Tinggal di Dalam Kasih Tuhan

oleh -225 Dilihat
banner 468x60

DALAM konteks kehidupan, kasih adalah kunci kebahagiaan seseorang. Pasangan suami isteri akan hidup bahagia jika saling mengasihi. Sebuah keluarga disebut keluarga bahagia karena anggota keluarganya saling mengasihi satu sama lain. Relasi dengan teman dan sahabat akan akur dan bahagia jika di dalamnya ada kasih. Hubungan antara atasan dan bawahan terlihat harmonis, karena ada kasih yang tercipta di dalamnya. Kasih mempunyai peran yang penting dan utama dalam sebuah relasi.

Injil Yohanes 15:9-17, menggambarkan pesan Yesus yang menekankan pada kasih. “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikian juga Aku telah mengasihi kamu. Tinggallah dalam KasihKu itu” (Yoh. 15:9). Yesus menunjukkan ikatan yang erat antara diriNya dan Bapa yakni kasih. Karena kasih, Yesus taat dan setia pada kehendak Bapa. Kasih yang diperoleh dari Bapa, dibagikan Yesus kepada murid-muridNya, kepada setiap orang yang percaya kepadaNya. Yesus mengasihi murid-muridNya dengan kasih yang sama, yang diterima dari Bapa. “Semuanya itu Kukatakan kepadamu supaya sukacitamu menjadi penuh” (Yoh.15:11) Kepenuhan sukacita para murid Yesus adalah tinggal di dalam kasihNya.

Yesus juga menyebut para muridNya sahabat, bukan hamba. Sahabat lebih erat daripada seorang teman, sahabat lebih dalam relasinya dari sekedar rekan kerja. Perintah saling mengasihi oleh Yesus, sudah diteladankanNya. Yesus telah taat dan setia pada Bapa dengan mengasihi manusia sampai mengorbankan diri di Salib. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatNya” (bdk. Yoh.15:14). Kasih yang dimaksudkan Yesus adalah kasih tanpa syarat, kasih yang tak terbatas, kasih yang membutuhkan pengorbanan, rela memberi diri untuk orang lain.

Kita semua, dipilih Yesus untuk meneruskan kasihNya. Kita semua yang percaya kepadaNya, dipanggil dan diutus untuk mengasihi satu sama lain sebagai sahabat. Di tengah dunia yang penuh dengan kepalsuan cinta, kita diutus untuk membagikan kasih yang tulus, kasih yang tanpa perhitungan untung rugi, kasih yang rela berkorban. Kita mungkin akan merasa berat untuk mengasihi orang asing atau yang tidak kita kenal. Kita bisa saja merasa enggan untuk mengasihi sesama yang tidak kita sukai. Tetapi ingatlah bahwa kita sudah terlebih dahulu dikasihi Tuhan. Kita sudah mengalami kasihNya dengan cuma-cuma. Oleh karena itu kita pun harus berbuah dalam kasih kepada sesama.

Mari menghidupkan kasih yang diperintahkan Yesus kepada kita. Seperti jemaat perdana yang telah menghidupkan kasih dalam kebersamaan mereka. Mereka selalu berkumpul bersama, berdoa, saling berbagi di antara mereka. Mereka juga saling mendengarkan satu sama lain meskipun ada persoalan di antara mereka. Sidang Yerusalem dalam Kisah Para Rasul hari ini, (Kis. 15:7-21) membuktikan bahwa kasih menjadi dasar dalam kehidupan bersama jemaat perdana, mereka yang percaya kepada Yesus.

Mari menghayati dan mengamalkan perintah Yesus untuk mengasihi sebagai sahabat. Sahabat yang berjalan bersama dalam setiap situasi hidup, di dalam suka maupun duka, di dalam untung maupun malang. Mari menghayati kasih dengan saling mendengarkan satu sama lain, saling mendukung dan melengkapi kekurangan, baik di dalam keluarga, komunitas maupun di tengah-tengah masyarakat kita.

Mari mengasihi dengan tanpa batas, tanpa membangun tembok pemisah. Dengan mengasihi satu sama lain, kita telah menuntun sesama kita untuk mengenal dan mengalami Yesus. Di mana ada kasih, di situ Tuhan hadir.

Renungan Hari Kamis, 7 Meil 2026

Oleh: Magdalena Hokor

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.