Dulu kain sutra menyelimuti jiwa.Aurat tersembunyi bagai embun pagi.Kini angin meniup tabir yang rapuhtubuh suci telanjang di mata dunia. Bahu terbuka, paha

Di sudut taman kota, ibu duduk termangu.Entah kagum atau bungkam dengan panoramaruang yang terlampau lapang. Semesta direkayasadengan aneka rasa dan juga cita

Sang pengembara yang berkelana bersama waktu. Sembari menebar rasa dalam tindakan nyata. Tak hanya dalam kata-kata, melainkan melayani dengan memberi makna. Ia

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.