Laurens Tato: Etika, Pikiran dan Tanggung Jawab yang Tidak Selesai

oleh -1355 Dilihat
banner 468x60

Nama Laurens Tato kembali disebut di panggung nasional ketika Metro TV menganugerahkan Lifetime Achievement dalam ajang Journalist Day 2026. Dedikasi panjangnya dalam membangun tradisi editorial yang kuat di lingkungan Media Group tetap dihargai walaupun Laurens telah tiada. Ia dikenang sebagai penjaga integritas, pengolah argumentasi yang cermat, dan pembimbing bagi generasi jurnalis muda.

Tetapi memahami Laurens Tato secara utuh tidak cukup dengan menyebut penghargaan itu. Ia bukan sekadar penerima anugerah pascawafat. Ia adalah bagian dari sejarah pembentukan watak pers—baik di tingkat nasional maupun di Nusa Tenggara Timur.

Laurens lahir di Wekaseko, Nagekeo, Flores. Dari kampung kecil itu, ia menempuh pendidikan di Universitas Indonesia dan kemudian memasuki dunia jurnalistik profesional. Pada 1986 ia dipercaya oleh Surya Paloh untuk ikut merintis Harian Prioritas—sebuah media yang pada masanya dikenal dengan gaya editorial yang tegas dan analitis. Ia kemudian berkiprah lama di Media Indonesia, menjabat Wakil Pemimpin Redaksi serta anggota Dewan Redaksi Media Group.

Di ruang-ruang redaksi itulah Laurens membangun reputasinya sebagai pemikir yang bekerja melalui teks. Editorial baginya bukan luapan emosi redaksi, melainkan hasil olah nalar. Fakta harus utuh. Konteks harus jelas. Posisi harus argumentatif. Sejumlah kolega mengenangnya sebagai figur yang kuat dalam logika dan hati-hati dalam memilih diksi. Itu bukan pujian kosong. Itu adalah standar kerja.

Namun konteks Laurens tidak berhenti di Jakarta. Ia juga dikenal sebagai salah satu perintis Harian Victory News di Kupang. Ini penting dicatat. Sebab di sanalah terlihat bahwa ia memandang pers daerah bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai pilar demokrasi yang setara.

Pers daerah bekerja dalam medan yang berbeda. Hubungan sosial lebih dekat. Tekanan politik lebih terasa. Ketergantungan ekonomi lebih nyata. Dalam situasi seperti itu, integritas diuji secara langsung. Ketika media nasional berbicara tentang isu besar negara, media daerah bergulat dengan persoalan tanah adat, proyek pembangunan, konflik sumber daya, hingga birokrasi lokal yang berlapis-lapis relasi personal.

Keterlibatan Laurens dalam perintisan Victory News menunjukkan bahwa ia memahami satu hal mendasar: kualitas demokrasi nasional sangat ditentukan oleh kualitas diskursus di daerah. Jika ruang publik di daerah sehat, maka demokrasi memiliki fondasi yang kuat. Jika ruang publik di daerah rapuh, maka demokrasi nasional hanya berdiri di atas panggung.

Refleksi inilah yang seharusnya menjadi pusat pembacaan atas dirinya. Hari ini, dunia pers menghadapi tekanan yang berbeda. Kecepatan distribusi informasi, dominasi media sosial, dan logika algoritma mengubah cara berita dikonsumsi. Judul harus memancing klik. Opini sering didorong untuk tajam dalam emosi, bukan dalam argumentasi. Ruang verifikasi menyempit oleh tuntutan waktu.

Dalam kondisi seperti itu, warisan Laurens terasa justru semakin relevan. Ia datang dari tradisi cetak yang menuntut ketelitian. Kesalahan satu kata bisa mengubah makna. Satu paragraf editorial bisa memengaruhi persepsi publik. Ia bekerja dalam disiplin berpikir yang sabar.

Pertanyaannya bukan apakah kita mampu kembali ke masa lalu. Pertanyaannya adalah apakah kita masih menghargai kedalaman dalam kerja jurnalistik hari ini.

Laurens juga tidak berhenti sebagai jurnalis. Ia pernah mencoba masuk ke ruang politik dengan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif pada Pemilu 2014 dari Partai NasDem. Langkah itu menunjukkan bahwa ia melihat demokrasi bukan hanya sebagai objek pemberitaan, tetapi sebagai ruang partisipasi. Terlepas dari hasil politiknya, keputusan itu memperlihatkan bahwa ia tidak memisahkan secara kaku antara pikiran dan tindakan publik.

Di sisi lain, perjalanan itu juga mengingatkan kita bahwa batas antara jurnalisme dan politik selalu memerlukan kewaspadaan etik. Integritas adalah fondasi. Tanpa itu, kepercayaan publik runtuh. Di sinilah pentingnya reputasi yang dibangun bertahun-tahun—bukan demi jabatan, tetapi demi kredibilitas.

Bagi NTT, Laurens Tato adalah bukti bahwa dari Wekaseko—kampung yang juga melahirkan ilmuwan politik Daniel Dhakidae—lahir tradisi intelektual yang kuat. Dua figur dengan jalur berbeda, tetapi sama-sama memberi kontribusi pada kualitas diskursus nasional. Ini bukan soal kebanggaan sentimental. Ini soal potensi yang harus dirawat.

Budaya baca, tradisi diskusi, dan keberanian berpikir kritis tidak tumbuh dengan sendirinya. Ia dibentuk oleh sekolah, keluarga, media, dan ruang publik yang sehat. Jika media daerah tergoda menjadi sekadar saluran sensasi, maka generasi muda kehilangan contoh tentang bagaimana berpikir secara sistematis.

Penghargaan yang diberikan Metro TV hanyalah satu titik dalam perjalanan panjang itu. Yang jauh lebih penting adalah pertanyaan yang harus kita ajukan pada diri sendiri: apakah redaksi-redaksi kita hari ini masih menempatkan integritas sebagai prioritas? Apakah editorial kita lahir dari proses berpikir yang jernih atau dari tekanan arus opini sesaat? Apakah kita berani menahan diri untuk memverifikasi sebelum mempublikasikan?

Laurens Tato telah wafat pada 2017. Ia tidak lagi hadir untuk mengoreksi naskah atau memperdebatkan sudut pandang. Tetapi standar yang ia bangun tetap bisa dihidupkan. Integritas bukan warisan yang otomatis bertahan; ia harus diperbarui setiap hari melalui keputusan-keputusan kecil di ruang redaksi.

Mengingat Laurens secara utuh berarti melihatnya sebagai bagian dari proses panjang pembentukan karakter pers—nasional dan daerah. Ia adalah pengingat bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi teknis, tetapi kerja intelektual dan kerja moral. Dan kerja itu, sesungguhnya, belum selesai.

Tim Redaksi

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.