Oleh: Chudori Sukra Kami bergegas menuju desa Nameng, kabupaten Bandung, setelah mendengar laporan adanya penembakan kucing-kucing liar oleh Pak Parjo, seorang jenderal

Di sudut taman kota, ibu duduk termangu.Entah kagum atau bungkam dengan panoramaruang yang terlampau lapang. Semesta direkayasadengan aneka rasa dan juga cita

Sang pengembara yang berkelana bersama waktu. Sembari menebar rasa dalam tindakan nyata. Tak hanya dalam kata-kata, melainkan melayani dengan memberi makna. Ia

(Sebuah Drama Monolog tentang Lingkungan) Karakter: Seorang nelayan muda (bisa berusia 20-30an) dari desa Tabanio, Tanah Laut. (Panggil gelap. Sorot lampu perlahan

(Disarikan dari surat al-Humazah) Celaka bagi yang suka memaki dan mencela, yang tabiatnya menimbun harta dan gemar menghitung-hitung jumlahnya. Dia mengira harta kekayaannya

Di pelipis Sudrajat, luka kecil mengalirkan darah. Ditahannya tangis dan malu, diterimanya pukulan, tendangan, dan hardikan Gerobak es kuenya terdiam. Tangan-tangan negara

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.