Dari Bello ke Kolhua: Literasi dari Pinggiran Kota

oleh -2239 Dilihat
banner 468x60

Ada harapan yang tumbuh diam-diam di pinggiran Kota Kupang. Di Kolhua dan Bello, dua komunitas gerejani yang bersahaja, sebuah langkah kecil tapi bermakna besar diambil: peluncuran dua Taman Bacaan Masyarakat (TBM)—TBM Asisi dan TBM Agustinus—yang menjadi penanda penting bahwa literasi adalah hak dasar setiap warga.

Diprakarsai oleh Paroki St. Fransiskus dari Assisi Kolhua dan Stasi Bello, dengan dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang serta perusahaan nasional Larissa Aesthetic Center, dua taman baca ini menjadi model kolaborasi yang jarang terjadi: antara Gereja, pemerintah, dan sektor swasta.

Peluncuran dua TBM ini bukan sekadar penambahan rak buku dan meja baca. Ini adalah pernyataan iman dan tanggung jawab sosial. Seperti dikatakan Pastor Paroki Kolhua, RD Longginus Bone (Romo Dus), gereja tidak hanya membina iman umat, tetapi juga memampukan mereka secara intelektual dan sosial. Gereja tidak berhenti di altar—ia hadir juga di ruang baca.

Langkah ini juga menunjukkan arah baru yang menggembirakan dari sektor swasta, dalam hal ini Larissa Aesthetic Center, yang tidak sekadar menjual produk kecantikan, tapi ikut mencerdaskan masyarakat dengan menyumbangkan buku, serta memberikan pelatihan keterampilan seperti pembuatan masker alami. Kontribusi seperti ini memperlihatkan bahwa dunia usaha pun bisa menjadi agen pembangunan manusia yang utuh.

Di tengah merosotnya minat baca dan naiknya gelombang informasi palsu, taman bacaan seperti ini menjadi benteng literasi komunitas. Ia membangun semangat belajar, menumbuhkan imajinasi anak-anak, dan menghidupkan diskusi antarwarga. TBM bukan perpustakaan mati, tapi ruang hidup di mana warga belajar bertumbuh bersama.

Kita mengapresiasi kehadiran Dinas Pendidikan Kota Kupang melalui Kadis Drs. Dumuliahi Djami, M.Si., yang secara langsung mendukung peluncuran ini. Dukungan pemerintah dibutuhkan agar taman bacaan ini tidak hanya berdiri, tapi juga bertahan dan berkembang. Tanpa anggaran, tanpa fasilitasi berkelanjutan, TBM hanya akan menjadi monumen niat baik yang cepat dilupakan.

Kita percaya, dari TBM kecil di Kolhua dan Bello inilah harapan besar bisa dimulai. Bila satu komunitas bisa, maka komunitas lain pun bisa menirunya. Literasi sejati lahir bukan dari proyek besar, tapi dari ketekunan orang-orang kecil yang mau berbagi obor pengetahuan. Kota Kupang, dan NTT secara luas, butuh lebih banyak cahaya semacam ini. Mari kita jaga agar nyala ini tidak padam.

Tim Redaksi

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.