Pada ‘Tarikan Terakhir’ di Hadapan Sang Bapak

oleh -148 Dilihat
banner 468x60

[Memoar untuk Yoseph Bluta Hadjon, Sahabat Seperjuanganku]

Ada kematian yang datang seperti gempa. Tanpa aba-aba. Merobek tanah pijakan, lalu meninggalkan kita terpaku di antara reruntuhan kata-kata yang belum sempat terucap. Namun ada pula kematian yang datang seperti kalimat terakhir dalam sebuah riwayat hidup. Dituturkan perlahan, dengan napas yang kian menipis, lalu titik. Titik yang tak pernah kita sangka akan jatuh tepat di ujung lidah sendiri. Oncu Yos memilih atau barangkali takdir memilihkan untuknya!

Selasa, 11 Agustus 2026, sekitar pukul empat sore waktu Wita, Yoseph Bluta Hadjon membacakan riwayat hidup bapaknya, Lambertus Tulen Hadjon, di hadapan jenazah sang ayah. Ia mengisahkan tahun-tahun yang telah dilalui ‘kekasihnya’ itu. Ia merangkai nama-nama, tanggal-tanggal, suka dan duka seorang bapak dalam untaian kalimat yang hanya bisa ditulis oleh seorang anak yang mencintai. Dan menjelang akhir pembacaan itu, tubuhnya akhirnya menyerah. Oncu terjatuh. Pergi. Selamanya. Di hadapan jenazah Sang Bapak.

Saya menulis kisah ini dengan tangan yang masih gemetar. Dengan dada yang masih sesak oleh kesedihan yang membuncah, yang tak menemukan muara. Sahabatku telah pergi, dan ia pergi dengan cara yang bahkan seorang filsuf paling muram pun akan menyebutnya terlalu simetris, untuk menjadi kebetulan.

Larantuka, 15 Desember 1977. Seorang bayi laki-laki lahir ke dunia yang kelak akan terus-menerus mengujinya dengan getaran-getaran. Namanya Yoseph Bluta Hadjon. Ia buah kasih bungsu dari Bapak Lambertus Tulen Hadjon dan Mama Maria Getrudis Letor. Namun bagi kami yang pernah tumbuh bersamanya, ia adalah ‘Oncu Yos’, sebuah nama yang mengandung kehangatan, yang membuat siapa pun merasa dipanggil pulang.

Tahun 1993, Oncu melangkahkan kaki ke Seminari San Dominggo Hokeng. Flores baru saja diguncang gempa bumi yang memorak-porandakan tanah dan jiwa. Sebagian kami masuk ke seminari itu dengan pengalaman derita dan luka yang masih basah, dengan debu reruntuhan yang masih melekat di seragam putih kami. Tidur di barak. Berbagi selimut tipis. Mendengar suara angin malam yang menyelinap di celah-celah dinding darurat.

Kami, dan saya tekankan kata kami di sini, sebab aku ada di sana, di barak yang sama, menikmati suasana pasca gempa. Menikmati. Ya, kata itu bukan ironi. Dalam keterbatasan itu tumbuh semacam ‘filsafat kecil’ yang tak tertulis di buku mana pun. Bahwa manusia mampu membangun makna justru ketika segala kemegahan telah diruntuhkan. Bahwa persaudaraan paling sejati lahir bukan di ruang-ruang nyaman, melainkan di barak-barak darurat tempat kita belajar bahwa tubuh yang menggigil membutuhkan tubuh lain untuk menghangatkannya.

Oncu memahami filsafat barak itu. Ia menghidupinya. Dan mungkin, tanpa ia sadari, filsafat itu pula yang kelak menuntun setiap pilihan hidupnya, termasuk pilihan untuk tidak melanjutkan jalan imamat.

Tahun 2000, setelah Novisiat SVD di Nenuk, Oncu masuk Sekolah Tinggi Filsafat Katolik di Ledalero (STFK Ledalero). Ia duduk di bangku yang sama dengan para calon imam, membaca Aristoteles dan Thomas Aquinas, bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan tentang ada dan ketiadaan, tentang makna dan absurditas. Tentang epistemology dan metafisika. Namun jalan hidupnya berbelok. Ia tidak melanjutkan ke jalan imamat.

Dan saya ingin berkata dengan tegas: keberanian untuk berbelok, untuk mengakui bahwa panggilan yang satu bukanlah panggilan yang satu-satunya, adalah keberanian filosofis yang langka. Kierkegaard menyebutnya ‘leap’, lompatan iman yang justru terjadi ketika seseorang memilih untuk tidak lagi mengikuti lintasan yang telah digariskan orang lain. Oncu melompat. Dan ia mendarat dengan kakinya sendiri, di tanahnya sendiri.

Dari Ledalero, Oncu melangkah ke dunia yang berbeda namun tak kalah filosofis: jurnalistik. Flores Pos menjadi rumahnya. Dan Kabupaten Lembata, ah, Lembata yang ia sebut sebagai tempat tugas terindah, menjadi kanvas tempat ia melukis kisah-kisah manusia.

Berdua, kami sering berdiskusi tentang karya-karya jurnalistiknya. Di suatu sore yang kini terasa seperti kenangan dari kehidupan lain, ia pernah berkata kepadaku bahwa tarikan penanya adalah tarikan antara fakta dan opini. Fakta sebagai tulang. Opini sebagai daging. Dan di antara keduanya, mengalir darah yang bernama empati. Ia tidak menulis berita saja. Ia merangkai kisah. Ia tidak melaporkan peristiwa. Ia menafsirkan kehidupan. SETIAP KALIMATNYA ADALAH SEBUAH HERMENEUTIKA KECIL, USAHA UNTUK MEMAHAMI, LALU MEMBUAT PEMBACA IKUT MEMAHAMI, LALU IKUT MERASAKAN.

Saya mengenang diskusi-diskusi itu dengan rindu yang perih. Rindu akan suara yang tak akan lagi kudengar. Rindu akan perdebatan kecil tentang apakah sebuah paragraf sudah cukup jujur, apakah sebuah metafora sudah cukup rendah hati untuk tidak mengkhianati fakta yang dibawanya.

Lalu datang masa ketika pena digantikan oleh mesin fotokopi. Ketika ruang redaksi bertukar menjadi kios kecil di samping rumah, di Waibalun, Larantuka. Fotokopi. Penjilidan. Rental komputer. Perkiosan.

Seorang sinis mungkin akan berkata bahwa ini adalah kemunduran. Namun saya, yang mengenal Oncu, melihat sebaliknya. Kios kecil itu adalah pernyataan filosofisnya yang paling jujur. Bahwa hidup tidak diukur dari panggung tempat kita berdiri, melainkan dari ketekunan tangan yang bekerja di atasnya. Bahwa memfotokopi selembar dokumen untuk seorang pelajar yang membutuhkan, menjilid sebuah skripsi untuk seorang mahasiswi yang gugup menunggu sidang. Semua itu adalah bentuk pelayanan yang tak kalah sucinya dari kotbah di mimbar.

Oncu menjadi wiraswasta dengan tangan yang sama yang pernah menggenggam pena jurnalis, dengan kepala yang sama yang pernah bergulat dengan filsafat di Ledalero. Dan ia melakukannya dengan martabat penuh. Tanpa keluhan. Tanpa rasa kurang. Kios kecil itu adalah ‘cave Plato’ yang telah ia tinggalkan. Bukan dengan mendongak ke matahari, melainkan dengan menunduk, melayani, satu lembar kertas pada satu waktu.

Di pekarangan rumahnya, Oncu merawat bunga-bunga bonsai. Tanaman-tanaman kecil yang dipaksa tua sebelum waktunya, yang dibentuk dengan kawat dan kesabaran, yang keindahan justru terletak pada ketidaksempurnaannya.

Saya percaya bahwa Oncu menemukan dirinya di antara bonsai-bonsai itu. Sebab, BONSAI ADALAH FILSAFAT YANG HIDUP. Bahwa keindahan tidak membutuhkan kemegahan, bahwa pertumbuhan bisa terjadi dalam keterbatasan, bahwa akar yang kuat tidak selalu membutuhkan tanah yang luas. Di tahun-tahun terakhir, ketika tubuhnya sakit-sakit sedikit-sedikit dan keadaan fisik mengancam untuk melumpuhkan semangatnya, Oncu tetap bekerja. Tetap merawat. Tetap menata kiosnya, tetap menyiram bonsainya, tetap bangun pagi seolah esok adalah janji yang harus ditepati.

Kerja kerasnya tak terhalangi oleh keadaan fisiknya. Dan itu, bagi saya, adalah keberanian eksistensial yang paling murni, meminjam bahasa Camus, ONCU MEMILIH UNTUK TERUS MENDORONG BATU KE PUNCAK BUKIT, MESKI TAHU BATU ITU AKAN MENGGELINDING KEMBALI. Ia memilih untuk tetap hidup dengan sepenuh-penuhnya, meski hidup terus-menerus mengujinya dengan getaran-getaran baru.

Dan kini kita tiba di Selasa itu. 11 Agustus 2026. Hari yang sama. Jam yang sama. Di satu upacara pemakaman, kisah pilu kembali tercipta.

Bapak Lambertus Tulen Hadjon telah berpulang. Dan Oncu, anak yang mengasihinya, berdiri di hadapan jenazah sang bapak untuk membacakan riwayat hidup. Ia mengisahkan kelahiran bapaknya. Masa muda. Perjuangan. Cinta. Keluarga. Ia merangkai seluruh hidup Sang Bapak dalam kata-kata, seperti seorang jurnalis merangkai berita, seperti seorang filsuf merangkai argumen, seperti seorang anak merangkai doa.

Dan di ujung riwayat itu, di ujung kalimat yang seharusnya menjadi penutup, yang seharusnya menjadi titik terakhir, ONCU SENDIRI YANG MENJADI TITIK ITU. Tubuhnya jatuh. Napasnya seakan berhenti. Riwayat sang bapak belum selesai dibacakan, namun riwayat sang anak telah menemukan paragraf terakhirnya.

Sebagai sahabat dekatnya, saya tidak tahu bagaimana menjelaskan ini tanpa terdengar mistis atau melodramatis. Namun izinkan saya berkata dengan kejujuran seorang sahabat. Ada sesuatu yang sangat purba dan sangat suci tentang kematian itu. Seorang anak yang mengisahkan hidup bapaknya, lalu menyerahkan hidupnya sendiri di tengah kisah itu. Seolah-olah Oncu berkata, tanpa kata-kata: PA TULEN, AKU TELAH MENCERITAKAN HIDUPMU. KINI IZINKAN AKU MELANJUTKAN PERJALANANKU BERSAMAMU.

Heidegger menulis bahwa kematian adalah kemungkinan paling otentik milik manusia. Die eigenste Möglichkeit. Kematian Oncu, di hadapan jenazah bapaknya, di tengah kalimat yang ia tuturkan dengan suara sendiri, adalah kematian yang paling otentik. Ia tidak mati dalam ketidaksadaran. Ia mati dalam tindakan mencintai. Ia mati dalam kata-kata. Ia mati sebagai dirinya sendiri: seorang anak, seorang pencerita, seorang lelaki yang menghabiskan hidupnya merangkai kisah-kisah orang lain hingga kisah terakhir yang ia rangkai adalah kisahnya sendiri, di atas jenazah ayahnya.

Ibu Murdina Hadjon Din, yang dinikahi Oncu pada 14 November 2007, kini berdiri di persimpangan dua duka. Dua puteri cantik jelita yang lahir dari cinta mereka kini harus belajar berjalan di dunia tanpa tangan seorang ayah.

Kepadamu bertiga, saya, seorang sahabat yang berdiri di barak yang sama tiga puluh tiga tahun silam, yang berdiskusi tentang pena dan kata di sore-sore yang telah menjadi kenangan, hanya bisa berkata: ONCU TELAH HIDUP DENGAN PENUH. PENUH DALAM KETERBATASAN. PENUH DALAM KESEDERHANAAN. PENUH DALAM CINTA YANG IA TANAM SEPERTI BONSAI DI PEKARANGAN RUMAHNYA: KECIL, TEKUN, NAMUN BERAKAR DALAM.

Dan kepada Oncu Yos, sahabat seperjuanganku, di manapun engkau kini berada bersama Bapak Lambertus: kios kecilmu akan kurindukan. Diskusi kita tentang isi berita Flores Pos akan kurindukan. Bunga-bunga bonsaimu akan kurindukan. Dan caramu pergi selamanya hari ini, cara yang begitu pilu, akan kukenang hingga napasku sendiri menemukan titik terakhirnya.

SELAMAT JALAN, ONCU. TITIK TERAKHIRMU TELAH JATUH. NAMUN KISAHMU, DI BENAK KAMI YANG MASIH HIDUP, TAK AKAN PERNAH SELESAI DIBACA.

Ende, 11 Agustus 2026
Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
(Sahabat Seperjuangan Josh Hadjon)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.