Nisa turun dari ranjangnya, melangkah pelan-pelan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih, lalu menaruhnya di atas meja di samping pembaringannya. Mukanya

Aku adalah secuil cahaya yang mengambang di antara dua dunia. Bersaput kesucian dari ilahi aku ialah ruh yang bahkan malaikatpun tak mengerti

“Hidup itu ada dalam genggaman waktu.Betapa sakitnya jika waktu mengeratkan genggaman pada hidup” September ini mengingatkanku pada perjuangan yang dipatahkan oleh dusta.

“Ada perlu apa?” tanya Herman dengan mata melotot, setelah ia membuka pintu. “Kiriman dari Ayah,” jawab Olif sambil menunduk. “Kamu siapa?” katanya

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.