Tiga Orang Majus Mewakili Segala Bangsa Bertemu Yesus

oleh -3593 Dilihat
banner 468x60

Suatu ketika, teman saya ditanyai demikian: “Apakah kamu percaya Tuhan?”. Terhadap pertanyaan sederhana ini, teman saya Cuma menjawab: “Hanya orang bodoh dan keras kepala yang tidak percaya Tuhan. Tuhan tampil di dalam setiap jengkal kehidupan. Ia hadir di setiap detak jantung, aliran darah dan denyut paru setiap mahluk. Kita hanya perlu sungguh mencari, serta menyadarinya disini dan saat ini. Tuhan bisa ditemukan dalam dirimu. Tuhan juga dapat ditemukan dalam diri saya. Ia tidak jauh. Asalkan saja kita mau cukup jeli menyadari apa yang ada di depan hidup dan mata kita sendiri.  Setelah pemahaman ini, kita lalu dipanggil untuk menolong semua mahluk dari saat ke saat.”

Hari ini, Gereja Katolik sedunia merayakan pesta penampakkan Tuhan. Di dalam tradisi Gereja, pesta ini juga sekaligus memperingati kedatangan orang-orang Majus dari Timur atau kadang kala disebut Tiga Raja, yang mengunjungi Yesus yang baru saja lahir. Ini sekaligus menjadi tanda ditunjukkannya Bayi Yesus Kristus kepada orang Yahudi maupun di luar bangsa Yahudi (berarti seluruh dunia) sebagai Anak Allah. Dengan merayakan pesta penampakkan Tuhan, kita diingatkan tentang tujuan hidup ini, yakni untuk mengalami Tuhan. Karena dengan ini, kita menemukan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan semacam ini tidak berubah-ubah. Ia tidak terganggu oleh perubahan keadaan dunia. Sadar atau tidak, kita merindukan Tuhan. Tuhan itu seperti rumah sejati kita. Kita betah, ketika memasukinya. Kita menemukan kedamaian yang sesungguhnya.

Bacaan-bacaan suci yang hari ini diperdengarkan kepada kita, terkhususnya bacaan Injil menampilkan kepada kita tentang bagaimana tiga orang majus dari timur datang hanya untuk mencari Yesus yang telah lahir. Ada dua hal yang sekiranya menjadi pokok permenungan kita di hari minggu pesta penampakkan Tuhan ini.

Pertama, “datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya, dimanakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Sebab kami telah melihat bintangNya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia”. Orang-orang majus yang datang dari Timur mewakili segala bangsa yang pada akhir injil akan menjadi medan misi Para Rasul. Mereka bisa saja imam-imam agama Persia, ataupun juga ahli-ahli bintang Babel. Dalam tradisi Kristen kemudian, mereka akan digambarkan sebagai raja-raja, “tiga raja” karena adanya tiga jenis persembahan yang mereka bawa (yaitu emas, dupa dan mur; ketiga benda ini adalah kekayaan bangsa-bangsa dan mewakili rempah-rempah yang sangat dihargai di Timur Tengah Kuno). Orang Majus adalah mereka yang memiliki mata terangkat ke langit, namun kaki mereka berjalan di atas bumi, dan hati mereka tunduk dalam penyembahan.

Ketiga Orang Majus dari Timur ini – atau yang biasa kita sebut tiga raja – mengetahui tentang kelahiran Yesus melalui sebuah bintang. Bintang di sini sesungguhnya melambangkan terang dan tuntunan yang diberikan Allah untuk menarik mereka kepada diriNya. Di dunia kuno, cahaya di langit sering dikaitkan dengan kelahiran orang besar. Maka tak mengherankan para majus itu datang dan mencari “Raja Orang Yahudi”. Kalimat “Raja Orang Yahudi” yang dituliskan oleh Penginjil Matius ini mengandung makna mesianik. Kalimat ini akan muncul lagi di akhir Injil Matius: Yesus disebut sebagai Raja Orang Yahudi. Ia akan diselidiki oleh Pilatus, diolok-olok oleh serdadu Romawi dan digantungkan di Salib.

Sesampainya mereka di Bethlehem, mereka langsung sujud menyembah kea rah bayi Yesus. Artinya, mereka merebahkan diri seperti dilakukan di depan seorang raja atau sosok ilahi dan mencium kakinya, ujung jubahnya, atau tanah, sebagai sebuah ungkapan pengakuan tentang keagungan atau keilahiannya. Apa yang dilakukan oleh para majus dalam bacaan Injil ini juga menjadi penggenapan nubuat nabi Yesaya dalam bacaan pertama: “Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja menyongsong cahaya yang terbit bagimu.”

Kedua, pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan yang lain. Perjalanan untuk berjumpa dengan bayi Yesus adalah sebuah perjalanan yang berbahaya bagi para Majus, apalagi, setelah mereka berjumpa dengan Herodes. Maka, setelah berjumpa dengan bayi Yesus, para majus diperingatkan lewat mimpi dan pulang melalui jalan yang lain.

Dari kedua hal ini, apa yang dapat dibawa pulang untuk dunia dan kehidupan kita? Pertama, berusahalah untuk tetap memiliki kerinduan akan Tuhan dan selalu datang untuk mencariNya. Milikilah mata yang terangkat ke langit dan kaki yang berpijak di bumi seperti para majus. Orang Majus dipenuhi dengan kerinduan akan sesuatu yang tak terbatas, sehingga mereka menatap bintang-bintang di langit malam. Mereka tidak menghabiskan hidup mereka dengan menatap kaki mereka, mementingkan diri sendiri, terkurung oleh cakrawala duniawi, berjalan dengan susah payah dalam kepasrahan atau ratapan. Mereka mengangkat kepala tinggi-tinggi dan menantikan cahaya yang dapat menerangi makna hidup mereka, keselamatan yang terbit dari tempat yang tinggi.

Di sini kita melihat kunci untuk menemukan makna hidup kita yang sesungguhnya: jika kita tetap tertutup dalam batas-batas sempit hal-hal duniawi, jika kita menyia-nyiakan waktu, dengan kepala tertunduk, tersandera oleh kegagalan dan penyesalan kita; jika kita haus akan kekayaan dan kenyamanan duniawi daripada menjadi pencari kehidupan dan cinta, hidup kita perlahan-lahan kehilangan cahayaNya. Orang Majus, yang masih asing dan belum bertemu dengan Yesus, mengajarkan kita untuk mengarahkan pandangan ke tempat yang tinggi, mengangkat mata ke langit, karena pertolongan kita berasal dari Tuhan.

Orang-orang Majus tidak hanya menatap bintang-bintang dan benda-benda di angkasa; mereka juga berjalan di atas bumi. Bintang yang bersinar di langit mengutus mereka untuk menjelajahi jalan-jalan di dunia. Mengangkat pandangan mereka ke tempat yang tinggi, mereka diarahkan untuk menurunkan pandangan mereka ke dunia ini. Mencari Tuhan, mereka diarahkan untuk menemukan-Nya dalam diri manusia, dalam diri seorang Bayi yang terbaring di palungan. Karena di situlah Allah yang maha besar menyatakan diri-Nya: dalam diri yang kecil, yang tak terhingga.  Kita membutuhkan kebijaksanaan, kita membutuhkan bantuan Roh Kudus, untuk memahami kebesaran Allah.

Paus Benediktus XVI pernah berkata: “Ketika harapan sejati tidak ada, kebahagiaan dicari dalam kemabukan, dalam hal yang berlebihan, dalam hal yang berlebihan, dan kita menghancurkan diri kita sendiri dan dunia… Untuk alasan ini, kita membutuhkan orang-orang yang memelihara harapan besar dan dengan demikian memiliki keberanian besar: keberanian orang Majus, yang melakukan perjalanan panjang mengikuti bintang, dan dapat berlutut di hadapan seorang Anak dan mempersembahkan kepada-Nya hadiah-hadiah mereka yang berharga”.

Kedua, setelah berjumpa dengan Tuhan, maka jangan pulang lagi melalui jalan yang sama. Dalam kehidupan kita, ketika ada persoalan yang kita hadapi dan kita mencari Tuhan, maka Tuhan pasti akan membantu kita. Tetapi setelah semuanya selesai, jangan pulang lagi ke dalam kehidupan kita yang lama. Jalan pulang lagi melalui jalan yang sama. Pulanglah melalui jalan yang baru. Pulang untuk membangun kehidupan dengan cara yang baru, karena di jalan yang lama, kesulitan yang sama – yang telah terselesaikan berkat bantuan Tuhan – akan kita hadapi. Amin.  

Homili Hari Minggu Pesta Penampakan Tuhan

Bacaan I         : Yes 60: 1-6

Bacaan II       : Ef. 3: 2-3a. 5-6

Bacaan Injil   : Mat. 2: 1-12

Oleh: RD Rio Kanaf

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.