakan pola pikir yang sama ketika masalah itu diciptakan. Artinya, perubahan itu suatu keniscayaan, karenanya dituntut berinovasi dan berkembang dengan segala masalah yang tidak mungkin diperbarui dengan cara-cara lama. Itulah yang membuat karya-karya Sitor layak digolongkan sebagai karya sastra bagi keabadian. Saat ini, generasi milenial telah melejit melampaui era agraria dan industri, dan karya-karya Sitor tetap eksis dalam genangan analisis mereka.   

Tidak sedikit kritikus sastra milenial yang menjuluki puisi-puisi Sitor sebagai karya yang melampaui zamannya, ia sanggup berimajinasi dan berpikir out of the box.

Selama era Orde Baru, banyak penulis yang hanya dipersiapkan untuk menjadi tenaga kerja para pemilik modal, kemudian menjadi karyawan dan pegawai belaka. Siklus ini terus bergulir dan menggelinding kembali dalam suatu sistem yang sebenarnya telah dirancang jauh-jauh hari oleh negeri-negeri industri maju. Sehingga, diniscayakan langgengnya eksploitasi manusia lapisan-lapisan bawah oleh mereka yang berada di lapisan atas, tak terkecuali oligarki di tengah kaum sastrawan sendiri.

Banyak hasil penelitian generasi milenial yang membuktikan adanya oligarki di bidang sastra dan perbukuan selama 32 tahun kekuasaan militerisme Orde Baru. Para seniman dan sastrawan yang selama ini mengultuskan diri sebagai “senior” adalah bentuk oligarkis yang menghambat adanya benih-benih muda di bidang kesusastraan. Adalah naïf ketika para orang tua yang mestinya menjaga nilai-nilai ketimuran agar mendidik dan membimbing yang lebih muda, justru menganggap yang muda sebagai ancaman dan lawan tanding yang menjegal mereka.

Di sisi lain, kita pun sering mendengar hasil penelitian bahwa pendidikan-pendidikan tingkat tinggi pada jurusan bahasa dan sastra, sama sekali tidak menjamin kesuksesan seorang penulis maupun sastrawan. Masalahnya cukup jelas, bahwa pola pendidikan di banyak universitas hanya mempersiapkan anak-anak bangsa agar hidup di masa lalu, bukan di masa sekarang. Para mahasiswa tidak memiliki asupan nutrisi bagi otak dan pikirannya untuk bersikap kritis, inovatif, out of the box. Mereka merasa asing dengan gagasan-gagasan menarik, unik dan langka, seolah tak ingin menjadi sapi ungu yang hidup di tengah-tengah sapi putih.

Orang yang kekurangan nutrisi, tak mau melibatkan diri ke dalam hal-hal baru yang menantang. Tetapi, coba perhatikan karya-karya Sitor Situmorang, ia seakan tak mau berposisi selaku penumpang saja.Tetapi, sanggup mengemudi dan mengendalikannya, bahkan mencipta baru. Ia merasa tak puas melalui jalan yang itu-itu saja, atau mengunjungi tempat yang kurang menantang dan menginspirasi. Sementara, mereka yang berpikir in of the box tidak berani keluar dari tempurung sistem yang membelenggu. Cukup hanya dengan teori di atas kertas, tetapi tidak konsekuen menerapkannya ke dalam kehidupan nyata.

Hancurkanlah dengan sajak,/ dengan demikian kau / membangun lagi / dindingnya waktu. Pesan yang terkandung dalam puisi ini, seakan mengajak generasi muda untuk mencipta dan merombak status quo yang membelenggu.  Pada opini harian Kompas, “Agama Tanpa Akal dan Hati Nurani” (21 November 2018), disinyalir mengenai tokoh militer dan penguasa yang diibaratkan kaum radikalis dari penganut agama yang mempraktikkan ajaran sang induk semang kepada para bawahannya. Apa-apa yang diperintahkan atasan harus ditaati, tanpa ada pertimbangan baik maupun buruk.

Puisi-puisi Sitor membangun kesadaran kolektif, bahwa rakyat tak boleh menjadi domba-domba yang digiring oleh sang penggembala, dan mereka seakan hanya patuh dan taat meskipun dijebloskan ke dalam lubang sumur yang banyak buayanya.Pada prinsipnya, kajian-kajian yang mendalam tentang karya-karya Sitor Situmorang masih terus menggelinding, sebagaimana kajian serius pada puisi-puisi Ahmadun maupun Sutardji. Nilai keabadian pada puisi-puisi mereka berbanding lurus dengan buah pena Chairil Anwar maupun Subagio Sastrowardoyo yang akan terus dikenang sepanjang masa. ***

Oleh: Muhamad Muckhlisin

Penulis adalah Pegiat sastra milenial, juga pemenang pertama lomba cerpen nasional yang diselenggarakan Harian Rakyat Sumbar 2017

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.