Memahami Kegalauan Penyintas Lewotobi: Antara Eksodus atau Bertahan di Lembah Hokeng

oleh -2090 Dilihat
banner 468x60

BENCANA alam tidak hanya mengguncang tanah dan langit—ia juga mengguncang batin manusia. Demikianlah yang kini dirasakan para penyintas erupsi Gunung Lewotobi. Di tengah abu yang belum reda dan tanah yang masih panas oleh ketidakpastian, mereka bergulat dengan dua pilihan yang sama-sama berat: eksodus, meninggalkan kampung halaman yang diwariskan turun-temurun, atau bertahan dengan segala risiko di tanah Hokeng, tanah yang bagi mereka bukan sekadar tempat tinggal, melainkan identitas dan harga diri komunal.

Kita sering terburu-buru menilai mereka yang enggan mengungsi sebagai tidak patuh, atau terlalu terikat pada hal-hal duniawi. Namun, jika kita mencoba mendengarkan lebih dalam, akan terasa bahwa keputusan untuk bertahan bukan sekadar keras kepala. Ada nilai-nilai mendalam, bahkan sakral, yang membuat tanah itu lebih berarti dari sekadar tempat tinggal.

Bagi masyarakat di Hokeng, tanah bukan hanya tempat bercocok tanam. Ia adalah pusaka leluhur, tempat arwah moyang bersemayam, tempat adat dan ritus dijalankan. Dalam setiap batu, setiap pohon, dan setiap lekuk tanah, tersimpan jejak sejarah dan hubungan spiritual yang tidak bisa dipindahkan begitu saja. Tanah adalah roh komunitas.

Eksodus—pindah ke lokasi baru—seringkali berarti kehilangan jati diri kolektif. Di tempat baru, adat bisa hilang, struktur sosial bisa retak, dan rasa memiliki terhadap tanah bisa memudar. Maka, tidak heran bila sebagian besar penyintas mengalami kegalauan eksistensial: mengungsi berarti selamat secara fisik, tapi bisa “mati” secara budaya.

Di sisi lain, realita pengungsian juga tidak selalu menyambut dengan tangan terbuka. Banyak warga merasa tidak betah di tempat penampungan. Alasannya bukan hanya fasilitas yang minim, tapi juga karena rasa terasing. Tidak ada ladang untuk diolah, tidak ada gereja dengan lonceng yang akrab, tidak ada aroma kopi pagi hari dari tungku batu. Banyak yang merasa seperti orang asing di negeri sendiri.

Mereka rindu suara ayam jantan di pagi hari, bunyi lesung yang berpadu dengan suara anak-anak bermain di halaman rumah, dan sapaan hangat di jalan setapak yang sudah akrab sejak kecil. Semua itu tak tergantikan oleh barak darurat yang disusun rapi tetapi dingin.

Situasi ini seharusnya menjadi cermin bagi pemerintah daerah dan Gereja lokal. Jangan terburu-buru menyebut mereka “keras kepala” atau atribut negatif lainnya. Mungkin justru kita yang kurang sabar memahami luka dan nilai yang tak tampak.

Sudah waktunya pendekatan kebijakan tidak hanya berdasarkan peta risiko dan hitungan teknis, tetapi juga membuka ruang untuk kearifan lokal dan spiritualitas tempat. Dialog sejati adalah ketika negara dan rakyat saling mendengarkan—bukan hanya menunggu giliran bicara, tapi sungguh mencoba mengerti dari titik pandang yang berbeda.

Gereja pun diundang untuk lebih dari sekadar memfasilitasi logistik. Gereja dipanggil hadir sebagai penyembuh luka batin kolektif, sebagai pendamping rohani yang membantu umat menafsirkan penderitaan dalam terang iman—bukan sekadar mengajak “taat” tetapi juga mengakui kompleksitas batin manusia yang mencintai tanahnya dengan segenap jiwa.

Dalam setiap manusia ada kerinduan akan rumah. Bagi penyintas Lewotobi, rumah bukan hanya bangunan. Ia adalah relasi, ritus, batu nisan leluhur, nyanyian malam yang hanya bergema di lereng gunung itu. Maka, jika harus pindah, mereka perlu diyakinkan bahwa yang dibangun bukan hanya “hunian tetap”, tetapi rumah baru yang memungkinkan mereka menanam kembali harapan, memelihara adat, dan merajut hidup sebagai komunitas yang bermartabat. Tanpa itu, relokasi hanya akan menjadi pemindahan fisik yang memutus jiwa.

Relokasi bukan hanya soal pemindahan tempat tinggal, melainkan pemulihan kehidupan. Ia harus menyentuh dimensi sosial, budaya, ekonomi, dan spiritual secara bersamaan. Jika tidak, maka yang terjadi bukanlah transformasi, melainkan keterasingan baru yang memperpanjang penderitaan.

Lewotobi tidak hanya menguji kekuatan alam. Ia juga menguji kebijakan yang berempati, iman yang bertumbuh, dan solidaritas yang tak hanya hadir saat sirene darurat berbunyi. Memahami kegalauan penyintas berarti berani melambat, mendengar, dan menemani. Karena sesungguhnya, tugas kita bukan sekadar “menyelamatkan mereka dari gunung”, tapi menyertai mereka menata kembali hidup yang penuh makna di tengah reruntuhan harapan.

Tim Redaksi

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.