Minggu, 3 November 2024 tengah malam puncak gunung Lewotobi Laki-laki kabupaten Flores Timur provinsi Nusa Tenggara Timur memancarkan percikan api, muntahan debu panas dan bebatuan yang menghujani desa-desa di lembah Hokeng dan Boru.
Meninggalkan luka dan duka mendalam, merenggut 9 nyawa manusia, korban luka-luka dan kerugian materiil yang tak terhitung nilainya.
Duka cita yang memantik perhatian dan kepedulian semua pihak dari berbagai penjuru dunia. Mereka hadir dalam berbagai bentuk perhatian untuk pemulihan tanggap darurat, ada pula yang hadir langsung memberikan belaian kasih kepada ribuan korban di tempat pengungsian.
Duka yang akan selalu dikenang agar tak terulang kelak, semua pihak perlu membangun kesadaran kebencanaan dengan mitigasi yang komprehensif agar bisa tinggal dan hidup bersama bencana bukan mati karenanya.
Bencana apapun tak bisa dihindari tetapi bisa diantisipasi agar mengurangi risiko dengan meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan tatkala terjadi bencana apapun bentuknya.
Terutama di daerah rawan bencana. Perlu membangun early warning system atau sistem peringatan dini, rumah tahan bencana, jalur evakuasi dan berbagai hal kebutuhan pokok lainnya saat tanggap darurat, minimal satu kali dua puluh empat jam setelah terjadi bencana.
Bercana terjadi karena bencana sebelumnya terlupakan, selalu menganggap baik-baik saja setelah situasi normal.
Pray for Flores Timur
(Tim Redaksi)







