Sejak berabad lalu, Timor sudah masuk dalam peta perdagangan dunia. Pedagang dari Cina, Jawa, Melayu datang membawa kain, besi, keramik, dan senjata. Mereka pulang membawa cendana, lilin lebah, madu, dan juga manusia yang dijadikan budak. Abad itu manusia mulai dianggap komoditas penting dari Timor.
Orang-orang dari Timor dijual ke Jawa, Malaka, Batavia, Banda, Dili, Makau, Mauritius, Réunion, Mozambique, dan Mombasa. Di tempat-tempat itu mereka dipaksa bekerja sebagai buruh, pelayan rumah tangga, pekerja seks, pekerja perkebunan, awak kapal, pekerja pelabuhan, dan sebagainya.
Pada abad ke-16, Portugis membangun pengaruh di Solor, Kupang, dan Dili. Bersama perdagangan cendana, mereka membuka jalur perdagangan manusia ke Dili dan Makau. Tawanan perang dibawa melewati Laut Sulawesi dan Laut Cina Selatan menuju Makau. Banyak perempuan dari Timor dijual sebagai pelayan rumah tangga atau pekerja seks. Tahun 1844 Belanda menangkap kapal Portugis yang membawa anak-anak dari Dili ke Makau untuk dijual kepada orang Cina.
Pada abad ke-17 dan ke-18, VOC memperbesar perdagangan manusia di Timor. Kupang dijadikan basis penting VOC. Orang-orang yang diperbudak dari Timor, Rote, Sawu, Solor, dan Sumba dikirim ke Batavia dan Banda. Di Batavia mereka dipakai untuk pekerjaan rumah tangga dan pelabuhan. Di Banda mereka dipaksa bekerja di perkebunan pala.
Perang lokal ikut memperbesar perdagangan itu. Tawanan perang dijual kepada VOC dan pedagang laut. Tahun 1756 Johannes Andreas Paravicini menyerang Landu di Rote dan membawa lebih dari seribu laki-laki, perempuan, dan anak-anak ke Batavia sebagai orang yang diperbudak. Sebagian diduga menjadi pekerja rumah tangga, pekerja seks, atau buruh kota.
Di laut, bajak laut dari Makassar, Bugis, Ende, dan Sulu menangkap orang di pesisir Timor lalu menjual mereka ke jaringan perdagangan Asia. Ende kemudian menjadi salah satu pusat perdagangan manusia di Nusa Tenggara.
Pada abad ke-19, jaringan perdagangan itu makin luas. Kapal-kapal Prancis membawa orang-orang yang diperbudak dari Timor dan Sumba ke Mauritius dan Réunion untuk bekerja di perkebunan tebu. Portugis juga menghubungkan Timor dengan Mozambique di Afrika. Orang-orang dari Timor masuk ke jaringan perdagangan tenaga kerja global yang menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa.
Awal abad ke-19, Inggris dan negara-negara Eropa mulai melarang perdagangan manusia. Belanda kemudian mengikuti. Tahun 1834 pemerintah kolonial Belanda mencatat ada 1.092 orang yang diperbudak di Timor. Jumlah itu kemudian menurun karena sebagian dibebaskan dan sebagian meninggal.
Tahun 1860 pemerintah Belanda resmi melarang perbudakan di Hindia Belanda. Tetapi perdagangan manusia tetap berlangsung lewat penculikan, utang, dan jalur perdagangan ilegal atau pasar gelap.
Disadur oleh Felix Nesi dari Timor Zone: Slave Trading Network from the Traditional Era to the Late Nineteenth-Century Dutch Colonial State,” karya Fanada Sholihah dkk dalam Jurnal Sejarah Citra Lekha (2022).








